
Juara 1 Event FF Kerabat Sang Penulis Amatir
Duh, terbuat dari apakah hatiku ini? Tega menjatuhkan luka. Menggaruk wajahmu yang menyisa tangguh. Mencakar pori-porimu, lalu menusukkan dingin yang teramat bangsat. Kupenjarakan kau dan tujuh kerabatmu di balik jeruji yang kucipta dari air bening sewarna cermin.
Ya, kau tahu benar siapa aku bukan? Akulah hujan. Bukankah dulu kau sering merasukkan tubuh...ku ke dalam puisi-puisimu? Ke dalam sajak-sajakmu, juga roman dan cerita pendekmu? Lalu kini, aku menyiksamu. Duh, terbuat dari apakah hatiku ini?
"Ayo kawan, jangan menyerah!" Teriakmu fasih. Hampir saja teriakanmu membelah tubuhku. Tapi aku terlampau kuat. Kutubrukkan badanku, mengoyak atap tenda kemah yang sedang kau dirikan. Aku pun terpental. Limbung menghujam tanah. Ah, aku membuat sepatu bututmu semakin kumuh, terolesi tanah basah yang melumpur.
Aku tak habis pikir, mengapa kau dan tujuh pandu tangguh itu, tak juga membenciku. Padahal aku sudah menusuk kepala kalian dengan air serupa jarum yang ditumpahkan awan-awan bringas. Mengikat tubuh kalian dengan gigitan dingin yang pasi. Dan mengklimiskan jambulmu yang dulu menawan.
Lalu, kekasihku, petir, menyalak menebar teror. Mengaum menyambar ujung janur kelapa. Sekutuku, angin telah meninju dadamu hingga sesak menyiksa. Dan tanah yang menjelma lumpur, mengubur kakimu, sehingga kau serupa patung bernyawa. Tak bergerak. Ah, tak juga kau membenciku.
Hizbul Wathan, begitu kau kibarkan panji gagah menantang kebrutalanku. Teriakan "Allahuakbar," membahana, menusuk-nusuk telingaku. Meluluhkan kesombonganku. Tubuhku seketika bergetar. Tremor. Guncang. Tapi tak henti kutampar wajahmu memerah. Kau tak juga membenciku?
"Hujan, takkan mampu meremukkan tulang kita, kawan!" Sulut salah satu kerabatmu, "Bukankah hujan adalah anugerah?"
Hei! Apa-apaan ini? Ketika kebanyakan makhluk dari golongan kalian menamaiku musibah, kenapa kalian menyebutku anugerah? Bukankah aku sudah menyiksamu? Mengurungmu dengan jeruji tubuhku yang bening sewarna beling? Duh, terbuat dari apakah hatiku ini?
Maafkan aku, Prakoso! Sampaikan juga maafku untuk tujuh kerabat tangguhmu! Aku terpaksa memenjarakanmu. Menggaruk wajahmu yang tak menyerah. Kau tahu kenapa? Karena pawang hujan mengirimku kesini. Ia mengusirku dari tempatnya. Bedebah memang dia itu. Keparat! Tapi tak apa. Dengan begitu aku bisa melihat wajahmu dan tujuh kerabatmu yang tangguh.
Ah, jika saja aku manusia, sudah kunikahi kalian, Kerabat.
Jumlah kata : 333
*Ipung Arraffa
Thanks to HW Prakoso, Sang Penulis Amatir, d'Kerabat
Copy-Paste kode di bawah, untuk pasang banner ini....
untuk pilihan Banner lain, silakan Temans Klik di sini
Karya Ipung
- Banner n Blog Info (2)
- Based on True Story (2)
- buku (4)
- Cerpen (10)
- Essay (1)
- Fiksi Mini (1)
- FlashFiction (4)
- Lagu (1)
- Monolog (1)
- Motivasi (2)
- News n Info (2)
- novel (2)
- Photo (1)
- Puisi (5)
Rekomendasi Karya(4Download)
Gimana blog ini menurut kamu?
Senin, Desember 19, 2011
Jeruji Hujan
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
20.39
2
komentar
Label: Cerpen, FlashFiction
Kamis, Desember 08, 2011
Rindu yang Bersenyawa

Oleh Ipung Arraffa
(Flash Fiction terbaik sekaligus pemenang event FF with Komunitas Penulis Fiksi bulan November)
Kali ini aku kulai. Mungkin karena rindu. Atau menyepah raga. Sedang kau menangis. Kataku, kau adalah rindu, yang menabur nyawa.
Anakku, ini ibu, nak. Takkah kau tahu? Ibu merindumu.
Kau tetap menangis. Kenapa? Apakah karena kau tak mengenalku? Duh, anakku, ini ibu, nak. Sungguh. Ini ibu.
Jika kau tak percaya, akan kuberi bukti : ini ari-arimu masih menggantung di pintu rahimku. Darah dan nanah yang mengering, menggetah di selangkanganku. Keringat yang menjadi garam. Semua itu bukti, nak. Bahwa aku ibumu. Sungguh. Aku tak berdusta.
Tak adakah ayah bercerita tentang ibu? Padamu? Ah, ibu lupa, anakku. Ibu lupa bahwa kau tak punya ayah. Entah siapa ayahmu. Ibu tak tahu. Yang pasti, ia hanyalah lelaki bejat langgananku. Pemuja nafsu yang entah dimana adanya.
Lalu kau memandang geram ke arahku. Apakah kau marah? Tak percaya?
Baiklah. Terpaksa kutunjukkan bukti terakhir : Rindu.
Kubawakan rindu ini padamu. Rindu seorang perempuan bernama ibu. Rindu yang kuselipkan di ujung surga yang terbentang di bawah telapak kakiku. Jangan salah! Meskipun ibu pelacur, tapi ibu miliki surga untukmu. Surga penyelip rindu. Inilah rindu yang hanya dimiliki seorang ibu untuk anaknya. Rindu yang bersenyawa.
Kau tahu kenapa rindu ini bisa tercipta? Karena ibu rindu menyusuimu. Dulu, ibu belum sempat menyusuimu, nak. Kau tahu kenapa? Karena ibu keburu mati.
Ya, ibu mati beberapa detik setelah melahirkanmu. Makanya ibu gentayangan, membawa rindu. Untukmu.
Penulis : Ipung Arraffa
Judul : Rindu yang Bersenyawa
Jumlah kata : 222 (tidak termasuk judul)
Teruntuk Ibu
http://komunitaspenulisfiksi.blogspot.com/2011/12/pemenang-event-flash-fiction-with-kpf.html
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
20.30
0
komentar
Label: Cerpen, FlashFiction
Rabu, November 09, 2011
P E L A N G I T

Oleh Ipung Araffa
(Juara Harapan LMCR 2011 dan salah satu Cerpen dalam Buku Antologi LMCR 2011)
Seorang pria bersayap keemasan menghampiriku dengan tergesa. Wajahnya pucat penuh iba. Tangannya gemetar menakutkan. Dan giginya gemelutuk seperti orang kedinginan. Dengan matanya yang sayu dia menatapku sedalam nyanyian sufi yang menembus batas-batas cinta.
“Benarkah kau seseorang yang disebut-sebut oleh penduduk langit sebagai seorang penyair, wahai anak muda?”. Pria itu bertanya seperti orang kesurupan dengan getaran tangannya yang semakin tak bisa dikendalikan. Atau matanya yang nanar menusuk mata, hidung, tenggorokan hingga ujung kakiku.
Badanku ikut gemetar. Aku ketakutan.
“Ooooo.. Sungguh tak bisa ku percaya, selebritis dunia langit ini kini ku temui. Tak kah kau tahu anak muda? Para pelangit di negeri langit sana, banyak memperbincangkanmu. Semua acara infotainment negeri langit membahas gosip-gosip tentangmu, buku-buku mencetak biografimu. Catatan sejarah mencatat kehidupanmu. Obrolan-obrolan ringan di warung kopi menjelma menjadi seminar akbar yang mempresentasikan karya-karyamu. Penyair-penyair kacangan dunia langit banyak yang menjiplak maha karyamu. Puisi-puisimu menjadi bahan kajian para ilmuwan dan sastrawan penduduk langit. Wajahmu juga menghiasi sampul-sampul majalah dan baligo-baligo terbesar di seluruh pelosok kota langit. Para paparazzi pelangit tanpa kau sadari banyak mencuri gambar wajahmu, sepanjang pagi, siang, petang. Pada malam hari kau menjadi bahan breaking news dan menghiasi headline koran-koran terkemuka. Lagu-lagu pujaan terhadapmu selalu menempati urutan pertama dari deretan tangga lagu bergengsi. Film-film dan sinetron meniru alur hidupmu. Entah ada berapa nama jalan yang mengabadikan namamu.Para orang tua pun ikut-ikutan menamai bayi mereka yang baru lahir dengan namamu. Kau sungguh terkenal di antara penduduk langit, wahai anak muda. Sungguh!”
Dalam degupan jantung yang mentremorkan seluruh tubuhku, aku masih diam. Kali ini terheran-heran.
“Tak kah kau percaya, wahai anak muda? Sungguh, aku tak berdusta!”
Pria bersayap itu mengangkat kedua telapak tangannya ke arah langit. “Ooooo… Sungguh akan aku buktikan kebenaran kata-kataku ini anak muda. Akan kutunjukkan kehidupan langit yang mengagung-agungkanmu. Akan kubuktikan kebenaran para pelangit yang memuja-mujamu.”
Pria itu masih menatapku, kali ini dengan mata berbinar. Badanku semakin menciut ketakutan.
“Anak muda, akan ku lepas sebelah sayapku dan kupasang di punggung kirimu, lalu kita berpelukan sehingga sayap di punggung kananku dan di punggung kirimu mengepak-epak membawa kita terbang”.
Pria bersayap itu melepas sayap emas berkilauan di punggung kirinya. Terlihat beberapa bulu sayap yang berupa cahaya itu rontok saat sebuah hentakkan keras melepas tulang sayap dari punggung kiri pria itu. Ia tampak kesakitan, namun buru-buru bersikap biasa.
“Berikan punggung kirimu padaku wahai anak muda!” Sambil menyeringai menahan sakit, pria itu memutar tubuhku sehingga badanku berbalik arah membelakanginya.
Dalam hitungan detik sebuah hentakkan di punggung kiriku mampu mengguncang badan kurusku yang kerempeng.
Sejurus kemudian tulang punggungku terasa ngilu dan ubun-ubunku serasa meledak. Punggungku terasa panas dan kulitnya meleleh ditembus semacam tulang rawan dari pangkal sayap emas itu. Ya, pria sialan itu menancapkan sayap kirinya pada dinding punggungku yang kini meleleh. Punggungku serasa tersiram minyak goreng panas bersuhu tiga ratus derajat celcius.
Sekuat tenaga aku berteriak. Air mataku berhamburan menahan sakit. Kulitku melepuh. Bau daging terbakar yang seketika tercium itu tampaknya berasal dari daging punggungku yang kini setengah matang. Panas. Punggungku tampaknya terbakar hebat. Tapi tak ada api. Hanya sebilah sayap berkilauan yang cahayanya menyembur, mencakar-cakar mataku yang masih menangis kesakitan.
Pria itu menepuk pundakku, “Sudah selesai anak muda! Sekarang kau punya satu sayap, begitu juga aku. Maka kita akan bisa terbang hanya jika kita berpelukan. Untuk itu, rentangkanlah tanganmu wahai anak muda, lalu sayap kita akan menapaki tangga udara hingga mencapai negeri langit!”
Aku masih menyeringai menahan rasa sakit. Sisa-sisa panas di kulit punggungku masih terasa, ngilu di tulang punggungku juga masih merangkak di sepanjang tulang. Dan kepalaku masih pening. Tiba-tiba pria itu memeluk tubuhku dengan erat. Sial. Tubuh pria itu begitu dingin. Seperti es. Wajahku yang merah seketika berubah ungu. Sayapku mulai bergerak. Ajaib. Sayap yang menyilaukan mataku itu bergerak dengan sendirinya. Terkibas-kibas sehingga debu-debu dekat kaki kiriku beterbangan.
Dan… Ya ampun. Kakiku terangkat. Aku terbang. Aku terbang. Sandal jepitku yang butut hampir saja terlepas, saat kakiku mulai meninggalkan tanah. Untung jari-jariku sigap mengapit sandal bauku itu.
Badanku dan badan pria bersayap itu turun naik setiap kali sayap kami berkepak. Setiap kepakan, sayap itu menaikkan tubuh kami ke atas sekitar satu setengah kaki. Luar biasa. Gravitasi bumi kini tak ada apa-apanya bagiku. Aku terbang. Sulit kupercaya. Aku terbang.
Aku melihat ke arah tanah. Cahaya sayapku yang tadi menggaruk-garuk tanah, kini mulai berpendar. Sementara bulu-bulunya yang juga terbuat dari cahaya semakin berkepak hebat. Semakin sayapku berkepak, semakin jauh kakiku meninggalkan tanah.
Angin mulai memukuli tubuhku. Beberapa kumpulan asap putih pun ku tembus dengan meninggalkan rasa dingin yang menggerogot tulang. Tapi matahari masih memanggang kulit kepalaku sehingga bau rambutku yang sudah satu minggu tidak keramas menyengat hidungku. Kujatuhkan pandangan ke bawah sandal jepitku. Aku seperti melihat hamparan peta besar yang berbentuk cembung. Lalu tiba-tiba beberapa menit kemudian pandanganku mengabur. Nafasku tersengal. Hidungku panas. Paru-paruku kehabisan oksigen. Sial. Aku tak bisa bernafas. Tubuhku meronta-ronta meminta oksigen. Posisi terbang kami oleng. Pria itu kewalahan mempertahankan keseimbangan. Dalam hitungan detik pandanganku menggelap dan aku tak bisa melihat apa-apa. Otakku tak bisa berpikir. Bahkan hayalanku luntur seketika, menguap diantara cakaran-cakaran lapisan bumi yang satu per satu kutembus. Dan… ah aku tak ingat lagi.
*
“Eh dia sadar…!”
Kudengar suara seseorang dengan logat yang aneh ketika mataku mulai terbuka. Sebuah logat yang tak pernah kudengar di bumi.Pandanganku perlahan mulai menjelas dan menangkap puluhan tubuh kekar bersayap cahaya yang menyilaukan mengelilingiku. Dalam hati aku bertanya, apakah mereka yang disebut malaikat? Wajah mereka seperti bintang film: putih, bersih, bercahaya dan seperti habis facial.
Beberapa di antara mereka saling berbisik satu sama lain dengan pandangan terarah padaku, ada juga yang berkali-kali mengabadikanku dengan kamera foto telepon genggamnya. Aku selebritis. Ya, aku seperti selebritis, apalagi ketika salah satu di antara mereka ada yang menyorotkan kamera video Panasonic MD 10000 ke arahku, semakin membuat aku bangga. Ibu dan kelompok arisannya yang tak bisa lepas dari acara gosip pasti akan sangat bangga melihat aku ada di televisi. Mantan pacarku yang berengsek pasti akan menyesal telah selingkuh, setelah dia tahu bahwa aku sekarang menjadi seorang selebritis. Selebritis. SE…LE…BRITIS… hahahahahaha… Aku selebritis.
“Bagaimana anak muda? Kau sudah baikan?” Pria bersayap satu yang tadi mengajakku terbang itu menghampiriku. Sayapnya masih satu, padahal sayapnya yang ia pinjamkan sudah tak ada di punggung kiriku.
“Hmm…” Pria bersayap satu itu memberi isyarat agar kerumunan orang bersayap yang mengelilingiku segera keluar ruangan.
Lalu dengan tertib orang-orang bersayap menyilaukan itu membubarkan diri. Mereka keluar ruangan dengan binar mata bahagia yang masih terpaku memandangiku. Oh, aku benar-benar menjadi pujaan mereka. Aku selebritis mereka.
“Kami adalah Pelangit, sebuah makhluk yang tercipta dari manusia yang termutasi”. Pria bersayap satu itu mulai menjelaskan setelah ruangan benar-benar kosong dari orang-orang bersayap menyilaukan dan hanya ada aku dan dia.
“Pelangit?”
“Ya, Pelangit. Kami adalah mutan yang termutasi bukan karena radiasi, tekhnologi atau semacamnya. Kami termutasi karena hati dan pikiran kami. Menurut sejarah, dulu moyang kami adalah manusia yang sudah jengah dengan manusia kebanyakan yang hobinya membuat Tuhan palsu. Tuhan-tuhan tandingan yang mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Tuhannya yang sesungguhnya. Tuhan dalam berbagai bentuk. Tuhan dalam bentuk manusia, uang, kuasa dan cinta. Maka moyang kami banyak menyendiri. Menjauhkan diri dari manusia-manusia itu. Pikiran moyang kami yang ingin lepas dari manusia-manusia pembuat Tuhan palsu telah memutasi tubuh mereka menjadi semacam manusia bersayap cahaya. Lalu karena sudah tak tahan hidup di bumi, maka moyang kami mencari tempat baru, dan di sinilah tempat baru kami: Negeri Langit”.
“Omong kosong! Aku yakin, kau tak lebih dari seorang pembual!”. Aku bangkit dari tidurku.
“Bukankah aku sudah membuktikan kebenaran negeri langit yang mengagung-agungkanmu? Tidakkah itu cukup menjadi bukti bahwa aku bukan pembual?”
“Tapi ceritamu tentang pelangit, manusia yang termutasi itu tak masuk akal!”
“Lalu apakah masuk akal sayap cahaya yang kupinjamkan padamu? Apakah masuk akal saat kau kuajak terbang menembus lapisan-lapisan atmosfer bumi? Atau apakah masuk akal negeri langit yang kini kau berdiri di dalamnya?”
Aku diam. Tak mampu menjawab. Tak berkutik. Seperti pengecut, atau penyair tolol yang tak bisa berucap. Aku tak mengerti kenapa penyair tolol sepertiku mempunyai banyak penggemar dan menjadi idola di negeri ini. Semua ini memang tak masuk akal. Sungguh tak masuk akal. Semua ini adalah lelucon yang tak bisa terjelaskan dengan logika. Ataukah akalku memang reyot, yang tak mampu menjangkau kesungguhan yang nyata? Entahlah.
Lelaki sial itu kemudian mendekatiku. Senyumnya semakin menyebalkan.
“Kau ingin memiliki sayap seperti kami, anak muda?”. Dia berbisik. Bibirnya hampir saja menyentuh telinga kananku. Ah, menjijikkan. Aku meliriknya. “Kau bisa memiliki sayap seperti kami. Sayap kami tak seperti sayap malaikat, peri atau manusia bersayap seperti yang sering kalian ceritakan pada anak-anak kalian dalam dongeng murahan. Sayap kami bukanlah sayap angsa putih yang indah. Bukan juga sayap garuda yang gagah. Sayap kami hanya terbuat dari cahaya keemasan yang cukup sederhana. Cahaya yang tak bisa terjelaskan oleh hayalan kalian, manusia tengik”.
Aku tertunduk. Kali ini aku merasa lebih dari seorang pengecut.
“Kau akan terlihat gagah dengan sayap cahaya yang membentang di balik punggungmu. Akan lebih banyak pelangit yang memujamu. Kau akan semakin terkenal, anak muda. Percayalah!”
“Apa yang harus aku lakukan untuk dapat memiliki sayap cahaya itu?”
Pria itu mengembangkan senyum paling menjijikkan yang pernah kulihat. Sebuah senyum kemenangan.
“Oooooo… Wahai selebritis Negeri Langit yang kupuja, kau sungguh pemuda beruntung. Kau akan memiliki dua bilah sayap cahaya yang akan menyilaukan mata gadis-gadis pelangit yang perawan. Sungguh kaulah pemuda beruntung, hai anak muda!”
Cerewet sekali lelaki sial itu. Aku semakin tak sabar memiliki sayap itu.
“Untuk dapat memiliki sayap cahaya agung ini, kau hanya tinggal merelakan gendang telinga kananmu, bola mata kananmu, dan ujung lidahmu untuk kami rebus. Kemudian kau minum tiga perempat air rebusannya, maka dalam waktu tiga puluh empat hari, sayap cahaya itu akan tumbuh dari balik punggungmu. Lalu seperempat air rebusan sisanya, kau siramkan pada wajahmu yang berjerawat itu, maka wajahmu akan bercahaya seperti habis facial. Dan, kau akan dipuja-puja sebagai selebritis negeri langit yang tampan nan gagah, anak muda! Sungguh kenikmatan yang tak terbayangkan”.
“Hmmm…” Aku tersenyum kesat. “Aku setuju!” Jawabku penuh kemenangan. Sebuah kemenangan bagi umat manusia atas makhluk bernama pelangit.
Pria sialan itu kembali tersenyum. Sebuah senyum yang menurutnya sebagai senyum yang mewakili kemenangan pelangit atas manusia. Tapi bagiku, ini adalah kemenanganku. Kemenangan manusia, karena mereka akan termakan kata-kata mereka sendiri. Tanpa disadari, mereka akan membuat Tuhan palsu, tuhan dalam bentuk manusia, karena mereka memujaku.*
Jakarta, 18 Mei 2011
cerpen ini diposting juga di
http://lmcr.rayakultura.net/blog/pelangit/
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
18.24
0
komentar
Minggu, Desember 05, 2010
Cinta dan Tuhan yang Terlupakan
(Juara Favorit Lomba Menulis Cerpen Remaja [LMCR] Lip Ice - Selsun Awarad 2010 - Tingkat Nasional)
Ada saat dimana aku merasa semua orang yang dulu katanya sangat aku banggakan, kini hanya sebatas kumpulan alien asing yang sama sekali tak ku kenal. Bahkan orang-orang yang menurut mereka sangat mencintai akupun, kini tak lebih dari sekedar seorang figuran dalam hidupku yang mempunyai probabilitas nihil untuk meraih piala Oscar.
Sanjungan-sanjungan mereka mengenai kehebatanku dalam menulis puisi, essay, cerpen, roman dan novel, kini hanya menjadi sebuah sejarah palsu untukku. Sejarah yang seakan tak pernah terjadi sama sekali.
Lalu janji-janji yang katanya pernah ku umbar, kini hanya sebatas dongeng murahan pengantar mimpi para cecunguk.
Bukan hanya itu, bahkan nama Tuhan yang dulu susah payah dikenalkan seorang wanita tua—yang katanya ibuku, kini tak ku kenal lagi.
“Tuhan apa? Apa itu Tuhan? Siapa?” Tanyaku bodoh. Maka sejurus kemudian, wanita tua itu menampar ganas pipiku sebagai jawaban atas pertanyaan bejatku.
Mengerikan. Sangat mengerikan memang ketika aku harus kembali ke titik nol. Titik yang merampas semua database dalam otakku.
“Kecelakaan sialan itu merebutmu dariku La...”. Teriak seorang gadis cantik yang duduk lemah di atas kursi kayu tepat di samping kiriku. Air mata gadis itu mulai menerobos, mendobrak kebungkaman kelopak mata indahnya. Bibirnya bergetar puluhan scala richter, mengguncangkan kebekuan jutaan partikel yang menggentayangi wajah manisnya. Tubuhnya seperti tak bertulang. Sangat lemah. Melebihi lemahnya imanku yang sempat menguap tak bersisa.
“Kenapa La? Kenapa kamu diam saja? Kenapa?”
Mataku tak mampu memandangnya sedetikpun. Bukan hanya karena tak sanggup melihat kesedihan yang membungkus wajahnya, tapi juga karena memang aku tidak mempunyai jawaban untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
Bahkan aku mungkin tidak menyimak pertanyaannya itu, karena sejak tadi aku sibuk menggaris bawahi sepotong kata: "La" yang dilontarkan gadis itu. Dia memanggilku "La", karena aku tahu namaku Bala. Atau lebih tepatnya: karena aku baru tahu beberapa hari lalu bahwa namaku Bala. Ya, aku sempat lupa siapa namaku. Hingga wanita tua yang akhirnya kusebut Ibu itu mengenalkan aku pada diriku sendiri. Mengenalkan bahwa namaku Bala. Arbala Abdurrahman.
"Atau jangan-jangan kamu masih belum mengenalku La?" Gadis itu kembali bertanya kecewa. Sementara aku masih diam terbaring kaku di atas ranjang besi yang sudah berbau karat. Ranjang itu berdecit setiap kali gadis di sampingku menumpukan tangannya pada sisi ranjang saat memperbaiki posisi duduknya di atas kursi doyong.
“Aku Sissy, La. Tunanganmu”. Tangan gadis itu meremas jemari tanganku yang kaku. “Entah sudah berapa kali aku mengenalkan diri padamu. Berkali-kali aku berusaha membuatmu kembali mengenalku dengan harapan bisa membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Dan aku sudah kehilangan akal untuk membuatmu mengenalku apalagi membuatmu kembali jatuh cinta padaku. Semua cara sudah aku coba untuk membuatmu mengenalku. Tapi usahaku rupanya sia-sia belaka. Bahkan setiap kali aku bertanya padamu tentang apa yang bisa membuatmu mengenalku dan jatuh cinta lagi padaku, maka kamu selalu saja diam.
Lalu apalagi yang bisa membuatmu mengenalku kemudian jatuh cinta padaku?
Padahal aku sudah menulis puluhan puisi cinta untukmu yang dulu kamu ajari aku membuatnya, tapi aku lupa bahwa kamu sudah lupa bagaimana caranya membaca. Berkali-kali aku menyanyikan lagu cinta yang dulu kamu sering menghujatku karena suaraku fals tak karuan, tapi sial, aku lupa bahwa bibirmu sudah lupa bagaimana caranya bernyanyi. Sering sekali aku bercerita tentang mimpi-mimpi muluk masa depan yang dulu kamu paksa aku memilikinya, tapi aku lupa bahwa kamu ternyata sudah lupa mimpi-mimpimu sendiri. Bahkan sungguh aku tidak tahu, apakah saat ini kamu mempunyai mimpi atau tidak.
Aku lupa bahwa ternyata kamu lupa semuanya. Semuanya La. Bahwa kamu lupa pidato calon legislatif yang dulu kamu jadikan bahan guyonan. Bahwa kamu lupa karya ilmiahmu yang mensejajarkan antara primbon dan teori kekekalan energi. Bahwa kamu lupa kebiasaan burukmu yang selalu saja lupa hari ulang tahunmu sendiri. Bahwa kamu lupa jampi-jampi ajaib yang pernah kamu ajarkan padaku agar sakit gigiku sembuh. Bahwa kamu lupa dongeng-dongeng lucu yang sering kamu ceritakan setiap kali aku menangis. Kamu lupa semuanya, La...”. Gadis itu mulai memaksakan senyumnya. Senyum yang selepas apapun ia hadirkan namun ternyata tak mampu menanggalkan rasa sedih dari wajahnya yang terlalu manis untuk sebuah kesedihan.
“Kamu lupa bagaimana caranya kamu mencium bibirku yang sebenarnya tidak pernah kamu lakukan. Kamu lupa bagaimana caranya menghapus air mataku yang sebenarnya tak pernah kamu tunjukkan. Kamu juga lupa bagaimana caranya menyematkan hiasan di rambutku yang ternyata tak pernah kamu sematkan. Kamu lupa semuanya”.
Gadis itu tertunduk lemas. Ia menjatuhkan air matanya yang hangat di atas punggung tanganku yang tak mampu ia lepaskan dari genggamannya.
“Kecelakaan itu membuatmu melupakan semuanya La. Melupakan semua yang justru tak pernah bisa aku lupakan.
Tahukah kamu La? Setiap pagi, sebelum kamu terbangun dari tidur, aku selipkan sepucuk surat cinta di bawah bantal bolongmu dengan harapan kamu membacanya penuh iba, hingga akhirnya kamu kembali mencintaiku seperti dulu. Karena kamu tahu bahwa surat-surat itu berisikan tulisan yang sama, yaitu cerita tentang saat pertama kali kamu jatuh cinta padaku. Sebuah cerita yang menjabarkan kisah tentang segala sesuatu yang dulu membuatmu jatuh cinta padaku. Kisah yang tak pernah bisa aku lupakan, namun justru dengan kejam kamu lupakan.
Surat itu mengisahkan bagaimana pertemuan pertama kita yang tak pernah kita ketahui kapan waktunya. Pertemuan pertama yang tak seperti kisah dalam sinetron yang meninggalkan kesan begitu mendalam, karena pertemuan pertama kita hanyalah pertemuan dua orang anak kecil yang mengawali permainan petak umpet di halaman sekolah dasar. Dan tak seperti kisah-kisah dalam roman yang menjadikan tokohnya jatuh cinta pada pandangan pertama, maka cinta kita tumbuh apa adanya. Cinta yang tanpa kita sadari terjadi begitu saja. Cinta sederhana yang ditumbuhkan oleh waktu dan frekuensi bertemu. Bahkan jujur, aku tak menayadari datangnya cinta itu. Butuh waktu bertahun-tahun untukku menyimpulkan bahwa ternyata aku jatuh cinta padamu. Aku hanya menyadari bahwa ada rasa bahagia setiap kali aku mendengar suara motor bututmu yang memekakkan telinga. Maka hal itu kujadikan dasar bahwa ternyata aku jatuh cinta padamu. Ya, rasa bahagia setiap kali aku mendengar suara motor bututmu kujadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa aku jatuh cinta padamu.
Lalu surat itu pun mengisahkan bagaimana pertama kali kamu menyimpulkan bahwa kamu mencintai aku. Kamu yakin bahwa kamu mencintai aku setelah kamu diracuni ilmu primbon oleh tetanggamu yang berprofesi sebagai dukun sesat. Tak seperti dalam dongeng yang mengisahkan ungkapan cinta seorang kekasih untuk kekasihnya dalam suasana romantis, maka kamu mengungkapkan perasaanmu dalam suasana penuh mistis. Kamu menceritakan mimpimu yang dalam buku primbon berarti kamu telah menemukan pasangan hidupmu. Maka atas dasar ilmu primbonlah kamu yakin bahwa kamu mencintai aku”. Gadis itu kembali memaksakan senyumnya. Senyum sinis yang berusaha menyembunyikan kesedihannya.
“Kamu tahu hari ini adalah hari ketiga puluh sejak kecelakaan itu merenggut ingatanmu dariku, maka tiga puluh pucuk surat cinta itu pun tertumpuk di bawah bantal horormu yang dipenuhi gigitan tikus. Aku tidak tahu apakah surat-surat itu sudah kamu baca atau belum, yang aku tahu, bahwa setiap pagi aku selalu berusaha membuatmu jatuh cinta lagi padaku”. Air mata gadis itu kini membanjiri punggung tanganku. Setiap isak tangisnya adalah tusukan belati beracun yang sewaktu-waktu bisa membunuhku.
“Lalu apakah sebuah kesalahan jika aku mengemis suatu kenyataan dimana kamu mencintai aku lagi? Jawab La! Jawab! Jangan diam saja! Aku mohon! Jawab! Jawab La! Jawab…” Tangisnya semakin menjadi-jadi. Maka isakkannya yang serupa belati beracun itu tak henti mencabik setiap lapisan organ dalam hatiku. Ia merobek sisi rasionalku, lalu meruntuhkan hukum-hukum fisika yang selama ini menjamuri otakku.
Gadis cengeng itu menciumi punggung tanganku yang sudah basah sambil tak henti memohon seperti pengemis yang mengobral penderitaan. Air matanya tak terbendung hingga akhirnya dengan payah ia mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk lemas. Lagi-lagi ia memaksakan senyumnya yang hambar.
“Hmmmm... Aku lupa bahwa kamu sudah melupakan semuanya. Dan kamu lupa bagaimana caranya menjawab pertanyaan. Maka kamu hanya diam. Ya, hanya diam yang ternyata tidak kamu lupakan. Kamu masih hapal benar bagaimana caranya diam. Sialnya aku lupa bahwa kamu hanya bisa diam. Maafkan aku La, aku hanya ingin kamu mencintai aku. Lagi. Seperti dulu. Sebelum kamu melupakan aku. Itu saja!”.
Kalimatnya meruntuhkan setiap keangkuhan dan kesombonganku. Dengan sangat berat, pandanganku yang sejak awal terpaku pada atap rumahku yang bobrok, kini kualihkan ke arah wajah gadis itu yang meskipun melepaskan senyuman namun kesedihan masih saja membungkus wajahnya.
“Maaf La. Lagi-lagi aku lupa bahwa mencintai seseorang yang tidak kamu kenal sama sekali adalah sebuah kesulitan yang teramat sangat. Dan mengenalkan diriku padamu adalah sebuah kesulitan teramat sangat yang lain. Kesulitan yang berulang kali memaksa air mataku membanjiri punggung tanganmu. Apakah tak ada sepatah kata pun yang mengabarkan hal itu padamu? Maafkan aku La..”
Gadis itu menangis lagi. Dan aku diam lagi. Menutup mataku lagi.
Gelap mulai menghapus semua titik cahaya di setiap sudut mataku. Ia pun merobek garis-garis sinar di setiap tepian imajenasiku. Bahkan gelap tengah menyumpal kedua lubang telingaku, sehingga isak gadis itu pun raib di ujung pendengaranku. Semuanya lenyap dan aku tak ingat lagi. Semuanya sirna begitu saja. Hilang.
Ah, sial. Aku tak ingat lagi.
***
Gadis itu sudah tak ada di sampingku lagi ketika kubuka mata. Tak kudengar lagi isak tangisnya namun air matanya masih tergenang di atas punggung tanganku. Air mata itu seolah melelehkan kulit tanganku dan menjilati belulangku dengan rakus.
"Almarhum ayahmu, Le!" Seorang wanita tua yang sudah bungkuk dan payah mengagetkanku dengan suaranya yang horor. Entah sejak kapan ia berada di sana. Di salah satu sudut kamar.
"Almarhum ayahmu pasti akan mengurungmu di kandang kambing lagi kalau dia tahu kamu melupakan Tuhanmu, Le!" Lanjut wanita tua yang kusebut Ibu itu sambil membereskan obat-obatan dan sisa sarapanku di meja kayu yang tepiannya sudah berlumut.
"Susah payah kami mengenalkan Tuhan padamu Le, tapi kecelakaan itu mengambil nama Tuhan dalam hati dan otakmu hanya dalam waktu beberapa detik saja".
Ibu tua itu mulai berjalan tertatih menghampiriku sambil mengeluarkan sejumput daun sirih dari sela-sela kain samping yang meliliti perut keriputnya, kemudian dengan ganas mengunyah daun sirih itu seperti kerbau melahap rumput.
Tak lama ia duduk di samping kiriku sehingga ranjang reyotku berdecit kesakitan menahan berat badan wanita tua bernama Ibu itu.
"Coba kamu ingat-ingat lagi Le nama Tuhanmu!" Ibu mulai memohon sambil memperbaiki letak selimut yang menutupi tubuhku. Selimut tua yang sepanjang sisinya sudah tercabik-cabik.
"Emak khawatir, jika nanti malaikat menanyaimu tentang siapa Tuhanmu, lantas kamu diam saja seperti ini. Emak malu sama malaikat, Le. Terlebih sama Tuhan. Emak malu”.
Aku memandangi wajahnya yang penuh harap. Wajah yang dipenuhi keriput namun tak pernah terlihat lelah. Wajah wanita tua itu seperti penggambaran cinta yang sesuangguhnya.
“Kamu juga pasti tahu Le kisah tentang suatu kaum yang melupakan Tuhannya, kemudian kaum itu dibinasakan sejadi-jadinya. Emak tidak mau hal itu terjadi padamu, Le. Terjadi pada kita! Makanya Emak mohon, ingat nama Tuhanmu, Le. Emak mohon!”.
Ia memegang tanganku, kemudian meremasnya. Sangat erat, sehingga aku dapat merasakan aliran darah mengalir deras dalam tubuh peotnya. Matanya yang sayu menusuk retina mataku dengan jutaan harapan. Giginya yang kuning dan panjang seperti bambu runcing para pejuang mulai bergemulutuk hebat.
Aku lihat bibirnya mulai menuntunku mengingat nama Tuhan.
"Katakan: Allah!" Bisiknya pasti. Kalimatnya membuat badanku bergetar dahsat. Tremor mengguncang ranjang bututku. Keringatku menyembur dari berbagai celah pori-pori.
"Allah..." Ibu terus menuntunku dengan harapan bibir dan lidahku segera mengucapkan nama Tuhan.
Tiba-tiba badanku panas. Tubuhku menggigil. Nafasku seperti tersangkut dalam kerongkongan. Lalulintas darahku kacau dan jantungku lelah. Nadiku mematung sedangkan otak membeku, tak mampu lagi berpikir. Apakah ini waktunya aku dibinasakan? Pikirku ngawur. Namun sebelum pertanyaan itu terjwab, gelap kembali mencengkeram mataku. Lalu dengan ganas menutupi lubang telingaku. Dan aku tidak ingat lagi. Aku kembali melupakan semuanya. Semuanya tanpa sisa.
"Bodoh!" kataku dalam hati.
Jakarta, 8 Februari 2009
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
12.06
0
komentar
Label: Cerpen
Rabu, September 15, 2010
Bisnis Negeri Dongeng

"Mana Negeri pesananku, kawan?" seorang pria paruh baya berbadan buncit tergesa-gesa menghampiriku. Wajahnya sumringah seperti penjudi menang lotre.
"Mana negeri dongeng pesananku? Bukankah sudah setengah tahun aku memesannya? Ayolah kawan, aku sudah tak sanggup lagi menunggu! Aku takut ajal keburu merengkuhku sebelum aku mendapatkan negeri dongeng itu! Kau tahu kan kawan, aku sudah membayarmu dengan tiga tahun uang pensiunku hanya untuk menikmati kehidupan senjaku di negeri dongeng itu! Aku sudah bosan disini! Disini orang sepertiku yang banyak menghayal, bisa-bisa mati karena hayalanku sendiri. Kau dan bahkan orang tuamu tahu benar bahwa aku ini penghayal akut yang tidak akan pernah bisa hidup tanpa menghayal.
Nah, celakanya, disini, di negeri ini, penghayal payah seperti aku ini dianggap gila! Ya, gila kawan! Apakah mereka lupa bahwa Einstein, Faraday, James Watt, dan orang-orang yang menjadi aktor utama di setiap buku pelajaran fisika itu awalnya seorang penghayal? Ah, mereka mungkin pura-pura tidak tahu, karena mereka itu pengecut. mereka itu pecundang yang tidak mempunyai keberanian untuk menghayal. Mungkin mereka takut gila! Padahal kegilaan adalah darah yang mengalir pada diri mereka. Tapi mereka tidak tahu, atau mungkin sengaja tidak mau tahu.
Kawan, mana negeri dongeng yang kupesan itu? Kau tahu, di negeri dongeng yang kupesan itu, penghayal tua dan peyot seperti aku, yang dianggap sampah di negeri ini, bisa-bisa menjadi presiden disana. Ya, setidaknya jadi lurah, atau cukup wakil ketua majlis taklim lah.
Maka dari itu, mana negeri dongeng yang kupesan lengkap dengan mesin pembaca pikiran yang mampu mendeskripsikan hayalan seseorang, sehingga kita tak banyak berburuk sangka pada setiap orang.
Mesin itu bukan mesin tua peninggalan penjajah yang sudah usang seperti mesin-mesin andalan di negeri ini yang merupakan sisa penjajah.
Mesin pembaca pikiran itu, sebagaimana yang kau tahu, kawan, adalah hasil karya sang penghayal. Ya, mesin itu adalah maha karya dari seorang penghayal yang hanya menjadi sampah di Negeri taik kucing ini!
Ayolah kawan, mana negeri pesananku itu? Jauh-jauh hari aku sudah siapkan passport.
Aku percaya padamu, karena aku tahu, pak Sarjo, yang dulu memesan negeri damai padamu, kini hidup bahagia disana. Aku ingin seperti pak Sarjo. Atau Romlah yang sekarang hidup bahagia di negeri anti korupsi, Minar dan suaminya yang sekarang hidup damai di negeri tanpa kata, samsul dan keluarganya yang adem ayem di negeri kapas, atau Karyono yang menikmati masa tuanya di negeri tanpa keriput, Parman dan selingkuhannya yang sukses di negeri tanpa teroris, Jarkum di negeri perawan, Tukiyem di negeri tanpa janji, Michele di negeri mimpi, Ismet di Negeri Maksiat, Jarkum di negeri Jujur, Markonah di Negeri Pemalas, Toto di negeri seni, Kristi di negeri judi dan Robert di negeri ide.
Aku tahu mereka membeli negeri-negeri itu darimu kawan, maka sekarang mana negeri pesananku? Mana? Jangan sampai kau biarkan aku membeli negeri yang kuinginkan itu pada calo penjual negeri karena bosan menunggumu!
Ayolah kawan, mana negeri pesananku?"
Kemudian aku mengeluarkan brosur dalam tas kusutku yang bau, dan mulai menjelaskan isi brosur norak itu,
"Barda kawanku, negeri dongeng sedang tak ada stok, bagaimana kalau negeri ini saja?" Aku serahkan brosur warna-warni itu, pada kawan tua ku, Barda.
"Negeri gemah ripah loh jinawi?" Barda membaca nama negeri dalam brosur itu.
"Okey. Asalkan nama negerinya bukan sekedar slogan, ya kawan"
Aku mengangguk tipis dengan jutaan rasa pesimis dan keraguan yang membebani kepalaku yang botak. Tapi tak apalah yang penting bisnis jualan negeriku lancar...
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
16.29
2
komentar
Label: Cerpen, FlashFiction
Sabtu, Februari 14, 2009
Cinta dari Seorang Ibu Tua dan Anaknya yang Kurus itu
"Apa yang kamu tahu tentang cinta, nak?" Seorang ibu tua bertanya padaku dengan suara yang hampir tak terdengar. Mataku yang sejak tadi terpaku pada barisan kalimat dalam buku kumpulan cerpen karya Seno Gumira Adjidarma, kini menatap ibu tua yang tengah sibuk menata posisi kepala anaknya yang sedang menetek padanya. Tetek-nya yang sudah keriput dengan susah payah dieksplorasi sang anak yang tampak kelaparan.
Anak itu seperti tak berdaging. Tak berlemak. Tapi perutnya buncit seperti balon mau pecah. Kepalanya botak seperti makhluk luar angkasa.
"Cinta adalah apa yang aku lihat saat ini" Jawabku sekenanya.
Ibu tua itu tersenyum.
"Kau benar nak..."
Jakarta 14 Februari 2009
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
08.01
1 komentar
Label: Cerpen
Kamis, Februari 12, 2009
Cinta dan Tuhan yang Terlupakan
Ada saat dimana aku merasa semua orang yang katanya dulu sangat aku kenal, kini hanya sebatas kumpulan alien yang asing dan sungguh mengerikan. Bahkan orang-orang yang menurut mereka sangat mencintai akupun tak lebih dari sekedar seorang figuran yang mempunyai probabilitas nihil untuk meraih oscar awards.
Sanjungan-sanjungan mereka mengenai kehebatanku dalam menulis puisi, essay dan novel, kini hanya menjadi sejarah palsu untukku.
Bukan hanya itu, bahkan nama Tuhan yang dulu susah payah dikenalkan seorang wanita tua--yang katanya ibuku, kini tak ku kenal lagi.
"Tuhan apa? Apa itu Tuhan? Siapa?" Tanyaku bodoh. Maka sejurus kemudian wanita tua itu menampar ganas pipiku sebagai jawaban atas pertanyaan kejamku.
Mengerikan. Sangat mengerikan memang ketika aku harus kembali ke titik nol. Titik yang merampas semua database dalam otakku.
"Kecelakaan sialan itu merebutmu dariku La...". Teriak seorang gadis cantik yang duduk lemah di atas kursi kayu tepat di sampingku. Air mata gadis itu tak mampu ku bendung. Bibirnya bergetar puluhan scala richter. Dan tubuhnya seperti tak bertulang. Sangat lemah. Melebihi lemahnya imanku yang sempat menguap tak bersisa.
"Kenapa La? Kenapa kamu diam saja? Kenapa?"
Mataku kupaksakan terpejam. Bukan hanya karna tak sanggup memandang wajahnya yang sedih, tapi juga karna memang aku tidak mempunyai jawaban untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
Bahkan aku mungkin tidak menyimak pertanyaan itu, karna sejak tadi aku sibuk menggaris bawahi sepotong kata: "La" yang dilontarkan gadis itu. Dia memanggilku "La", karna aku tahu namaku Bala. Atau lebih tepatnya: karna aku baru tahu beberapa hari lalu bahwa namaku Bala. Ya, aku sempat lupa siapa namaku. Hingga wanita tua yang akhirnya kusebut ibu itu mengenalkan aku pada diriku sendiri.
Mengenalkan bahwa namaku Bala. Bala Akbaruddin.
"Atau kamu masih belum mengenalku La?" Gadis itu kembali bertanya kecewa. Matanya semakin tak bercahaya. Seperti selimut hitam bernama malam.
"Aku Sissy, tunanganmu, La... Entah sudah berapa kali aku mengenalkan diri padamu. Berkali-kali aku berusaha membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Dan aku sudah kehilangan akal untuk membuatmu jatuh cinta padaku lagi. Semua cara sudah aku coba. Tapi setiap kali aku bertanya padamu tentang apa yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku, kamu selalu diam.
Lalu apalagi yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku?
Padahal aku sudah menulis puluhan surat cinta untukmu yang dilengkapi puisi-puisi cinta yang dulu kamu ajari aku membuatnya, tapi aku lupa bahwa kamu sudah lupa bagaimana caranya membaca. Bahkan kata-kata itu kini termumikan dalam otak kananmu.
Berkali-kali aku menyanyikan lagu cinta yang dulu kamu sering menghujatku karna suaraku fals tak karuan, sial, aku lupa sayang, bahwa bibirmu sudah lupa bagaimana caranya bernyanyi. Dan insting mu awam terjemahkan nada.
Entah berapa kali aku bercerita tentang sepeda reyotku yang kini ban nya bocor padahal sepeda itu dulu kamu pakai untuk memboncengku pulang mengaji, ah aku lupa bahwa kamu pasti sudah lupa apa merk sepedaku. Bahkan mungkin kamu tidak tahu apa itu arti sepeda.
Sering sekali aku bercerita tentang mimpi-mimpi muluk masa depanku yang dulu kamu paksa aku memilikinya, tapi aku lupa bahwa kamu ternyata sudah lupa mimpi-mimpimu sendiri. Bahkan sungguh aku tidak tahu, apakah saat ini kamu punya mimpi atau tidak.
Aku lupa bahwa ternyata kamu lupa semuanya. Semuanya La. Kamu lupa pidato calon legislatif yang dulu kamu jadikan bahan guyonan. Kamu lupa rumus-rumus unsur dan senyawa kimia yang dulu terpasang di dinding kamarmu. Kamu lupa atas kekecewaanmu terhadap Sherlock Holmes saat berduel dengan Profesor Moriarty. Kamu lupa bagaimana caranya kamu mencium bibirku yang sebenarnya tidak pernah kamu lakukan. Kamu lupa bagaimana caranya menghapus air mataku yang sebenarnya tak pernah kamu tunjukkan. Kamu juga lupa bagaimana caranya menyematkan hiasan di rambutku yang ternyata tak pernah kamu sematkan.
Kamu lupa semuanya. Semuanya La. Dan kamu diam. Ya, hanya diam yang ternyata tidak kamu lupakan. Kamu masih hapal benar bagaimana caranya diam. Sialnya aku lupa bahwa kamu hanya bisa diam. Maafkan aku La, aku hanya ingin kamu mencintai aku. Lagi. Seperti dulu. Sebelum kamu melupakan aku. Lagi-lagi aku lupa bahwa mencintai seseorang yang tidak kamu kenal sama sekali adalah kesulitan luar biasa. Dan mengenalkan diriku padamu adalah sebuah kesulitan luar biasa yang lain. Kesulitan yang berulang kali memaksa air mataku tumpah. Maafkan aku La.."
Gadis itu menangis lagi. Dan aku diam lagi. Menutup mataku lagi. Lalu gelap menutupi semuanya. Tak setitik cahayapun menusuk mataku. Semuanya terbingkis gelap yang mengerikan. Lalu kegelapan itupun menutupi telingaku. Isak gadis itu pun raib di ujung telingaku hingga benar-benar senyap dan aku tak ingat lagi. Semuanya lenyap begitu saja. Lenyap.
***
"Almarhum ayahmu, Le! Dia pasti akan mengurungmu di kandang kambing kalau dia tahu kamu melupakan Tuhanmu!" Gumam wanita tua yang kusebut ibu itu sambil membereskan obat-obatan dan sisa sarapanku di meja kayu.
"Susah payah kami mengenalkan Tuhan padamu Le, tapi kecelakaan itu mengambil nama Tuhan dalam hati dan otakmu dalam waktu beberapa detik saja.
Coba kamu ingat-ingat lagi Le nama Tuhan mu!
Emak khawatir, jika nanti malaikat menanyai mu tentang siapa Tuhanmu, lantas kamu diam saja seperti ini. Emak malu sama malaikat, Le, terlebih sama Tuhan. Makanya Emak mohon, ingat nama Tuhan mu, Le. Emak mohon!". Dia memegang tanganku. Matanya menusuk retina mataku dengan jutaan harapan.
Aku lihat bibirnya mulai menuntunku mengingat nama Tuhan.
"Katakan: Allah!" Bisiknya pasti. Kalimatnya membuat badanku bergetar hebat. Keringatku menyembur dari berbagai celah pori-pori.
"Allah..." Ibu terus menuntunku dengan harapan bibir dan lidahku segera mengucapkan nama Tuhan.
Tapi tiba-tiba gelap kembali mencengkeram mataku. Sunyi menutupi lubang telingaku. Sekejap bau keringat ibu pun lenyap. Dan aku tidak ingat lagi. Aku kembali melupakan semuanya. Semuanya tanpa sisa.
"Bodoh!" kataku dalam hati.
Jakarta, 8 Februari 2009
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
16.31
3
komentar
Label: Cerpen
Kamis, Januari 22, 2009
Gadis itu bernama Kazumi Shimazaki
"Maukah kau membantu melipat gerimis itu untukku?" Pinta seorang gadis yang sejak tadi duduk kaku di sebelah kiriku setelah beberapa menit kami saling diam. Aku yang dari tadi tak berani menatapnya, kini tak segan menangkap wajah ovalnya yang terbingkis jilbab biru itu kedalam mataku. Amboi, kulitnya putih sekali, mulus mengalahkan model iklan sabun mandi GIV. Bahkan tak adil jika harus kubandingkan gadis itu dengan gadis-gadis di desaku yang kulitnya berhiaskan koreng, panu, kudis, kurap, buduk, atau sisa-sisa jerawat yang melubangi wajahnya.
Atau lihatlah hidung gadis berjilbab itu yang mirip perosotan anak TK: rendah pada pangkal hidung kemudian mancung di bagian ujungnya. Seperti hidung orang-orang belanda. Berbeda dengan gadis-gadis di desaku yang lubang hidungnya saja mengkhawatirkan -- menganga menghadap langit, sehingga air hujan sewaktu-waktu bisa masuk kedalam hidungnya.
Tapi dari bentuk mata gadis berjilbab itu yang sulit melotot, aku tahu dia seorang chinese.
Assumsiku bahwa dia seorang chinese semakin bulat ketika kubaca beberapa barisan huruf pada ID card yang terkalung di lehernya: Kazumi Shimazaki, Marketing Eksekutif.
"Bantu aku melipat gerimis itu!" Gadis itu mulai tampak memohon. Aku palingkan pandanganku dari wajah sendu gadis itu menuju hujaman gerimis yang membentuk pagar-pagar air di hadapanku. Warnanya berkilauan seperti jarum-jarum panjang yang sengaja ditusukkan langit ke bumi. Beberapa jarum air itu menusuki atap-atap mobil yang sombong, kulit-kulit payung orang yang berlalulalang dan sebagian lagi menghujam tanah, aspal, trotoar, helm, gedung dan atap halte penuh grafiti yang kini memayungi aku dan gadis itu. Suara hujaman gerimis di atas atap halte seperti bunyi perkusi yang bersahut-sahutan, mendendangkan irama cinta seorang sufi untuk Tuhannya.
"Gerimis sial!" umpat gadis chinese itu yang membuat mataku kembali menumpahkan pandangan ke wajah ovalnya. Kali ini dia berdiri gelisah.
Matanya terlihat resah memandangi jarum-jarum waktu dalam jam yang terlingkar di pergelangan tangannya.
"Ah, apakah doaku hanya sebatas kata-kata busuk seperti kata-kata yang sering aku dengar dari mulut para pembual sehingga Engkau tidak mengabulkan doaku, Tuhan? Padahal doa itu sudah kurangkai dengan kata-kata terindah yang tak pernah bisa ditulis oleh seorang pujangga. Padahal kata-katanya sudah kulengkapi dengan ungkapan-ungkapan dan peribahasa yang tak bisa diterjemahkan para penyair. Lalu kenapa Engkau tak mengabulkannya Tuhan? Apakah Kau sudah bosan dengan kata-kata kami? Sudah muak? Sudah jijik? Ah, aku tahu Engkau tak seperti itu, Tuhan. Lalu kenapa Engkau tak mengabulkan doaku? Padahal doaku cukup sederhana : aku hanya ingin hari ini tak ada gerimis. Itu saja. Lalu kenapa Kau turunkan gerimis itu Tuhan? Tadinya aku kira Engkau kirimkan pria di sampingku ini untuk membantuku melipat gerimis, tapi ternyata pria itu hanya kodok buduk yang tak sepandai aku dalam membuat kalimat terindah. Kau lihat Tuhan? Pria itu hanya diam. Hanya diam, Tuhan. Entah karna bisu atau karna mulutnya bau. Engkau yang lebih tahu, Tuhan. Pria itu tak lebih dari seekor bangkai kecoak tengik ya Tuhan?".
Gadis berengsek itu melirikku. Pandangannya menusuk ulu hatiku. Gadis sialan!
"Lalu apa, Tuhan? Apakah kata-kata hanya cukup menjadi sebuah simbol? Hanya pantas untuk sebuah slogan? Atau hanya sebuah pelengkap dari terciptanya lidah? Persetan dengan semua itu!"
Aku diam menahan tawa. Dalam hati aku bertanya, 'Apakah gadis itu cukup suci untuk sebuah pemberontakkan pada Tuhan?'
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
00.03
1 komentar
Label: Cerpen
Selasa, Januari 20, 2009
Perburuan Senja

Jika aku harus mendeskripsikan bagaimana bentuk sayap malaikat, maka aku cukup tunjuk saja bibirnya. Ya, aku memang tidak pernah tahu bagaimana bentuk sayap malaikat, tapi setidaknya aku yakin bahwa bibir gadis yang saat ini terbaring di atas pangkuanku itu memang setipis sayap-sayap malaikat. Bibirnya adalah sebuah keindahan yang tak terbayangkan dalam imajinasi manusia. Rambutnya sehitam bayangan angin yang tak pernah bisa terlukis oleh tanah.
Namanya Lia.
Tapi aku biasa menyebutnya presiden negeri senja nomor dua, karena tentu saja presiden negeri senja nomor satu adalah aku.
Sebenarnya aku sudah memintanya untuk menjadi wakil presiden saja, biar aku presidennya, tapi gadis berbibir sayap malaikat itu memang keras kepala, dia tetap ingin menjadi presiden negeri senja kami.
Hmm.. Dia memang keras kepala. Aku jadi ingat pada hari yang kami sebut sebagai hari pertama perburuan senja.
Saat itu aku gelisah. Mondar-mandir di sudut sebuah minimarket.
Mata yang bersarang dibalik kacamata jadulku tak henti melepaskan pandangan ke arah gadis keras kepala itu. Dia sedang sibuk mempreteli cadburry, toblerone, silverqueen, ice cream walls pada rak-rak minimarket itu. Tujuan kami memang sama: berburu senja. Tapi perburuan senja gadis itu hanya untuk menikmati wisata kuliner di bawah naungan senja yang menyelimuti langit. Aku lain lagi. Perburuan senjaku tak lain hanya untuk mengabadikan senja merah itu dalam kamera pocket baruku yang baru aku beli dari gaji pertamaku. Sudah cukup lama memang aku menantikan saat ini. Aku memang sering menikmati senja, tapi ini adalah kali pertama aku coba untuk mengabadikannya dalam kamera baruku itu. Hmm.. Sebenarnya bukan kamera baru, kamera itu adalah kamera second yang aku beli di salah satu toko elektronik di mangga dua. Yang kumaksud baru disini adalah bahwa kamera itu baru saja aku miliki. Ya, sekali lagi: baru aku miliki.
Entah berapa menit aku mondar-mandir gelisah di sudut minimarket itu. Bagiku satu menit seperti satu tahun, ah tidak, mungkin satu abad. Ketakutan tak bisa mengabadikan senja, ternyata mampu menjungkalkan waktu. Bayangkan! Menit bisa menjadi abad.
Dan kini ketakutan itu menggerogoti otakku. Berkali-kali aku menggigit bibir, gelisah seperti seorang calon ayah menunggu kelahiran buah hatinya di lorong rumah sakit bersalin. Beribu sumpah serapah meluncur dari dalam mulutku mengutuki gadis itu dan diriku sendiri. Sebenarnya bisa saja aku meninggalkan gadis itu, tapi itu malah akan menimbulkan bencana yang lebih besar. Jika aku sampai meninggalkan gadis itu, bisa-bisa dia melapor pada ayahku. Dan semua orang tahu tentang kekejaman ayahku. Bisa-bisa aku diceramahinya selama dua puluh empat jam,
"Kamu ini mau jadi apa? Berani-beraninya meninggalkan tunanganmu sendiri di minimarket dan membiarkannya pulang sendiri naek angkot, terlalu kamu sep". Kira-kira begitulah petikan ceramah kejam ayah itu. Ah aku tak sampai hati mengecewakan ayah, dan jujur, aku pun tak rela kalau gadis itu harus pulang sendiri naik angkot. Hal itu yang membuatku mengutuki diriku sendiri.
Gadis itu tengah memilah beberapa spagethi instan di rak minimarket ketika kesabaranku mulai hilang. Dengan sorot mata pembunuh, aku menghampirinya, menarik tangannya sehingga beberapa spagethi berbungkus streoform itu berjatuhan. Aku tak peduli. Aku terus menarik tangannya. Pemberontakkan gadis itu tak mampu melepaskan tangannya dari cengkraman tanganku.
"ipung, lepaskan! Aku masih butuh spagethi itu!"
Aku menghentikan langkah, kemudian membalikkan badanku ke arahnya sehingga mata kami beradu pandang.
"Jadi spagethi itu lebih berharga daripada senja? Sekarang sudah jam setengah enam sore! Tak ada waktu lagi!" omelku dingin, kemudian kembali menarik tangannya hingga tepat di depan kasir.
*****
Entah berapa kecepatan Honda tua yang ku pacu itu. Speedometernya sudah tak berfungsi. Mungkin sekitar 40 km/jam, karena memang itulah kecepatan maksimal motor butut berplat nomor merah milik ayahku ini.
Lia memegang jaket kasarku dengan erat dari belakang. Dia tak mau ambil resiko jika nanti ada jalan berlubang lagi yang kulindas, bisa-bisa dia terlempar, seperti tadi tanpa sengaja sebuah lubang menjerumuskan roda motorku sehingga plat nomornya terjatuh dan beberapa bagian motor rontok. Untuk itu Lia mencengkeram erat jaketku dengan wajah cemas. Sebuah kecemasan yang menambah indah wajahnya.
"Ah, sial!" umpatku setelah kulihat langit semakin gelap. Tampaknya malam mulai melahap cahaya keemasan senja. Sambil memacu honda bututku, sesekali aku menoleh ke arah kananku, memastikan senja belum habis dilahap malam. Inilah yang aku sebut sebagai perburuan senja. Aku harus bergulat dengan waktu, demi mengabadikan senja dalam kamera second ku. Waktu seperti perampok yang sedang berusaha mengambil senja, satu-satunya harta yang ku punya. Terkadang waktu adalah penjahat nomor satu bagi pecundang seperti aku.
"disini saja, pung! Tak usah di negeri senja! Sepertinya kita terlambat!" saran Lia agar aku memotret senja di tempat itu. Bukan di negeri senja.
"Tahu apa kamu tentang seni angel sebuah objek pemotretan? Tak ada tempat yang lebih indah daripada negeri senja di dunia ini! Negeri senja adalah keindahan seni yang tak bisa ditemui di tempat manapun di dunia ini!" Teriakku sambil tetap memacu honda rongsokku.
"celaka!" mataku menangkap malam yang tak henti menggerogoti senja dengan ganas dari berbagai sudut.
Dalam hitungan menit, habis sudah semburat merah kekuningan bernama senja itu berganti menjadi langit hitam yang mencengkeram setiap mata manusia di bumi.
Tubuhku lemas. Tak sanggup lagi memacu motor honda astrea antikku.
Lihatlah lututku, sudah seperti fosil bambu yang hidup jutaan tahun lalu. Rapuh. Sangat rapuh. Terlalu rapuh malah. Ah, Entahlah. Pertanyaan pertama yang tak pernah ada jawabannya di dunia adalah: kenapa aku menjadi begitu lemah ketika keinginanku mengabadikan senja tak terwujud? Ah, itulah alasan kenapa aku menyebut diriku pengecut.
"sudah kubilang tak usah di negeri senja kan?" celoteh lia sambil memijit kakiku yang berselonjor ketika aku duduk di pinggir jalan tanpa trotoar.
Aku tak menjawab.
Aku hanya memandanginya. Memandangi wanita berbibir sayap malaikat itu.
Jarang sekali bibir itu mengucapkan "I love you" untukku. Tak apa. Buatku kalimat british itu tak terlalu penting. Yang terpenting adalah: bahwa dia mau menerimaku apa adanya. Dia mau mencintaiku walau dia tahu bahwa aku ini miskin, bahwa tampangku biasa saja, bahwa aku malas mandi, bahwa aku egois, bahwa aku pecemburu, bahwa aku penghayal, bahwa aku sok idealis, bahwa tubuhku kurus tak karuan, bahwa pekerjaanku hanya sebagai seorang callcenter, bahwa ayahku enam bulan lagi pensiun, bahwa motor ayahku bututnya minta ampun, bahwa pagar rumahku hanya terbuat dari bambu keropos, bahwa ibuku pendiam. Cukup dengan semua itu, sehingga kata-kata mutiara seperti dalam novel atau film roman sudah tak kubutuhkan lagi.
Aku yang tadi lemah dan payah karna tak bisa mengabadikan senja dalam kameraku, sekarang mulai bangkit. Inilah pertanyaan kedua yang tak pernah kutemui jawabannya di dunia: kenapa aku menjadi semangat setiap kali memandangi wajah gadis itu?
Aku mulai memacu kembali motor bobrokku. Sial. Malam sudah cukup lama menyelimuti kami. Tapi lagi-lagi. Lampu motorku mati.
Lia tahu benar apa yang harus dilakukannya saat lampu motorku mati. Dia lari ke bagian depan motorku dan tanpa basa-basi melayangkan tinjunya ke arah lampu depan motorku. Belum menyala. Tinju keduapun melayang. Ajaib. Lampu motorku akhirnya menyala. Tawa kami pecah. Memecahkan malam yang sudah merebut senja dariku.
Meninju lampu motorku adalah pekerjaan favoritnya.
Jika memang akhirnya lampu motorku itu menyala saat tinju lia mendarat, bukan karna tangan atau tinjunya ajaib mengandung magis. Tapi aku tahu benar karna ada kabel lampu yang tak beres. Aku sengaja tak membetulkannya, dengan harapan selalu bisa melihat tawa ceria gadis itu setiap kali mendaratkan tinjunya agar lampu menyala. Tawanya memang mampu mengobati telingaku yang sering disakiti oleh suara horor motor reyotku itu.
Aku memacu honda butut yang lampunya tak seterang cahaya lilin itu sambil berjanji di dalam hati: besok harus lebih awal. Harus!
***
"Berburu senja!" jawabku melontar alasan kenapa aku tidak masuk kerja hari ini.
Supervisorku melongo di ujung telepon. Aku sengaja menelepon kantor meminta ijin hari ini aku tak masuk kerja dengan alasan gila: 'berburu senja', yang membuat supervisorku melongo bego.
Aku menutup telepon. Tanpa ucapan terimakasih. Tanpa kalimat penutup. Tanpa salam. Gila. Benar-benar gila. Pertanyaan ketiga di dunia yang tak ada jawabannya: kenapa aku jadi gila untuk senja? Ah, apa peduliku.
Lia rupanya sudah menungguku. Lengkap dengan persediaan kulinernya. Hari itu kami berangkat lebih awal. Jam tiga sore sudah tiba di negeri senja. Matahari masih cukup menyengat. Belum ada tanda-tanda senja. Ah, biarlah. Daripada terlambat lagi. Kami segera menggelar persediaan kuliner yang dipersiapkan gadis malaikat itu. Wangi dari beberapa makanan itu segera merebak ke segala penjuru negeri senja.
Negeri senja adalah sebuah jalan menikung yang salah satu sisinya adalah tebing yang mengkhawatirkan. Dari sisi itu terlihat jelas hamparan luas kota kecil bernama Purwakarta. Sisi ini hanya dibatasi barisan pagar besi berkarat yang sudah terkoyak dan diselimuti beberapa jenis tumbuhan jalar yang merambati pagar mengenaskan itu persis pagar-pagar kastil. pagar itu sudah tak sanggup lagi berdiri sehingga miring ke salah satu arah, padahal peran pagar itu sangat penting untuk mencegah kendaraan loncat ke jurang dari jalan yang menikung tajam itu. Sisi lainnya dari negeri senja adalah dinding tanah yang sewaktu-waktu bisa ambrol karna longsor.
Pernah seorang teman, Supri namanya, bertanya padaku dimana dia bisa melihat tempat terindah di Indonesia. Ku jawab, Negeri Senja, di daerah Purwakarta, akses menuju daerah Wanayasa atau Gunung Tangkuban Perahu. Akhirnya Supri penasaran dan mendatangi tempat yang kumaksud. Sepanjang jalan dia bertanya dimana kampung negeri senja itu, tapi setiap penduduk yang ditanyainya menggelengkan kepala. Tak ada satu pun yang tahu. Jelas saja Karna negeri senja adalah nama tempat yang kuciptakan sendiri. Negeri senja hanyalah sebuah tikungan tajam yang salah satu sisinya adalah tebing curam mengerikan. Bahkan aku sendiri tak tahu nama asli daerah itu.
***
Senja itu berwarna orange kali ini. Dari menit ke menit bentuknya berubah. Inilah yang aku suka dari senja. Dia kreatif. Bentuknya selalu berbeda-beda. Warnanya kadang merah, orange, kuning keemasan, ungu bahkan biru keunguan. Kameraku tak henti mengabadikannya. Mengabadikan senja yang meletup-letup dalam jiwaku.
Begitu hampir setiap hari. Aku tak berhenti berburu senja. Aku sudah menjadi gila: bolos kerja untuk sebuah perburuan senja.
Lia juga ikut-ikutan gila. Sama-sama tak waras. Kami memang gila. dua orang manusia gila karena senja. senja yang meletup-letup dalam kegilaan kami.
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
08.50
3
komentar
Label: Based on True Story, Cerpen
Senin, Januari 19, 2009
Kado Ulang Tahun Untuk Neza
Sekali lagi pandanganku tidak bisa terlepas dari bingkisan berbentuk balok dengan hiasan pita merah muda di setiap sisinya yang masih tergeletak di atas meja belajarku. Beberapa sobekan kertas tampak berserakan di sekeliling bingkisan yang berukuran cukup besar itu. Sobekan kertas yang tadi sempat menjadi objek pelampiasan amarahku.
Ya, sobekan kertas itu sebenarnya berasal dari secarik surat yang aku temukan bersama bingkisan besar itu saat aku baru saja terbangun dari tidur. Memang, lupa mengunci pintu kamar adalah kebiasaan buruk yang tidak bisa aku hilangkan sehingga mungkin seseorang masuk ke kamarku secara diam-diam kemudian menyimpan bingkisan dan secarik surat itu di atas meja belajarku ketika aku pulas tertidur.
Setelah aku sadar bahwa tulisan di muka amplop itu adalah tulisan tangan ayah, dengan spontan aku merobek-robek surat itu sehingga menjadi sobekan-sobekan kecil tanpa sempat aku membaca isi dari surat itu. Aku tahu membenci ayah kandungku sendiri adalah kesalahan terbesar. Tapi aku tahu aku punya alasan yang jelas untuk itu. Alasan untuk aku membenci ayah.
Aku masih memeluk lututku sendiri sehingga tampak seperti menggigil di atas lantai dengan membiarkan salah satu dinding kamar menopang tubuhku yang mulai lunglai ketika tiba-tiba waktu mem-flashback-ku kembali ke peristiwa tadi malam yang sempat membuat aku merasa telah melakukan kesalahan terbesar sepanjang hidupku
“Ayah sudah tidak sayang Neza lagi!!” Teriakku tepat di hadapan sesosok lelaki berbadan bulat yang tadi tampak seperti menenggelamkan wajahnya di balik Koran sore yang sedang asyik dibacanya. Mata bulat yang bersarang di balik lensa kacamata pipihnya mengekspresikan kekagetan yang luar biasa. Aku mengerti. Seandainya aku berada pada posisi ayah saat itu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama—terbengong heran dengan mata melotot dan mulut ternganga lebar. Siapa yang tidak kaget, sedang asyik-asyiknya membaca Koran, tiba-tiba seseorang masuk rumah sambil ngomel-ngomel tanpa alasan yang jelas.
“Kemana saja ayah sepanjang hari ini? Neza tunggu sampe jam sembilan malam, tapi ayah belum pulang juga! Biasanya pulang jam lima sore, kan?” Omelku dengan nada tinggi dan terkesan datar.
“Kamu sendiri habis dari mana jam segini baru pulang?” Tanya ayah sambil perlahan melipat Koran sore yang tadi asyik dibacanya kemudian memeriksa jam yang melingkari batang lengan kirinya dan memperlihatkannya padaku, “Tuh lihat! Jam sebelas malam!”
“Neza abis dari rumah Anggie! Neza capek nungguin ayah! Empat jam Neza berharap ayah segera pulang sekedar nemuin Neza dan ngucapin…” Kata-kataku tampaknya mulai terpotong. Sepertinya nafasku mulai terasa sesak dan beberapa tetes mata mulai mendobrak kelopak mataku yang terkesan lelah. Kemudian aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan sebelum akhirnya melanjutkan, “Hmp… Udahlah! Mungkin memang Tante Dessy lebih berharga di mata ayah daripada Neza”
“Neza!!” Bentak ayah dengan memasang mata tajam yang seolah siap menusuk retina mataku.
“Loh? Terus apalagi kalo bukan Tante Dessy? Neza cuma mau bilang, kalo Tante Dessy itu ngga akan pernah bisa gantiin almarhumah Bunda! Buat Neza, Bunda hanya ada satu dan ngga akan pernah bisa digantiin siapapun, termasuk tante Dessy!!”
Bola mata ayah tampak bergerak-gerak ke berbagai sudut matanya. Dia masih terduduk kaku di atas sofa dengan pandangan yang tak tentu.
“Ayah pasti lupa kalo hari ini adalah hari Ulang tahun Neza kan?! Sepanjang hari ini, Neza nunggu ayah ngucapin Selamat Ulang tahun buat Neza! Tapi ternyata semuanya sia-sia aja! Ayah yang ada di hadapan Neza sekarang bukanlah ayah yang sembilan tahun lalu ngasih kebahagiaan buat Neza! Ayah udah berubah!” Kembali aku tidak bisa menahan air mata yang lagi-lagi menerobos kelopak mataku yang semakin lelah. Ya, aku memang terkenal sebagai gadis cengeng diantara sahabat-sahabatku. Tapi aku tahu, aku punya alasan jelas untuk semua itu.
“Ayah masih inget? Ayah masih inget waktu itu? 15 agustus sembilan tahun yang lalu? Setelah merengek berkali-kali, akhirnya ayah mengabulkan keinginan Neza untuk merayakan Ulang Tahun di pantai! Ayah tahu benar Neza begitu tergila-gila dengan laut! Berkali-kali ayah menakuti Neza dengan mengarang cerita bahwa di laut banyak berkeliaran Bajak Laut yang suka menculik anak-anak dengan harapan Neza mengurungkan niat untuk merayakan Ulang Tahun di pantai. Tapi Neza tidak takut sedikitpun. Neza tetap merengek, hingga akhirnya selasa pagi di hari Ulang Tahun Neza itu, Ayah, Bunda dan kak Naya benar-benar menghadiahkan laut buat Neza. Akhirnya pesta Ulang Tahun di pantai yang selalu menjadi impian Neza benar-benar terjadi. Meniup lilin, menyanyikan lagu Ulang Tahun dan memotong tar diantara suara ombak” Aku mulai memaksakan senyum. Senyum yang terkesan begitu kesat.
“Di tengah Pesta Ulang Tahun Neza, tiba-tiba ayah tertawa lebar dengan suara serak yang mengerikan sambil berbisik dengan suara berat ayah yang khas, ‘Aku adalah Bajak Laut!!’ Neza menjerit ketakutan dan berlari menghampiri bunda. Ayah terus saja mengejar Neza dengan tetap menutup mata sebelah kiri ayah dengan telapak tangan persis menirukan gaya Bajak Laut sambil tak hentinya tertawa mengerikan. Ayah akhirnya berhasil menangkap Neza dan melemparkan Neza ke tengah-tengah gulungan ombak. Begitu juga kak Naya dan Bunda, mereka tercebur oleh dorongan ayah. Sambil terawa lebar, Neza melempari ayah dengan pasir. Begitu juga dengan kak Naya yang berusaha menceburkan ayah sambil tak hentinya tertawa lepas. Bunda hanya menyirami ayah dengan air sambil sesekali menjerit menahan tawa.
“Hmp… dengan jelas Neza bisa melihat senyum ayah, Bunda dan kak Naya waktu itu. Seperti melihat kebahagiaan yang belum tentu dapat dilihat oleh setiap anak berusia tujuh tahun . Ya, Neza merasa bahwa Neza adalah anak berusia tujuh tahun yang paling merasa bahagia saat itu.
“Tapi apa ayah tahu apa yang Neza rasakan hari ini? Apa ayah tahu apa yang Neza rasakan di hari Ulang Tahun Neza sekarang? Apa ayah tahu kalo Neza yang sekarang ternyata bukanlah Neza yang sembilan tahun lalu melihat kebahagiaan di depan matanya? Ya, Neza yang sekarang bukanlah gadis berusia tujuh tahun yang sempat merasa dirinya paling bahagia seperti sembilan tahun silam. Apa ayah tahu kalau Neza merasa kehilangan semuanya? Kehilangan senyum ayah yang dengan semangat mengangkat tubuh Neza dan melemparkannya ke tengah-tengah gulungan ombak. Kehilangan senyum kak Naya yang tak hentinya berusaha menceburkan ayah ke dalam ombak padahal Neza tahu benar bahwa kak Naya begitu membenci sesuatu yang berasa asin. Kehilangan senyum kecil Bunda yang takut basah. Neza kehilangan semuanya. Semuaya Yah! Kehilangan semua kebahagiaan yang direnggut waktu!” Aku tidak bisa menahannya. Tiba-tiba aku berlari meninggalkan ayah yang masih terduduk kaku di atas sofa. Aku berlari menuju kamar, menutup pintu keras-keras dan menangis di balik bantal sebelum akhirnya waktu kembali mengembalikanku pada keadaan semula. Keadaan dimana aku tak bisa memalingkan pandanganku dari bingkisan berbentuk balok dengan hiasan pita merah muda di setiap sisinya yang masih tergeletak di atas meja belajarku. Beberapa sobekan kertas masih tampak berserakan di sekeliling bingkisan yang berukuran cukup besar itu.
Kali ini aku mulai mendekati bingkisan itu, kemudian perlahan membukanya dan kudapati sebuah miniatur kapal Bajak Laut di dalam bingkisan itu
Air mataku semakin tak bisa terbendung. Bahkan tak ada sesuatu pun yang sanggup menghentikannya. Perlahan aku mulai memaksakan senyumku, “Hmp… Bodoh! Darimana ayah dapatkan benda seperti ini! Mana ada toko yang buka sampai tengah malam!”
Tiba-tiba mataku terbelalak seperti sesuatu telah membukakan logika dalam otakku.
“Tengah malam? Oh iya! Kejadian kemarin itukan jam sebelas malam! Kalo memang benar ayah lupa hari Ulang Tahunku, berarti hanya ada satu kemungkinan…” Aku tampak memasang gaya detektif. Sambil mengerutkan kening dan memegang dagu, aku mulai berpikir layaknya Sherlock Holmes abad ini. “Ya, hanya ada satu kemungkinan, yaitu membeli kado Ulang Tahun setelah kejadian itu. Dengan kata lain ayah membeli kado ini pada tengah malam! Itu mustahil! Mana ada toko yang masih buka pada tengah malam! Jangan-jangan ayah memang tidak lupa hari Ulang Tahunku! Jangan-jangan kado ini sudah ada sebelum aku ngomel-ngomel! Ya, ayah pulang terlambat mungkin gara-gara nyari hadiah Ulang Tahun Buatku. Terus nyimpen kado ini waktu aku ke rumah Anggie. Oh iya! Kalo tidak salah setelah ngomel-ngomel itu aku bergegas ke kamar, menutup pintu keras-keras dan menagis di balik bantal hingga akhirnya tertidur ? Pantas saja aku tidak sadar bahwa di atas meja belajar sebenarnya sudah ada bingkisan ini ketika aku berlari, masuk kamar dan menangis di balik selimut. Tapi… Jika benar ayah tidak lupa hari Ulang Tahunku, kenapa dia tidak menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat seperti beberapa tahun terakhir ini? Ya setidaknya melalui SMS!” Aku mulai menahan tawa
“Bodoh!!” Kataku dalam hati
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
21.34
1 komentar
Label: Cerpen