Sentuhlah bibirku maka akan kuingatkan kau tentang Tuhan. Tentu saja Tuhan sesungguhnya, bukan tuhan yang selama ini hanya sekedar menjadi pelengkap imajenasi mu.
Takkah kau dengar sekerat kabar yang kukirimkan padamu melalui kerangka logika yang ku susun dalam batas-batas mimpi Einstein?
Atau seberkas berita yang kulampirkan dalam gurat-gurat senja yang kusematkan di ujung retina matamu?
Maka sekali lagi sentuhlah bibirku, sehingga kubisikkan sebuah kata yang sering dibisikkan oleh pemeran utama laki-laki pada pemeran utama wanita dalam dongeng cinta.
Ah, jangan-jangan kau sudah lupa dongeng memuakkan itu.
Jangan-jangan kau juga sudah melupakan aku.
Sudahlah.
Karawang, 8 juni 2009
Copy-Paste kode di bawah, untuk pasang banner ini....
untuk pilihan Banner lain, silakan Temans Klik di sini
Karya Ipung
- Banner n Blog Info (2)
- Based on True Story (2)
- buku (4)
- Cerpen (10)
- Essay (1)
- Fiksi Mini (1)
- FlashFiction (4)
- Lagu (1)
- Monolog (1)
- Motivasi (2)
- News n Info (2)
- novel (2)
- Photo (1)
- Puisi (5)
Rekomendasi Karya(4Download)
Gimana blog ini menurut kamu?
Rabu, Juni 10, 2009
Ketika Tuhan Hanya sebagai Pelengkap Imajenasimu
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
02.26
7
komentar
Label: Puisi
Jumat, Februari 27, 2009
Ah, Damn! Jangan-jangan Ideku Mati!
Apakah kata-kata di dunia ini sudah habis sehingga aku tak bisa berkata-kata lagi?
Padahal kulihat mereka mengobral kata-katanya dalam janji-janji di televisi.
Apakah kata-kata sudah tidak mempunyai makna sehingga tak ada arti dalam kata-kataku
Padahal kulihat mereka masih memperjualbelikan kata-katanya yang membuat mereka merasa bermakna.
Apakah kata-kata
sudah tak mencair lagi di ujung pena-ku sehingga tak ada lagi karya yang kucipta padahal kulihat buku-buku sejarah palsu masih banyak dipelajari di sekolah.
Apakah kata-kata sudah beku di ujung lidahku sehingga mulutku tak bisa bicara padahal kulihat mereka bicara tentang keadilan yang ternyata hanya memihak pada dirinya sendiri.
Ah, jangan-jangan ideku mati.
Sial.
Jakarta, 27 Februari 2009
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
17.22
2
komentar
Label: Puisi
Sabtu, Februari 21, 2009
Wanita itu Bernama Peri
Wanita itu bernama peri,
jangan tanyakan siapa atau bagaimana!
Wanita itu bernama peri,
di atas kertas tujuh purnama
Sekedar pengisi pilar gading putih tanpa nama!
wanita itu bernama peri,
di ujung pena merah jingga atau cukup di bawah air mata!
Wanita itu bernama peri,
di bawah ketiak malaikat ungu bersayap satu atau hanya patung bunda tak bernyawa.
Wanita itu bernama,
LIA SEPTIANI...
Karawang, 10 September 2007
jam 12:12:34
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
05.32
0
komentar
Label: Puisi
Senin, Januari 26, 2009
Di Halaman Terakhir Oktavo
Cukup sederhana aku mengenalmu seperti nazam dalam bait anggur putih
Ingatkn aku!
Tentang serpihan keraton retak, atau puisi yang gelap jengat
Cukup sederhana aku mengenalmu, diantara gugusan bintang, atau hanya di atas dek kapal pesiar
Tentang kita, sudah kutulis dalam lembaran kitab kayu hingga menjelmakanku sesaat
Cukup sederhana,untuk mengenal,
untuk mengenang,
atau hanya untuk membual...
(diambil dari Buku Kenangan SMA Negeri 1 Karawang angkatan tahun 2004 karya ipung)
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
18.40
2
komentar
Label: Puisi
Kamis, Desember 11, 2008
karena namaku senja

Dan kecantikan aphrodite pun luluh ketika mata angkuhku membuta kemunafikan.
Karna namaku senja,
Aku hidup di ufuk rindu,
Tempat dimana hukum Theorema Phytagoras tak berlaku.
Maka kemarilah!
Akan kubisikkan kata yg pernah dibisikkan adam kepada hawa,sehingga malaikat dan iblis iri pada takdir kita.
Sekali lagi namaku senja,aku hidup dalam k0tak sabun tua yang reyot dan payah..
Seperti cecunguk bau berbentuk manusia.
Sial!
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
22.16
1 komentar
Label: Puisi