Senin, Desember 19, 2011

Jeruji Hujan


Juara 1 Event FF Kerabat Sang Penulis Amatir


Duh, terbuat dari apakah hatiku ini? Tega menjatuhkan luka. Menggaruk wajahmu yang menyisa tangguh. Mencakar pori-porimu, lalu menusukkan dingin yang teramat bangsat. Kupenjarakan kau dan tujuh kerabatmu di balik jeruji yang kucipta dari air bening sewarna cermin.

Ya, kau tahu benar siapa aku bukan? Akulah hujan. Bukankah dulu kau sering merasukkan tubuh...ku ke dalam puisi-puisimu? Ke dalam sajak-sajakmu, juga roman dan cerita pendekmu? Lalu kini, aku menyiksamu. Duh, terbuat dari apakah hatiku ini?

"Ayo kawan, jangan menyerah!" Teriakmu fasih. Hampir saja teriakanmu membelah tubuhku. Tapi aku terlampau kuat. Kutubrukkan badanku, mengoyak atap tenda kemah yang sedang kau dirikan. Aku pun terpental. Limbung menghujam tanah. Ah, aku membuat sepatu bututmu semakin kumuh, terolesi tanah basah yang melumpur.

Aku tak habis pikir, mengapa kau dan tujuh pandu tangguh itu, tak juga membenciku. Padahal aku sudah menusuk kepala kalian dengan air serupa jarum yang ditumpahkan awan-awan bringas. Mengikat tubuh kalian dengan gigitan dingin yang pasi. Dan mengklimiskan jambulmu yang dulu menawan.

Lalu, kekasihku, petir, menyalak menebar teror. Mengaum menyambar ujung janur kelapa. Sekutuku, angin telah meninju dadamu hingga sesak menyiksa. Dan tanah yang menjelma lumpur, mengubur kakimu, sehingga kau serupa patung bernyawa. Tak bergerak. Ah, tak juga kau membenciku.


Hizbul Wathan, begitu kau kibarkan panji gagah menantang kebrutalanku. Teriakan "Allahuakbar," membahana, menusuk-nusuk telingaku. Meluluhkan kesombonganku. Tubuhku seketika bergetar. Tremor. Guncang. Tapi tak henti kutampar wajahmu memerah. Kau tak juga membenciku?

"Hujan, takkan mampu meremukkan tulang kita, kawan!" Sulut salah satu kerabatmu, "Bukankah hujan adalah anugerah?"

Hei! Apa-apaan ini? Ketika kebanyakan makhluk dari golongan kalian menamaiku musibah, kenapa kalian menyebutku anugerah? Bukankah aku sudah menyiksamu? Mengurungmu dengan jeruji tubuhku yang bening sewarna beling? Duh, terbuat dari apakah hatiku ini?

Maafkan aku, Prakoso! Sampaikan juga maafku untuk tujuh kerabat tangguhmu! Aku terpaksa memenjarakanmu. Menggaruk wajahmu yang tak menyerah. Kau tahu kenapa? Karena pawang hujan mengirimku kesini. Ia mengusirku dari tempatnya. Bedebah memang dia itu. Keparat! Tapi tak apa. Dengan begitu aku bisa melihat wajahmu dan tujuh kerabatmu yang tangguh.

Ah, jika saja aku manusia, sudah kunikahi kalian, Kerabat.



Jumlah kata : 333
*Ipung Arraffa

Thanks to HW Prakoso, Sang Penulis Amatir, d'Kerabat



Baca Selengkapnya......

Kamis, Desember 08, 2011

Rindu yang Bersenyawa


Oleh Ipung Arraffa
(Flash Fiction terbaik sekaligus pemenang event FF with Komunitas Penulis Fiksi bulan November)


Kali ini aku kulai. Mungkin karena rindu. Atau menyepah raga. Sedang kau menangis. Kataku, kau adalah rindu, yang menabur nyawa.

Anakku, ini ibu, nak. Takkah kau tahu? Ibu merindumu.

Kau tetap menangis. Kenapa? Apakah karena kau tak mengenalku? Duh, anakku, ini ibu, nak. Sungguh. Ini ibu.

Jika kau tak percaya, akan kuberi bukti : ini ari-arimu masih menggantung di pintu rahimku. Darah dan nanah yang mengering, menggetah di selangkanganku. Keringat yang menjadi garam. Semua itu bukti, nak. Bahwa aku ibumu. Sungguh. Aku tak berdusta.

Tak adakah ayah bercerita tentang ibu? Padamu? Ah, ibu lupa, anakku. Ibu lupa bahwa kau tak punya ayah. Entah siapa ayahmu. Ibu tak tahu. Yang pasti, ia hanyalah lelaki bejat langgananku. Pemuja nafsu yang entah dimana adanya.


Lalu kau memandang geram ke arahku. Apakah kau marah? Tak percaya?

Baiklah. Terpaksa kutunjukkan bukti terakhir : Rindu.

Kubawakan rindu ini padamu. Rindu seorang perempuan bernama ibu. Rindu yang kuselipkan di ujung surga yang terbentang di bawah telapak kakiku. Jangan salah! Meskipun ibu pelacur, tapi ibu miliki surga untukmu. Surga penyelip rindu. Inilah rindu yang hanya dimiliki seorang ibu untuk anaknya. Rindu yang bersenyawa.

Kau tahu kenapa rindu ini bisa tercipta? Karena ibu rindu menyusuimu. Dulu, ibu belum sempat menyusuimu, nak. Kau tahu kenapa? Karena ibu keburu mati.

Ya, ibu mati beberapa detik setelah melahirkanmu. Makanya ibu gentayangan, membawa rindu. Untukmu.



Penulis : Ipung Arraffa
Judul : Rindu yang Bersenyawa
Jumlah kata : 222 (tidak termasuk judul)

Teruntuk Ibu

http://komunitaspenulisfiksi.blogspot.com/2011/12/pemenang-event-flash-fiction-with-kpf.html

Baca Selengkapnya......

Rabu, November 09, 2011

P E L A N G I T


Oleh Ipung Araffa

(Juara Harapan LMCR 2011 dan salah satu Cerpen dalam Buku Antologi LMCR 2011)



Seorang pria bersayap keemasan menghampiriku dengan tergesa. Wajahnya pucat penuh iba. Tangannya gemetar menakutkan. Dan giginya gemelutuk seperti orang kedinginan. Dengan matanya yang sayu dia menatapku sedalam nyanyian sufi yang menembus batas-batas cinta.

“Benarkah kau seseorang yang disebut-sebut oleh penduduk langit sebagai seorang penyair, wahai anak muda?”. Pria itu bertanya seperti orang kesurupan dengan getaran tangannya yang semakin tak bisa dikendalikan. Atau matanya yang nanar menusuk mata, hidung, tenggorokan hingga ujung kakiku.

Badanku ikut gemetar. Aku ketakutan.

“Ooooo.. Sungguh tak bisa ku percaya, selebritis dunia langit ini kini ku temui. Tak kah kau tahu anak muda? Para pelangit di negeri langit sana, banyak memperbincangkanmu. Semua acara infotainment negeri langit membahas gosip-gosip tentangmu, buku-buku mencetak biografimu. Catatan sejarah mencatat kehidupanmu. Obrolan-obrolan ringan di warung kopi menjelma menjadi seminar akbar yang mempresentasikan karya-karyamu. Penyair-penyair kacangan dunia langit banyak yang menjiplak maha karyamu. Puisi-puisimu menjadi bahan kajian para ilmuwan dan sastrawan penduduk langit. Wajahmu juga menghiasi sampul-sampul majalah dan baligo-baligo terbesar di seluruh pelosok kota langit. Para paparazzi pelangit tanpa kau sadari banyak mencuri gambar wajahmu, sepanjang pagi, siang, petang. Pada malam hari kau menjadi bahan breaking news dan menghiasi headline koran-koran terkemuka. Lagu-lagu pujaan terhadapmu selalu menempati urutan pertama dari deretan tangga lagu bergengsi. Film-film dan sinetron meniru alur hidupmu. Entah ada berapa nama jalan yang mengabadikan namamu.Para orang tua pun ikut-ikutan menamai bayi mereka yang baru lahir dengan namamu. Kau sungguh terkenal di antara penduduk langit, wahai anak muda. Sungguh!”

Dalam degupan jantung yang mentremorkan seluruh tubuhku, aku masih diam. Kali ini terheran-heran.

“Tak kah kau percaya, wahai anak muda? Sungguh, aku tak berdusta!”

Pria bersayap itu mengangkat kedua telapak tangannya ke arah langit. “Ooooo… Sungguh akan aku buktikan kebenaran kata-kataku ini anak muda. Akan kutunjukkan kehidupan langit yang mengagung-agungkanmu. Akan kubuktikan kebenaran para pelangit yang memuja-mujamu.”

Pria itu masih menatapku, kali ini dengan mata berbinar. Badanku semakin menciut ketakutan.

“Anak muda, akan ku lepas sebelah sayapku dan kupasang di punggung kirimu, lalu kita berpelukan sehingga sayap di punggung kananku dan di punggung kirimu mengepak-epak membawa kita terbang”.

Pria bersayap itu melepas sayap emas berkilauan di punggung kirinya. Terlihat beberapa bulu sayap yang berupa cahaya itu rontok saat sebuah hentakkan keras melepas tulang sayap dari punggung kiri pria itu. Ia tampak kesakitan, namun buru-buru bersikap biasa.

“Berikan punggung kirimu padaku wahai anak muda!” Sambil menyeringai menahan sakit, pria itu memutar tubuhku sehingga badanku berbalik arah membelakanginya.

Dalam hitungan detik sebuah hentakkan di punggung kiriku mampu mengguncang badan kurusku yang kerempeng.

Sejurus kemudian tulang punggungku terasa ngilu dan ubun-ubunku serasa meledak. Punggungku terasa panas dan kulitnya meleleh ditembus semacam tulang rawan dari pangkal sayap emas itu. Ya, pria sialan itu menancapkan sayap kirinya pada dinding punggungku yang kini meleleh. Punggungku serasa tersiram minyak goreng panas bersuhu tiga ratus derajat celcius.

Sekuat tenaga aku berteriak. Air mataku berhamburan menahan sakit. Kulitku melepuh. Bau daging terbakar yang seketika tercium itu tampaknya berasal dari daging punggungku yang kini setengah matang. Panas. Punggungku tampaknya terbakar hebat. Tapi tak ada api. Hanya sebilah sayap berkilauan yang cahayanya menyembur, mencakar-cakar mataku yang masih menangis kesakitan.

Pria itu menepuk pundakku, “Sudah selesai anak muda! Sekarang kau punya satu sayap, begitu juga aku. Maka kita akan bisa terbang hanya jika kita berpelukan. Untuk itu, rentangkanlah tanganmu wahai anak muda, lalu sayap kita akan menapaki tangga udara hingga mencapai negeri langit!”

Aku masih menyeringai menahan rasa sakit. Sisa-sisa panas di kulit punggungku masih terasa, ngilu di tulang punggungku juga masih merangkak di sepanjang tulang. Dan kepalaku masih pening. Tiba-tiba pria itu memeluk tubuhku dengan erat. Sial. Tubuh pria itu begitu dingin. Seperti es. Wajahku yang merah seketika berubah ungu. Sayapku mulai bergerak. Ajaib. Sayap yang menyilaukan mataku itu bergerak dengan sendirinya. Terkibas-kibas sehingga debu-debu dekat kaki kiriku beterbangan.

Dan… Ya ampun. Kakiku terangkat. Aku terbang. Aku terbang. Sandal jepitku yang butut hampir saja terlepas, saat kakiku mulai meninggalkan tanah. Untung jari-jariku sigap mengapit sandal bauku itu.

Badanku dan badan pria bersayap itu turun naik setiap kali sayap kami berkepak. Setiap kepakan, sayap itu menaikkan tubuh kami ke atas sekitar satu setengah kaki. Luar biasa. Gravitasi bumi kini tak ada apa-apanya bagiku. Aku terbang. Sulit kupercaya. Aku terbang.

Aku melihat ke arah tanah. Cahaya sayapku yang tadi menggaruk-garuk tanah, kini mulai berpendar. Sementara bulu-bulunya yang juga terbuat dari cahaya semakin berkepak hebat. Semakin sayapku berkepak, semakin jauh kakiku meninggalkan tanah.

Angin mulai memukuli tubuhku. Beberapa kumpulan asap putih pun ku tembus dengan meninggalkan rasa dingin yang menggerogot tulang. Tapi matahari masih memanggang kulit kepalaku sehingga bau rambutku yang sudah satu minggu tidak keramas menyengat hidungku. Kujatuhkan pandangan ke bawah sandal jepitku. Aku seperti melihat hamparan peta besar yang berbentuk cembung. Lalu tiba-tiba beberapa menit kemudian pandanganku mengabur. Nafasku tersengal. Hidungku panas. Paru-paruku kehabisan oksigen. Sial. Aku tak bisa bernafas. Tubuhku meronta-ronta meminta oksigen. Posisi terbang kami oleng. Pria itu kewalahan mempertahankan keseimbangan. Dalam hitungan detik pandanganku menggelap dan aku tak bisa melihat apa-apa. Otakku tak bisa berpikir. Bahkan hayalanku luntur seketika, menguap diantara cakaran-cakaran lapisan bumi yang satu per satu kutembus. Dan… ah aku tak ingat lagi.



*



“Eh dia sadar…!”

Kudengar suara seseorang dengan logat yang aneh ketika mataku mulai terbuka. Sebuah logat yang tak pernah kudengar di bumi.Pandanganku perlahan mulai menjelas dan menangkap puluhan tubuh kekar bersayap cahaya yang menyilaukan mengelilingiku. Dalam hati aku bertanya, apakah mereka yang disebut malaikat? Wajah mereka seperti bintang film: putih, bersih, bercahaya dan seperti habis facial.

Beberapa di antara mereka saling berbisik satu sama lain dengan pandangan terarah padaku, ada juga yang berkali-kali mengabadikanku dengan kamera foto telepon genggamnya. Aku selebritis. Ya, aku seperti selebritis, apalagi ketika salah satu di antara mereka ada yang menyorotkan kamera video Panasonic MD 10000 ke arahku, semakin membuat aku bangga. Ibu dan kelompok arisannya yang tak bisa lepas dari acara gosip pasti akan sangat bangga melihat aku ada di televisi. Mantan pacarku yang berengsek pasti akan menyesal telah selingkuh, setelah dia tahu bahwa aku sekarang menjadi seorang selebritis. Selebritis. SE…LE…BRITIS… hahahahahaha… Aku selebritis.

“Bagaimana anak muda? Kau sudah baikan?” Pria bersayap satu yang tadi mengajakku terbang itu menghampiriku. Sayapnya masih satu, padahal sayapnya yang ia pinjamkan sudah tak ada di punggung kiriku.

“Hmm…” Pria bersayap satu itu memberi isyarat agar kerumunan orang bersayap yang mengelilingiku segera keluar ruangan.

Lalu dengan tertib orang-orang bersayap menyilaukan itu membubarkan diri. Mereka keluar ruangan dengan binar mata bahagia yang masih terpaku memandangiku. Oh, aku benar-benar menjadi pujaan mereka. Aku selebritis mereka.

“Kami adalah Pelangit, sebuah makhluk yang tercipta dari manusia yang termutasi”. Pria bersayap satu itu mulai menjelaskan setelah ruangan benar-benar kosong dari orang-orang bersayap menyilaukan dan hanya ada aku dan dia.

“Pelangit?”

“Ya, Pelangit. Kami adalah mutan yang termutasi bukan karena radiasi, tekhnologi atau semacamnya. Kami termutasi karena hati dan pikiran kami. Menurut sejarah, dulu moyang kami adalah manusia yang sudah jengah dengan manusia kebanyakan yang hobinya membuat Tuhan palsu. Tuhan-tuhan tandingan yang mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Tuhannya yang sesungguhnya. Tuhan dalam berbagai bentuk. Tuhan dalam bentuk manusia, uang, kuasa dan cinta. Maka moyang kami banyak menyendiri. Menjauhkan diri dari manusia-manusia itu. Pikiran moyang kami yang ingin lepas dari manusia-manusia pembuat Tuhan palsu telah memutasi tubuh mereka menjadi semacam manusia bersayap cahaya. Lalu karena sudah tak tahan hidup di bumi, maka moyang kami mencari tempat baru, dan di sinilah tempat baru kami: Negeri Langit”.

“Omong kosong! Aku yakin, kau tak lebih dari seorang pembual!”. Aku bangkit dari tidurku.

“Bukankah aku sudah membuktikan kebenaran negeri langit yang mengagung-agungkanmu? Tidakkah itu cukup menjadi bukti bahwa aku bukan pembual?”

“Tapi ceritamu tentang pelangit, manusia yang termutasi itu tak masuk akal!”

“Lalu apakah masuk akal sayap cahaya yang kupinjamkan padamu? Apakah masuk akal saat kau kuajak terbang menembus lapisan-lapisan atmosfer bumi? Atau apakah masuk akal negeri langit yang kini kau berdiri di dalamnya?”

Aku diam. Tak mampu menjawab. Tak berkutik. Seperti pengecut, atau penyair tolol yang tak bisa berucap. Aku tak mengerti kenapa penyair tolol sepertiku mempunyai banyak penggemar dan menjadi idola di negeri ini. Semua ini memang tak masuk akal. Sungguh tak masuk akal. Semua ini adalah lelucon yang tak bisa terjelaskan dengan logika. Ataukah akalku memang reyot, yang tak mampu menjangkau kesungguhan yang nyata? Entahlah.

Lelaki sial itu kemudian mendekatiku. Senyumnya semakin menyebalkan.

“Kau ingin memiliki sayap seperti kami, anak muda?”. Dia berbisik. Bibirnya hampir saja menyentuh telinga kananku. Ah, menjijikkan. Aku meliriknya. “Kau bisa memiliki sayap seperti kami. Sayap kami tak seperti sayap malaikat, peri atau manusia bersayap seperti yang sering kalian ceritakan pada anak-anak kalian dalam dongeng murahan. Sayap kami bukanlah sayap angsa putih yang indah. Bukan juga sayap garuda yang gagah. Sayap kami hanya terbuat dari cahaya keemasan yang cukup sederhana. Cahaya yang tak bisa terjelaskan oleh hayalan kalian, manusia tengik”.

Aku tertunduk. Kali ini aku merasa lebih dari seorang pengecut.

“Kau akan terlihat gagah dengan sayap cahaya yang membentang di balik punggungmu. Akan lebih banyak pelangit yang memujamu. Kau akan semakin terkenal, anak muda. Percayalah!”

“Apa yang harus aku lakukan untuk dapat memiliki sayap cahaya itu?”

Pria itu mengembangkan senyum paling menjijikkan yang pernah kulihat. Sebuah senyum kemenangan.

“Oooooo… Wahai selebritis Negeri Langit yang kupuja, kau sungguh pemuda beruntung. Kau akan memiliki dua bilah sayap cahaya yang akan menyilaukan mata gadis-gadis pelangit yang perawan. Sungguh kaulah pemuda beruntung, hai anak muda!”

Cerewet sekali lelaki sial itu. Aku semakin tak sabar memiliki sayap itu.

“Untuk dapat memiliki sayap cahaya agung ini, kau hanya tinggal merelakan gendang telinga kananmu, bola mata kananmu, dan ujung lidahmu untuk kami rebus. Kemudian kau minum tiga perempat air rebusannya, maka dalam waktu tiga puluh empat hari, sayap cahaya itu akan tumbuh dari balik punggungmu. Lalu seperempat air rebusan sisanya, kau siramkan pada wajahmu yang berjerawat itu, maka wajahmu akan bercahaya seperti habis facial. Dan, kau akan dipuja-puja sebagai selebritis negeri langit yang tampan nan gagah, anak muda! Sungguh kenikmatan yang tak terbayangkan”.

“Hmmm…” Aku tersenyum kesat. “Aku setuju!” Jawabku penuh kemenangan. Sebuah kemenangan bagi umat manusia atas makhluk bernama pelangit.

Pria sialan itu kembali tersenyum. Sebuah senyum yang menurutnya sebagai senyum yang mewakili kemenangan pelangit atas manusia. Tapi bagiku, ini adalah kemenanganku. Kemenangan manusia, karena mereka akan termakan kata-kata mereka sendiri. Tanpa disadari, mereka akan membuat Tuhan palsu, tuhan dalam bentuk manusia, karena mereka memujaku.*



Jakarta, 18 Mei 2011



cerpen ini diposting juga di

http://lmcr.rayakultura.net/blog/pelangit/

Baca Selengkapnya......

Minggu, Desember 05, 2010

Surat dari Hantu Sahabatku

Karya : Saepul Nurdin

Jakarta, 02 Desember 2010

Kepada sahabatku,
Saepul Nurdin

Kawan, sebelumnya aku mohon maaf karena baru kali ini aku menyempatkan diri menulis surat untukmu. Kau tahu? Akhir-ahir ini aku terlalu disibukkan oleh siksa kubur yang harus kujalani. Untuk itu mohon maklumi aku.

Bagaimana kabarmu hari ini, kawan? Lama kita tak bersua. Kudengar kau kini sudah menjadi seorang penulis. Aku bangga padamu. Tak kusangka. Dulu, kau hanya seorang pecundang yang selalu keok dalam menghadapi permainan caturku. Dulu, kau juga seorang banci yang tak pernah berani mencolek tahi lalat Pak Situmorang, guru Kimia kita saat SMA yang terkenal bertangan dingin.
Tapi inilah kau sekarang. Kini bagiku, kau jauh lebih canggih daripada teori mesin waktu yang dikemukakan Jhon Titor.

Sebaliknya, jangan pernah kau tayakan bagaimana kabarku sekarang. Kau tahu? Aku menderita di sini. Dan penderitaanku tak akan pernah bisa terjelaskan oleh bahasa dan kalimat manusia. Ya, sekalipun kau penulis hebat. Kata-katamu tak akan pernah mampu mendeskripsikan sakitnya siksaan yang harus kuterima.

Ah, sudahlah! Tak usah kujelaskan penderitaan yang kualami akibat dosa yang sempat kujalani semasa hidup itu, karena memang aku tak mampu menjelaskannya. Dan mungkin tak akan pernah mampu.

Saepul sahabatku, kau pasti heran kenapa tiba-tiba aku menulis surat ini untukmu. Jawabannya sederhana. Aku hanya ingin menyumbangkan ide untukmu. Sebagai seorang penulis, aku tahu kau butuh ide cerita untuk karya-karyamu. Maka kini aku sempatkan diri menulis surat ini untukmu dengan harapan apa yang akan aku ceritakan dalam surat ini bias kau jadikan bahan cerita dalam cerpen atau novelmu kelak.

Sahabatku, kau masih ingat gadis misterius yang pernah kuceritakan padamu enam tahun yang lalu? Kemarin lusa, aku bertemu dengannya. Ia mengenakan kerudung merah yang hanya menutupi sebagian kepalanya ketika aku menemuinya. Dia juga terlihat sangat kurus dan bahkan aku mengira beberapa bagian tulangnya sudah bolong dimakan rayap.

Pada awalnya aku tidak mengenalinya, sampai akhirnya dia menyapaku dengan sapaan terindah yang pernah dilontarkan seorang gadis. Ia menyapa dan menyebut namaku dengan lembut. Lalu tersenyum dengan senyuman khas seorang hantu


(to be continue…)

Baca Selengkapnya......

Cinta dan Tuhan yang Terlupakan

(Juara Favorit Lomba Menulis Cerpen Remaja [LMCR] Lip Ice - Selsun Awarad 2010 - Tingkat Nasional)

Ada saat dimana aku merasa semua orang yang dulu katanya sangat aku banggakan, kini hanya sebatas kumpulan alien asing yang sama sekali tak ku kenal. Bahkan orang-orang yang menurut mereka sangat mencintai akupun, kini tak lebih dari sekedar seorang figuran dalam hidupku yang mempunyai probabilitas nihil untuk meraih piala Oscar.
Sanjungan-sanjungan mereka mengenai kehebatanku dalam menulis puisi, essay, cerpen, roman dan novel, kini hanya menjadi sebuah sejarah palsu untukku. Sejarah yang seakan tak pernah terjadi sama sekali.
Lalu janji-janji yang katanya pernah ku umbar, kini hanya sebatas dongeng murahan pengantar mimpi para cecunguk.
Bukan hanya itu, bahkan nama Tuhan yang dulu susah payah dikenalkan seorang wanita tua—yang katanya ibuku, kini tak ku kenal lagi.
“Tuhan apa? Apa itu Tuhan? Siapa?” Tanyaku bodoh. Maka sejurus kemudian, wanita tua itu menampar ganas pipiku sebagai jawaban atas pertanyaan bejatku.
Mengerikan. Sangat mengerikan memang ketika aku harus kembali ke titik nol. Titik yang merampas semua database dalam otakku.
“Kecelakaan sialan itu merebutmu dariku La...”. Teriak seorang gadis cantik yang duduk lemah di atas kursi kayu tepat di samping kiriku. Air mata gadis itu mulai menerobos, mendobrak kebungkaman kelopak mata indahnya. Bibirnya bergetar puluhan scala richter, mengguncangkan kebekuan jutaan partikel yang menggentayangi wajah manisnya. Tubuhnya seperti tak bertulang. Sangat lemah. Melebihi lemahnya imanku yang sempat menguap tak bersisa.
“Kenapa La? Kenapa kamu diam saja? Kenapa?”
Mataku tak mampu memandangnya sedetikpun. Bukan hanya karena tak sanggup melihat kesedihan yang membungkus wajahnya, tapi juga karena memang aku tidak mempunyai jawaban untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
Bahkan aku mungkin tidak menyimak pertanyaannya itu, karena sejak tadi aku sibuk menggaris bawahi sepotong kata: "La" yang dilontarkan gadis itu. Dia memanggilku "La", karena aku tahu namaku Bala. Atau lebih tepatnya: karena aku baru tahu beberapa hari lalu bahwa namaku Bala. Ya, aku sempat lupa siapa namaku. Hingga wanita tua yang akhirnya kusebut Ibu itu mengenalkan aku pada diriku sendiri. Mengenalkan bahwa namaku Bala. Arbala Abdurrahman.
"Atau jangan-jangan kamu masih belum mengenalku La?" Gadis itu kembali bertanya kecewa. Sementara aku masih diam terbaring kaku di atas ranjang besi yang sudah berbau karat. Ranjang itu berdecit setiap kali gadis di sampingku menumpukan tangannya pada sisi ranjang saat memperbaiki posisi duduknya di atas kursi doyong.
“Aku Sissy, La. Tunanganmu”. Tangan gadis itu meremas jemari tanganku yang kaku. “Entah sudah berapa kali aku mengenalkan diri padamu. Berkali-kali aku berusaha membuatmu kembali mengenalku dengan harapan bisa membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Dan aku sudah kehilangan akal untuk membuatmu mengenalku apalagi membuatmu kembali jatuh cinta padaku. Semua cara sudah aku coba untuk membuatmu mengenalku. Tapi usahaku rupanya sia-sia belaka. Bahkan setiap kali aku bertanya padamu tentang apa yang bisa membuatmu mengenalku dan jatuh cinta lagi padaku, maka kamu selalu saja diam.
Lalu apalagi yang bisa membuatmu mengenalku kemudian jatuh cinta padaku?
Padahal aku sudah menulis puluhan puisi cinta untukmu yang dulu kamu ajari aku membuatnya, tapi aku lupa bahwa kamu sudah lupa bagaimana caranya membaca. Berkali-kali aku menyanyikan lagu cinta yang dulu kamu sering menghujatku karena suaraku fals tak karuan, tapi sial, aku lupa bahwa bibirmu sudah lupa bagaimana caranya bernyanyi. Sering sekali aku bercerita tentang mimpi-mimpi muluk masa depan yang dulu kamu paksa aku memilikinya, tapi aku lupa bahwa kamu ternyata sudah lupa mimpi-mimpimu sendiri. Bahkan sungguh aku tidak tahu, apakah saat ini kamu mempunyai mimpi atau tidak.
Aku lupa bahwa ternyata kamu lupa semuanya. Semuanya La. Bahwa kamu lupa pidato calon legislatif yang dulu kamu jadikan bahan guyonan. Bahwa kamu lupa karya ilmiahmu yang mensejajarkan antara primbon dan teori kekekalan energi. Bahwa kamu lupa kebiasaan burukmu yang selalu saja lupa hari ulang tahunmu sendiri. Bahwa kamu lupa jampi-jampi ajaib yang pernah kamu ajarkan padaku agar sakit gigiku sembuh. Bahwa kamu lupa dongeng-dongeng lucu yang sering kamu ceritakan setiap kali aku menangis. Kamu lupa semuanya, La...”. Gadis itu mulai memaksakan senyumnya. Senyum yang selepas apapun ia hadirkan namun ternyata tak mampu menanggalkan rasa sedih dari wajahnya yang terlalu manis untuk sebuah kesedihan.
“Kamu lupa bagaimana caranya kamu mencium bibirku yang sebenarnya tidak pernah kamu lakukan. Kamu lupa bagaimana caranya menghapus air mataku yang sebenarnya tak pernah kamu tunjukkan. Kamu juga lupa bagaimana caranya menyematkan hiasan di rambutku yang ternyata tak pernah kamu sematkan. Kamu lupa semuanya”.

Gadis itu tertunduk lemas. Ia menjatuhkan air matanya yang hangat di atas punggung tanganku yang tak mampu ia lepaskan dari genggamannya.
“Kecelakaan itu membuatmu melupakan semuanya La. Melupakan semua yang justru tak pernah bisa aku lupakan.
Tahukah kamu La? Setiap pagi, sebelum kamu terbangun dari tidur, aku selipkan sepucuk surat cinta di bawah bantal bolongmu dengan harapan kamu membacanya penuh iba, hingga akhirnya kamu kembali mencintaiku seperti dulu. Karena kamu tahu bahwa surat-surat itu berisikan tulisan yang sama, yaitu cerita tentang saat pertama kali kamu jatuh cinta padaku. Sebuah cerita yang menjabarkan kisah tentang segala sesuatu yang dulu membuatmu jatuh cinta padaku. Kisah yang tak pernah bisa aku lupakan, namun justru dengan kejam kamu lupakan.
Surat itu mengisahkan bagaimana pertemuan pertama kita yang tak pernah kita ketahui kapan waktunya. Pertemuan pertama yang tak seperti kisah dalam sinetron yang meninggalkan kesan begitu mendalam, karena pertemuan pertama kita hanyalah pertemuan dua orang anak kecil yang mengawali permainan petak umpet di halaman sekolah dasar. Dan tak seperti kisah-kisah dalam roman yang menjadikan tokohnya jatuh cinta pada pandangan pertama, maka cinta kita tumbuh apa adanya. Cinta yang tanpa kita sadari terjadi begitu saja. Cinta sederhana yang ditumbuhkan oleh waktu dan frekuensi bertemu. Bahkan jujur, aku tak menayadari datangnya cinta itu. Butuh waktu bertahun-tahun untukku menyimpulkan bahwa ternyata aku jatuh cinta padamu. Aku hanya menyadari bahwa ada rasa bahagia setiap kali aku mendengar suara motor bututmu yang memekakkan telinga. Maka hal itu kujadikan dasar bahwa ternyata aku jatuh cinta padamu. Ya, rasa bahagia setiap kali aku mendengar suara motor bututmu kujadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa aku jatuh cinta padamu.
Lalu surat itu pun mengisahkan bagaimana pertama kali kamu menyimpulkan bahwa kamu mencintai aku. Kamu yakin bahwa kamu mencintai aku setelah kamu diracuni ilmu primbon oleh tetanggamu yang berprofesi sebagai dukun sesat. Tak seperti dalam dongeng yang mengisahkan ungkapan cinta seorang kekasih untuk kekasihnya dalam suasana romantis, maka kamu mengungkapkan perasaanmu dalam suasana penuh mistis. Kamu menceritakan mimpimu yang dalam buku primbon berarti kamu telah menemukan pasangan hidupmu. Maka atas dasar ilmu primbonlah kamu yakin bahwa kamu mencintai aku”. Gadis itu kembali memaksakan senyumnya. Senyum sinis yang berusaha menyembunyikan kesedihannya.
“Kamu tahu hari ini adalah hari ketiga puluh sejak kecelakaan itu merenggut ingatanmu dariku, maka tiga puluh pucuk surat cinta itu pun tertumpuk di bawah bantal horormu yang dipenuhi gigitan tikus. Aku tidak tahu apakah surat-surat itu sudah kamu baca atau belum, yang aku tahu, bahwa setiap pagi aku selalu berusaha membuatmu jatuh cinta lagi padaku”. Air mata gadis itu kini membanjiri punggung tanganku. Setiap isak tangisnya adalah tusukan belati beracun yang sewaktu-waktu bisa membunuhku.
“Lalu apakah sebuah kesalahan jika aku mengemis suatu kenyataan dimana kamu mencintai aku lagi? Jawab La! Jawab! Jangan diam saja! Aku mohon! Jawab! Jawab La! Jawab…” Tangisnya semakin menjadi-jadi. Maka isakkannya yang serupa belati beracun itu tak henti mencabik setiap lapisan organ dalam hatiku. Ia merobek sisi rasionalku, lalu meruntuhkan hukum-hukum fisika yang selama ini menjamuri otakku.
Gadis cengeng itu menciumi punggung tanganku yang sudah basah sambil tak henti memohon seperti pengemis yang mengobral penderitaan. Air matanya tak terbendung hingga akhirnya dengan payah ia mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk lemas. Lagi-lagi ia memaksakan senyumnya yang hambar.
“Hmmmm... Aku lupa bahwa kamu sudah melupakan semuanya. Dan kamu lupa bagaimana caranya menjawab pertanyaan. Maka kamu hanya diam. Ya, hanya diam yang ternyata tidak kamu lupakan. Kamu masih hapal benar bagaimana caranya diam. Sialnya aku lupa bahwa kamu hanya bisa diam. Maafkan aku La, aku hanya ingin kamu mencintai aku. Lagi. Seperti dulu. Sebelum kamu melupakan aku. Itu saja!”.
Kalimatnya meruntuhkan setiap keangkuhan dan kesombonganku. Dengan sangat berat, pandanganku yang sejak awal terpaku pada atap rumahku yang bobrok, kini kualihkan ke arah wajah gadis itu yang meskipun melepaskan senyuman namun kesedihan masih saja membungkus wajahnya.
“Maaf La. Lagi-lagi aku lupa bahwa mencintai seseorang yang tidak kamu kenal sama sekali adalah sebuah kesulitan yang teramat sangat. Dan mengenalkan diriku padamu adalah sebuah kesulitan teramat sangat yang lain. Kesulitan yang berulang kali memaksa air mataku membanjiri punggung tanganmu. Apakah tak ada sepatah kata pun yang mengabarkan hal itu padamu? Maafkan aku La..”
Gadis itu menangis lagi. Dan aku diam lagi. Menutup mataku lagi.
Gelap mulai menghapus semua titik cahaya di setiap sudut mataku. Ia pun merobek garis-garis sinar di setiap tepian imajenasiku. Bahkan gelap tengah menyumpal kedua lubang telingaku, sehingga isak gadis itu pun raib di ujung pendengaranku. Semuanya lenyap dan aku tak ingat lagi. Semuanya sirna begitu saja. Hilang.
Ah, sial. Aku tak ingat lagi.

***

Gadis itu sudah tak ada di sampingku lagi ketika kubuka mata. Tak kudengar lagi isak tangisnya namun air matanya masih tergenang di atas punggung tanganku. Air mata itu seolah melelehkan kulit tanganku dan menjilati belulangku dengan rakus.
"Almarhum ayahmu, Le!" Seorang wanita tua yang sudah bungkuk dan payah mengagetkanku dengan suaranya yang horor. Entah sejak kapan ia berada di sana. Di salah satu sudut kamar.
"Almarhum ayahmu pasti akan mengurungmu di kandang kambing lagi kalau dia tahu kamu melupakan Tuhanmu, Le!" Lanjut wanita tua yang kusebut Ibu itu sambil membereskan obat-obatan dan sisa sarapanku di meja kayu yang tepiannya sudah berlumut.
"Susah payah kami mengenalkan Tuhan padamu Le, tapi kecelakaan itu mengambil nama Tuhan dalam hati dan otakmu hanya dalam waktu beberapa detik saja".
Ibu tua itu mulai berjalan tertatih menghampiriku sambil mengeluarkan sejumput daun sirih dari sela-sela kain samping yang meliliti perut keriputnya, kemudian dengan ganas mengunyah daun sirih itu seperti kerbau melahap rumput.
Tak lama ia duduk di samping kiriku sehingga ranjang reyotku berdecit kesakitan menahan berat badan wanita tua bernama Ibu itu.
"Coba kamu ingat-ingat lagi Le nama Tuhanmu!" Ibu mulai memohon sambil memperbaiki letak selimut yang menutupi tubuhku. Selimut tua yang sepanjang sisinya sudah tercabik-cabik.
"Emak khawatir, jika nanti malaikat menanyaimu tentang siapa Tuhanmu, lantas kamu diam saja seperti ini. Emak malu sama malaikat, Le. Terlebih sama Tuhan. Emak malu”.
Aku memandangi wajahnya yang penuh harap. Wajah yang dipenuhi keriput namun tak pernah terlihat lelah. Wajah wanita tua itu seperti penggambaran cinta yang sesuangguhnya.
“Kamu juga pasti tahu Le kisah tentang suatu kaum yang melupakan Tuhannya, kemudian kaum itu dibinasakan sejadi-jadinya. Emak tidak mau hal itu terjadi padamu, Le. Terjadi pada kita! Makanya Emak mohon, ingat nama Tuhanmu, Le. Emak mohon!”.
Ia memegang tanganku, kemudian meremasnya. Sangat erat, sehingga aku dapat merasakan aliran darah mengalir deras dalam tubuh peotnya. Matanya yang sayu menusuk retina mataku dengan jutaan harapan. Giginya yang kuning dan panjang seperti bambu runcing para pejuang mulai bergemulutuk hebat.
Aku lihat bibirnya mulai menuntunku mengingat nama Tuhan.
"Katakan: Allah!" Bisiknya pasti. Kalimatnya membuat badanku bergetar dahsat. Tremor mengguncang ranjang bututku. Keringatku menyembur dari berbagai celah pori-pori.
"Allah..." Ibu terus menuntunku dengan harapan bibir dan lidahku segera mengucapkan nama Tuhan.
Tiba-tiba badanku panas. Tubuhku menggigil. Nafasku seperti tersangkut dalam kerongkongan. Lalulintas darahku kacau dan jantungku lelah. Nadiku mematung sedangkan otak membeku, tak mampu lagi berpikir. Apakah ini waktunya aku dibinasakan? Pikirku ngawur. Namun sebelum pertanyaan itu terjwab, gelap kembali mencengkeram mataku. Lalu dengan ganas menutupi lubang telingaku. Dan aku tidak ingat lagi. Aku kembali melupakan semuanya. Semuanya tanpa sisa.
"Bodoh!" kataku dalam hati.

Jakarta, 8 Februari 2009

Baca Selengkapnya......

Rabu, September 15, 2010

Bisnis Negeri Dongeng


"Mana Negeri pesananku, kawan?" seorang pria paruh baya berbadan buncit tergesa-gesa menghampiriku. Wajahnya sumringah seperti penjudi menang lotre.
"Mana negeri dongeng pesananku? Bukankah sudah setengah tahun aku memesannya? Ayolah kawan, aku sudah tak sanggup lagi menunggu! Aku takut ajal keburu merengkuhku sebelum aku mendapatkan negeri dongeng itu! Kau tahu kan kawan, aku sudah membayarmu dengan tiga tahun uang pensiunku hanya untuk menikmati kehidupan senjaku di negeri dongeng itu! Aku sudah bosan disini! Disini orang sepertiku yang banyak menghayal, bisa-bisa mati karena hayalanku sendiri. Kau dan bahkan orang tuamu tahu benar bahwa aku ini penghayal akut yang tidak akan pernah bisa hidup tanpa menghayal.
Nah, celakanya, disini, di negeri ini, penghayal payah seperti aku ini dianggap gila! Ya, gila kawan! Apakah mereka lupa bahwa Einstein, Faraday, James Watt, dan orang-orang yang menjadi aktor utama di setiap buku pelajaran fisika itu awalnya seorang penghayal? Ah, mereka mungkin pura-pura tidak tahu, karena mereka itu pengecut. mereka itu pecundang yang tidak mempunyai keberanian untuk menghayal. Mungkin mereka takut gila! Padahal kegilaan adalah darah yang mengalir pada diri mereka. Tapi mereka tidak tahu, atau mungkin sengaja tidak mau tahu.
Kawan, mana negeri dongeng yang kupesan itu? Kau tahu, di negeri dongeng yang kupesan itu, penghayal tua dan peyot seperti aku, yang dianggap sampah di negeri ini, bisa-bisa menjadi presiden disana. Ya, setidaknya jadi lurah, atau cukup wakil ketua majlis taklim lah.
Maka dari itu, mana negeri dongeng yang kupesan lengkap dengan mesin pembaca pikiran yang mampu mendeskripsikan hayalan seseorang, sehingga kita tak banyak berburuk sangka pada setiap orang.
Mesin itu bukan mesin tua peninggalan penjajah yang sudah usang seperti mesin-mesin andalan di negeri ini yang merupakan sisa penjajah.
Mesin pembaca pikiran itu, sebagaimana yang kau tahu, kawan, adalah hasil karya sang penghayal. Ya, mesin itu adalah maha karya dari seorang penghayal yang hanya menjadi sampah di Negeri taik kucing ini!
Ayolah kawan, mana negeri pesananku itu? Jauh-jauh hari aku sudah siapkan passport.
Aku percaya padamu, karena aku tahu, pak Sarjo, yang dulu memesan negeri damai padamu, kini hidup bahagia disana. Aku ingin seperti pak Sarjo. Atau Romlah yang sekarang hidup bahagia di negeri anti korupsi, Minar dan suaminya yang sekarang hidup damai di negeri tanpa kata, samsul dan keluarganya yang adem ayem di negeri kapas, atau Karyono yang menikmati masa tuanya di negeri tanpa keriput, Parman dan selingkuhannya yang sukses di negeri tanpa teroris, Jarkum di negeri perawan, Tukiyem di negeri tanpa janji, Michele di negeri mimpi, Ismet di Negeri Maksiat, Jarkum di negeri Jujur, Markonah di Negeri Pemalas, Toto di negeri seni, Kristi di negeri judi dan Robert di negeri ide.
Aku tahu mereka membeli negeri-negeri itu darimu kawan, maka sekarang mana negeri pesananku? Mana? Jangan sampai kau biarkan aku membeli negeri yang kuinginkan itu pada calo penjual negeri karena bosan menunggumu!
Ayolah kawan, mana negeri pesananku?"
Kemudian aku mengeluarkan brosur dalam tas kusutku yang bau, dan mulai menjelaskan isi brosur norak itu,
"Barda kawanku, negeri dongeng sedang tak ada stok, bagaimana kalau negeri ini saja?" Aku serahkan brosur warna-warni itu, pada kawan tua ku, Barda.
"Negeri gemah ripah loh jinawi?" Barda membaca nama negeri dalam brosur itu.
"Okey. Asalkan nama negerinya bukan sekedar slogan, ya kawan"
Aku mengangguk tipis dengan jutaan rasa pesimis dan keraguan yang membebani kepalaku yang botak. Tapi tak apalah yang penting bisnis jualan negeriku lancar...


Baca Selengkapnya......

Senin, Agustus 30, 2010

Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) 2010


Persyaratan umum :
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan EYD yang benar;
Naskah harus asli, tidak boleh terjemahan, saduran atau mengambil ide dari kary aorang lain;
Cerita tidak boleh mengandung unsur SARA;
Tema adalah “Pemerintahan oke, rakyat bahagia”;
Naskah belum pernah dipublikasikan di media apapun;
Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah;
Redaksi Annida Online berhak menggganti judul maupun menyunting isi;
Naskah yang tidak menang tapi layak muat, akan dimuat di annida online dan mendapat honor yang sesuai

Untuk persyaratan teknis teman-teman bisa masuk di situs www.annida-online.com atau klik disini jangan lupa juga isi formulirnya.

SEMOGA IDE TAK MATI!!!!

Baca Selengkapnya......

Minggu, Mei 23, 2010

Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) 2010


Berhadiah Total Rp 85 Juta + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
Peserta Siswa SLTP (Kategori A), Siswa SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C)

Syarat-syarat Lomba:
Lomba ini terbuka untuk pelajar tingkat SLTP (Kategori A), SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C) dari seluruh Indonesia maupun yang studi/bekerja di luar negeri. Kecuali keluarga besar PT ROHTO Laboratories Indonesia dan Panitia/Dewan Juri LMCR 2010
Lomba dibuka 21 April 2010 dan ditutup 15 September 2010 (Stempel Pos)
Tema Cerita: Dunia remaja dan segala aspek kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita, derita dan kekecewaan)
Judul bebas tetapi harus mengacu tema Butir 3
Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia literer (indah, menarik, mengalir) dan komunikatif. Bahasa gaul dan bahasa daerah/asing boleh digunakan untuk segmen dialog para tokohnya – jika itu diperlukan dan sesuai dengan tema
Naskah yang dilombakan harus asli (bukan jiplakan) dan belum pernah dipublikasi
Ketentuan Khusus:
Naskah ditulis di kertas ukuran kuarto, ditik berjarak 1,5 spasi, font 12, huruf Times New Roman, margin justified 2 Cm, panjang naskah antara 6 – 10 halaman, dikirim ke panitia dalam bentuk printout 3 (tiga) rangkap/copy disertai file dalam bentuk CD.
b. Cantumkan sinopsis maksimal 1 (satu) halaman, mini-biodata pengarang, foto 4R, fotocopy KTP atau SIM/Paspor/Student Card
Setiap judul cerpen yang dilombakan wajib dilampiri kemasan LIP ICE (bagian kartonnya) atau segel SELSUN Shampo jenis apa saja
d. Naskah cerpen yang dilombakan beserta persyaratannya dimasukkan ke dalam satu amplop (boleh berisi beberapa judul), cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2010 dan Kategori-nya di atas amplop kanan atas dan dikirim ke: Panitia LMCR-2010 LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City Bogor 16810
Hasil lomba diumumkan tanggal 15 Oktober 2010 melalui www.rayakulturanet dan www.rohto.co.id
Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat
Hasil Lomba:

Masing-masing kategori: Pemenang I, II, II dan 5 (lima) Pemenang Harapan Utama, 10 (sepuluh) Pemenang Harapan dan Pemenang Karya Favorit untuk Kategori A: 20 Pemenang, Kategori B: 60 Pemenang dan Kategori C: 100 Pemenang.

Hadiah Untuk Pemenang:

Kategori A (Pelajar SLTP)
Pemenang I – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
Pemenang II – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
Pemenang III – Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam LIP ICE-SELSUN
20 (dua puluh) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN
Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Utama LMCR-2010
Sekolah Pemenang I, II dan II berhak mendapat 1 (satu) unit TV

Kategori B (Pelajar SLTA)
Pemenang I – Uang Tunai Rp 5.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
Pemenang II – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
Pemenang III – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam LIP ICE-SELSUN
60 (enam puluh) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN
Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Utama LMCR-2010
Sekolah Pemenang I, II dan III berhak mendapat 1 (satu) unit TV

Kategori C (Mahasiswa/Guru/Umum)
Pemenang I – Uang Tunai Rp 7.500.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
Pemenang II – Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
Pemenang III – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari + Piagam LIP ICE-SELSUN
100 (seratus) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN
Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Utama LMCR-2010
Naskah cerpen yang dilombakan jadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarangnya. Informasi lebih lanjut e-mail ke rayakultura@gmail.com

Jakarta, 10 April 2010

Ketua Panitia LMCR-2010

Dra. Naning Pranoto, MA


(Sumber: http://www.rayakultura.net/blog/2010/04/lomba-menulis-cerpen-remaja-lmcr-2010/

Baca Selengkapnya......

Rabu, Juni 10, 2009

Ketika Tuhan Hanya sebagai Pelengkap Imajenasimu

Sentuhlah bibirku maka akan kuingatkan kau tentang Tuhan. Tentu saja Tuhan sesungguhnya, bukan tuhan yang selama ini hanya sekedar menjadi pelengkap imajenasi mu.
Takkah kau dengar sekerat kabar yang kukirimkan padamu melalui kerangka logika yang ku susun dalam batas-batas mimpi Einstein?
Atau seberkas berita yang kulampirkan dalam gurat-gurat senja yang kusematkan di ujung retina matamu?
Maka sekali lagi sentuhlah bibirku, sehingga kubisikkan sebuah kata yang sering dibisikkan oleh pemeran utama laki-laki pada pemeran utama wanita dalam dongeng cinta.
Ah, jangan-jangan kau sudah lupa dongeng memuakkan itu.
Jangan-jangan kau juga sudah melupakan aku.
Sudahlah.


Karawang, 8 juni 2009

Baca Selengkapnya......

Sabtu, Mei 16, 2009

Kutipan Novel ”Catatan Diantara Kitab Cinta”

Ipung. Laki-laki yang sempat membuat aku jatuh cinta itu bernama Ipung. Satu-satunya laki-laki yang mengajakku menikah. Satu-satunya laki-laki yang mampu membuat aku merasa menjadi wanita terbaik di dunia. Tapi sekarang aku tidak tahu ada dimana dia.
“Ibuku mau menikah dengan Om Arya. Kata ibuku, Om Arya orangnya baik, jadi ibu memutuskan untuk menikah dengannya”. Suara itu membuatku terpelanting jauh kembali ke masa lalu. Tubuhku seperti menciut. Organ-organnya seperti terlempar oleh tendangan mesin waktu yang membawaku ke masa itu. Masa dimana seorang laki-laki cilik berusia sekitar enam tahunan berjalan pelan di sampingku. Aku berusaha mengimbangi langkah lelaki cilik itu. Dan kaki kecilku yang terbungkus sepatu lucu berwarna-warni, tampak sibuk mengikuti langkah kakinya.
“Xa, kamu temanku yang paling baik. Kamu selalu membela aku saat aku dihukum Bu guru. Aku tahu, aku ini anak yang bandel, tapi aku tidak tahu kenapa ada orang baik seperti kamu yang mau membela anak bandel seperti aku!”
Aku hanya tersenyum waktu itu. Senyumku memang masih terlihat imut untuk ukuran gadis berusia enam tahun. Ya, itu adalah senyumku sebagai anak SD yang tidak mengerti kenapa anak seusia Ipung tampak berpikiran dewasa. Entahlah! Yang aku tahu, ada sebuah kalimat pendeknya yang tidak akan pernah bisa aku lupakan,
“Kamu mau nggak, nikah sama aku?”
Matanya entah menjatuhkan pandangan ke arah mana, yang jelas terlihat dari bibir lelaki cilik itu hanya gerakan-gerakan lucu yang membuatku tak bisa menahan senyum saat mengingatnya. “Kata Ibuku, dia menikah dengan Om Arya karena Om Arya adalah orang baik. Nah, kamu kan selama ini baik banget ke aku, jadi aku ingin menikah sama kamu, Xa!!”
Sekali lagi aku tersenyum. Dan aku hanya bisa diam, sampai akhirnya dia mengalihkan topik pembicaraan.
Aku masih tak habis pikir, darimana dia menemukan kalimat-kalimat seperti itu? Jangan-jangan dia menirukan dialog dari salah satu scene film atau sinetron yang tidak terklasifikasi dengan baik. Aku tahu, bahkan hapal benar judul-judul sinetron dewasa dalam usiaku yang keenam. Hal itu tidak aneh, karena memang sinetron-sinetron dewasa banyak yang diputar tanpa memperhatikan waktu. Akhirnya anak-anaklah yang terkena dampaknya. Mereka dewasa sebelum waktunya. Dan aku adalah salah satu dari jutaan anak-anak yang merasa dewasa sebelum waktunya. Lalu aku menyebutnya Jatuh Cinta. Ya, aku jatuh cinta pada lelaki cilik itu, walaupun aku sendiri tidak pernah tahu, waktu itu, tentang arti cinta yang sering aku agung-agungkan. Aku hanya tahu, bahwa cinta adalah seperti apa yang diajarkan oleh sinetron. Hmp… Entahlah!
Satu bulan setelah itu, Ipung bersama Ibunya, diajak pindah ke Palembang oleh ayah barunya. Palembang memang kota kelahiran ayah barunya itu. Dan sejak saat itu pula aku tidak pernah menemuinya lagi.
Hingga hari ini. Diantara bingkai jendela ini. Diantara suara kumbang pohon dan binatang malam lain yang membuat aku kembali ke masaku yang sesungguhnya. Ke masa dimana aku termangu diantara suara dengkuran Lyan. Hmp… enaknya bisa terlelap semudah itu.

Diambil dari Novel CATATAN DIANTARA KITAB CINTA by Saeful Nurdin @ 2004


Baca Selengkapnya......

Kamis, April 30, 2009

Setelah Aku Jual Pantat Artis Dangdut di Panggung Kampanye Dengan Harga Murah

"Mari kita berbagi kekuasaan!"
"Bukan. Ini bukan berbagi kekuasaan, tapi upaya membentuk pemerintahan yang kuat!"
"Nanti jika kita kalah, kita akan menyalahkan segala kebijakan dan membuka borok-borok penguasa yang menang itu!"
"Pantat-pantat artis dangdut yang kita jual murah saat kampanye legislatif akan menjadi andalan lagi sebagai pelengkap janji-janji taik kucing kita"
"Maka aku akan mensejahterakan rakyat setelah ku jual pantat artis dangdut di panggung kampanye dengan harga murah"
"Lihat! Ada partai yang katanya membela hak-hak perempuan, tapi dalam kampanyenya mengobral pantat para biduanita"
"Ada juga yang peduli terhadap masa depan bangsa, namun membiarkan anak-anak mereka menikmati pantat para artis saweran itu"


Jakarta 30 April 2009
Setelah menyaksikan rencana koalisi bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat

Baca Selengkapnya......

Jumat, Februari 27, 2009

Ah, Damn! Jangan-jangan Ideku Mati!

Apakah kata-kata di dunia ini sudah habis sehingga aku tak bisa berkata-kata lagi?
Padahal kulihat mereka mengobral kata-katanya dalam janji-janji di televisi.
Apakah kata-kata sudah tidak mempunyai makna sehingga tak ada arti dalam kata-kataku
Padahal kulihat mereka masih memperjualbelikan kata-katanya yang membuat mereka merasa bermakna.
Apakah kata-kata
sudah tak mencair lagi di ujung pena-ku sehingga tak ada lagi karya yang kucipta padahal kulihat buku-buku sejarah palsu masih banyak dipelajari di sekolah.
Apakah kata-kata sudah beku di ujung lidahku sehingga mulutku tak bisa bicara padahal kulihat mereka bicara tentang keadilan yang ternyata hanya memihak pada dirinya sendiri.
Ah, jangan-jangan ideku mati.
Sial.




Jakarta, 27 Februari 2009

Baca Selengkapnya......

Sabtu, Februari 21, 2009

Wanita itu Bernama Peri

Wanita itu bernama peri,
jangan tanyakan siapa atau bagaimana!
Wanita itu bernama peri,
di atas kertas tujuh purnama
Sekedar pengisi pilar gading putih tanpa nama!
wanita itu bernama peri,
di ujung pena merah jingga atau cukup di bawah air mata!
Wanita itu bernama peri,
di bawah ketiak malaikat ungu bersayap satu atau hanya patung bunda tak bernyawa.
Wanita itu bernama,
LIA SEPTIANI...



Karawang, 10 September 2007
jam 12:12:34

Baca Selengkapnya......

Sabtu, Februari 14, 2009

Cinta dari Seorang Ibu Tua dan Anaknya yang Kurus itu

"Apa yang kamu tahu tentang cinta, nak?" Seorang ibu tua bertanya padaku dengan suara yang hampir tak terdengar. Mataku yang sejak tadi terpaku pada barisan kalimat dalam buku kumpulan cerpen karya Seno Gumira Adjidarma, kini menatap ibu tua yang tengah sibuk menata posisi kepala anaknya yang sedang menetek padanya. Tetek-nya yang sudah keriput dengan susah payah dieksplorasi sang anak yang tampak kelaparan.
Anak itu seperti tak berdaging. Tak berlemak. Tapi perutnya buncit seperti balon mau pecah. Kepalanya botak seperti makhluk luar angkasa.
"Cinta adalah apa yang aku lihat saat ini" Jawabku sekenanya.
Ibu tua itu tersenyum.
"Kau benar nak..."

Jakarta 14 Februari 2009

Baca Selengkapnya......

Kamis, Februari 12, 2009

Cinta dan Tuhan yang Terlupakan

Ada saat dimana aku merasa semua orang yang katanya dulu sangat aku kenal, kini hanya sebatas kumpulan alien yang asing dan sungguh mengerikan. Bahkan orang-orang yang menurut mereka sangat mencintai akupun tak lebih dari sekedar seorang figuran yang mempunyai probabilitas nihil untuk meraih oscar awards.
Sanjungan-sanjungan mereka mengenai kehebatanku dalam menulis puisi, essay dan novel, kini hanya menjadi sejarah palsu untukku.
Bukan hanya itu, bahkan nama Tuhan yang dulu susah payah dikenalkan seorang wanita tua--yang katanya ibuku, kini tak ku kenal lagi.
"Tuhan apa? Apa itu Tuhan? Siapa?" Tanyaku bodoh. Maka sejurus kemudian wanita tua itu menampar ganas pipiku sebagai jawaban atas pertanyaan kejamku.
Mengerikan. Sangat mengerikan memang ketika aku harus kembali ke titik nol. Titik yang merampas semua database dalam otakku.

"Kecelakaan sialan itu merebutmu dariku La...". Teriak seorang gadis cantik yang duduk lemah di atas kursi kayu tepat di sampingku. Air mata gadis itu tak mampu ku bendung. Bibirnya bergetar puluhan scala richter. Dan tubuhnya seperti tak bertulang. Sangat lemah. Melebihi lemahnya imanku yang sempat menguap tak bersisa.
"Kenapa La? Kenapa kamu diam saja? Kenapa?"
Mataku kupaksakan terpejam. Bukan hanya karna tak sanggup memandang wajahnya yang sedih, tapi juga karna memang aku tidak mempunyai jawaban untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
Bahkan aku mungkin tidak menyimak pertanyaan itu, karna sejak tadi aku sibuk menggaris bawahi sepotong kata: "La" yang dilontarkan gadis itu. Dia memanggilku "La", karna aku tahu namaku Bala. Atau lebih tepatnya: karna aku baru tahu beberapa hari lalu bahwa namaku Bala. Ya, aku sempat lupa siapa namaku. Hingga wanita tua yang akhirnya kusebut ibu itu mengenalkan aku pada diriku sendiri.
Mengenalkan bahwa namaku Bala. Bala Akbaruddin.
"Atau kamu masih belum mengenalku La?" Gadis itu kembali bertanya kecewa. Matanya semakin tak bercahaya. Seperti selimut hitam bernama malam.
"Aku Sissy, tunanganmu, La... Entah sudah berapa kali aku mengenalkan diri padamu. Berkali-kali aku berusaha membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Dan aku sudah kehilangan akal untuk membuatmu jatuh cinta padaku lagi. Semua cara sudah aku coba. Tapi setiap kali aku bertanya padamu tentang apa yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku, kamu selalu diam.
Lalu apalagi yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku?
Padahal aku sudah menulis puluhan surat cinta untukmu yang dilengkapi puisi-puisi cinta yang dulu kamu ajari aku membuatnya, tapi aku lupa bahwa kamu sudah lupa bagaimana caranya membaca. Bahkan kata-kata itu kini termumikan dalam otak kananmu.
Berkali-kali aku menyanyikan lagu cinta yang dulu kamu sering menghujatku karna suaraku fals tak karuan, sial, aku lupa sayang, bahwa bibirmu sudah lupa bagaimana caranya bernyanyi. Dan insting mu awam terjemahkan nada.
Entah berapa kali aku bercerita tentang sepeda reyotku yang kini ban nya bocor padahal sepeda itu dulu kamu pakai untuk memboncengku pulang mengaji, ah aku lupa bahwa kamu pasti sudah lupa apa merk sepedaku. Bahkan mungkin kamu tidak tahu apa itu arti sepeda.
Sering sekali aku bercerita tentang mimpi-mimpi muluk masa depanku yang dulu kamu paksa aku memilikinya, tapi aku lupa bahwa kamu ternyata sudah lupa mimpi-mimpimu sendiri. Bahkan sungguh aku tidak tahu, apakah saat ini kamu punya mimpi atau tidak.
Aku lupa bahwa ternyata kamu lupa semuanya. Semuanya La. Kamu lupa pidato calon legislatif yang dulu kamu jadikan bahan guyonan. Kamu lupa rumus-rumus unsur dan senyawa kimia yang dulu terpasang di dinding kamarmu. Kamu lupa atas kekecewaanmu terhadap Sherlock Holmes saat berduel dengan Profesor Moriarty. Kamu lupa bagaimana caranya kamu mencium bibirku yang sebenarnya tidak pernah kamu lakukan. Kamu lupa bagaimana caranya menghapus air mataku yang sebenarnya tak pernah kamu tunjukkan. Kamu juga lupa bagaimana caranya menyematkan hiasan di rambutku yang ternyata tak pernah kamu sematkan.
Kamu lupa semuanya. Semuanya La. Dan kamu diam. Ya, hanya diam yang ternyata tidak kamu lupakan. Kamu masih hapal benar bagaimana caranya diam. Sialnya aku lupa bahwa kamu hanya bisa diam. Maafkan aku La, aku hanya ingin kamu mencintai aku. Lagi. Seperti dulu. Sebelum kamu melupakan aku. Lagi-lagi aku lupa bahwa mencintai seseorang yang tidak kamu kenal sama sekali adalah kesulitan luar biasa. Dan mengenalkan diriku padamu adalah sebuah kesulitan luar biasa yang lain. Kesulitan yang berulang kali memaksa air mataku tumpah. Maafkan aku La.."
Gadis itu menangis lagi. Dan aku diam lagi. Menutup mataku lagi. Lalu gelap menutupi semuanya. Tak setitik cahayapun menusuk mataku. Semuanya terbingkis gelap yang mengerikan. Lalu kegelapan itupun menutupi telingaku. Isak gadis itu pun raib di ujung telingaku hingga benar-benar senyap dan aku tak ingat lagi. Semuanya lenyap begitu saja. Lenyap.

***

"Almarhum ayahmu, Le! Dia pasti akan mengurungmu di kandang kambing kalau dia tahu kamu melupakan Tuhanmu!" Gumam wanita tua yang kusebut ibu itu sambil membereskan obat-obatan dan sisa sarapanku di meja kayu.
"Susah payah kami mengenalkan Tuhan padamu Le, tapi kecelakaan itu mengambil nama Tuhan dalam hati dan otakmu dalam waktu beberapa detik saja.
Coba kamu ingat-ingat lagi Le nama Tuhan mu!
Emak khawatir, jika nanti malaikat menanyai mu tentang siapa Tuhanmu, lantas kamu diam saja seperti ini. Emak malu sama malaikat, Le, terlebih sama Tuhan. Makanya Emak mohon, ingat nama Tuhan mu, Le. Emak mohon!". Dia memegang tanganku. Matanya menusuk retina mataku dengan jutaan harapan.
Aku lihat bibirnya mulai menuntunku mengingat nama Tuhan.
"Katakan: Allah!" Bisiknya pasti. Kalimatnya membuat badanku bergetar hebat. Keringatku menyembur dari berbagai celah pori-pori.
"Allah..." Ibu terus menuntunku dengan harapan bibir dan lidahku segera mengucapkan nama Tuhan.
Tapi tiba-tiba gelap kembali mencengkeram mataku. Sunyi menutupi lubang telingaku. Sekejap bau keringat ibu pun lenyap. Dan aku tidak ingat lagi. Aku kembali melupakan semuanya. Semuanya tanpa sisa.
"Bodoh!" kataku dalam hati.


Jakarta, 8 Februari 2009

Baca Selengkapnya......

Cari Ide di Blog ini

Regards, Ipung

Template by : kendhin x-template.blogspot.com