
"Mana Negeri pesananku, kawan?" seorang pria paruh baya berbadan buncit tergesa-gesa menghampiriku. Wajahnya sumringah seperti penjudi menang lotre.
"Mana negeri dongeng pesananku? Bukankah sudah setengah tahun aku memesannya? Ayolah kawan, aku sudah tak sanggup lagi menunggu! Aku takut ajal keburu merengkuhku sebelum aku mendapatkan negeri dongeng itu! Kau tahu kan kawan, aku sudah membayarmu dengan tiga tahun uang pensiunku hanya untuk menikmati kehidupan senjaku di negeri dongeng itu! Aku sudah bosan disini! Disini orang sepertiku yang banyak menghayal, bisa-bisa mati karena hayalanku sendiri. Kau dan bahkan orang tuamu tahu benar bahwa aku ini penghayal akut yang tidak akan pernah bisa hidup tanpa menghayal.
Nah, celakanya, disini, di negeri ini, penghayal payah seperti aku ini dianggap gila! Ya, gila kawan! Apakah mereka lupa bahwa Einstein, Faraday, James Watt, dan orang-orang yang menjadi aktor utama di setiap buku pelajaran fisika itu awalnya seorang penghayal? Ah, mereka mungkin pura-pura tidak tahu, karena mereka itu pengecut. mereka itu pecundang yang tidak mempunyai keberanian untuk menghayal. Mungkin mereka takut gila! Padahal kegilaan adalah darah yang mengalir pada diri mereka. Tapi mereka tidak tahu, atau mungkin sengaja tidak mau tahu.
Kawan, mana negeri dongeng yang kupesan itu? Kau tahu, di negeri dongeng yang kupesan itu, penghayal tua dan peyot seperti aku, yang dianggap sampah di negeri ini, bisa-bisa menjadi presiden disana. Ya, setidaknya jadi lurah, atau cukup wakil ketua majlis taklim lah.
Maka dari itu, mana negeri dongeng yang kupesan lengkap dengan mesin pembaca pikiran yang mampu mendeskripsikan hayalan seseorang, sehingga kita tak banyak berburuk sangka pada setiap orang.
Mesin itu bukan mesin tua peninggalan penjajah yang sudah usang seperti mesin-mesin andalan di negeri ini yang merupakan sisa penjajah.
Mesin pembaca pikiran itu, sebagaimana yang kau tahu, kawan, adalah hasil karya sang penghayal. Ya, mesin itu adalah maha karya dari seorang penghayal yang hanya menjadi sampah di Negeri taik kucing ini!
Ayolah kawan, mana negeri pesananku itu? Jauh-jauh hari aku sudah siapkan passport.
Aku percaya padamu, karena aku tahu, pak Sarjo, yang dulu memesan negeri damai padamu, kini hidup bahagia disana. Aku ingin seperti pak Sarjo. Atau Romlah yang sekarang hidup bahagia di negeri anti korupsi, Minar dan suaminya yang sekarang hidup damai di negeri tanpa kata, samsul dan keluarganya yang adem ayem di negeri kapas, atau Karyono yang menikmati masa tuanya di negeri tanpa keriput, Parman dan selingkuhannya yang sukses di negeri tanpa teroris, Jarkum di negeri perawan, Tukiyem di negeri tanpa janji, Michele di negeri mimpi, Ismet di Negeri Maksiat, Jarkum di negeri Jujur, Markonah di Negeri Pemalas, Toto di negeri seni, Kristi di negeri judi dan Robert di negeri ide.
Aku tahu mereka membeli negeri-negeri itu darimu kawan, maka sekarang mana negeri pesananku? Mana? Jangan sampai kau biarkan aku membeli negeri yang kuinginkan itu pada calo penjual negeri karena bosan menunggumu!
Ayolah kawan, mana negeri pesananku?"
Kemudian aku mengeluarkan brosur dalam tas kusutku yang bau, dan mulai menjelaskan isi brosur norak itu,
"Barda kawanku, negeri dongeng sedang tak ada stok, bagaimana kalau negeri ini saja?" Aku serahkan brosur warna-warni itu, pada kawan tua ku, Barda.
"Negeri gemah ripah loh jinawi?" Barda membaca nama negeri dalam brosur itu.
"Okey. Asalkan nama negerinya bukan sekedar slogan, ya kawan"
Aku mengangguk tipis dengan jutaan rasa pesimis dan keraguan yang membebani kepalaku yang botak. Tapi tak apalah yang penting bisnis jualan negeriku lancar...
Copy-Paste kode di bawah, untuk pasang banner ini....
untuk pilihan Banner lain, silakan Temans Klik di sini
Karya Ipung
- Banner n Blog Info (2)
- Based on True Story (2)
- buku (4)
- Cerpen (10)
- Essay (1)
- Fiksi Mini (1)
- FlashFiction (4)
- Lagu (1)
- Monolog (1)
- Motivasi (2)
- News n Info (2)
- novel (2)
- Photo (1)
- Puisi (5)
Rekomendasi Karya(4Download)
Gimana blog ini menurut kamu?
Rabu, September 15, 2010
Bisnis Negeri Dongeng
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
16.29
2
komentar
Label: Cerpen, FlashFiction
Senin, Agustus 30, 2010
Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) 2010

Persyaratan umum :
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan EYD yang benar;
Naskah harus asli, tidak boleh terjemahan, saduran atau mengambil ide dari kary aorang lain;
Cerita tidak boleh mengandung unsur SARA;
Tema adalah “Pemerintahan oke, rakyat bahagia”;
Naskah belum pernah dipublikasikan di media apapun;
Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah;
Redaksi Annida Online berhak menggganti judul maupun menyunting isi;
Naskah yang tidak menang tapi layak muat, akan dimuat di annida online dan mendapat honor yang sesuai
Untuk persyaratan teknis teman-teman bisa masuk di situs www.annida-online.com atau klik disini jangan lupa juga isi formulirnya.
SEMOGA IDE TAK MATI!!!!
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
21.09
0
komentar
Minggu, Mei 23, 2010
Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) 2010

Berhadiah Total Rp 85 Juta + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
Peserta Siswa SLTP (Kategori A), Siswa SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C)
Syarat-syarat Lomba:
Lomba ini terbuka untuk pelajar tingkat SLTP (Kategori A), SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C) dari seluruh Indonesia maupun yang studi/bekerja di luar negeri. Kecuali keluarga besar PT ROHTO Laboratories Indonesia dan Panitia/Dewan Juri LMCR 2010
Lomba dibuka 21 April 2010 dan ditutup 15 September 2010 (Stempel Pos)
Tema Cerita: Dunia remaja dan segala aspek kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita, derita dan kekecewaan)
Judul bebas tetapi harus mengacu tema Butir 3
Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia literer (indah, menarik, mengalir) dan komunikatif. Bahasa gaul dan bahasa daerah/asing boleh digunakan untuk segmen dialog para tokohnya – jika itu diperlukan dan sesuai dengan tema
Naskah yang dilombakan harus asli (bukan jiplakan) dan belum pernah dipublikasi
Ketentuan Khusus:
Naskah ditulis di kertas ukuran kuarto, ditik berjarak 1,5 spasi, font 12, huruf Times New Roman, margin justified 2 Cm, panjang naskah antara 6 – 10 halaman, dikirim ke panitia dalam bentuk printout 3 (tiga) rangkap/copy disertai file dalam bentuk CD.
b. Cantumkan sinopsis maksimal 1 (satu) halaman, mini-biodata pengarang, foto 4R, fotocopy KTP atau SIM/Paspor/Student Card
Setiap judul cerpen yang dilombakan wajib dilampiri kemasan LIP ICE (bagian kartonnya) atau segel SELSUN Shampo jenis apa saja
d. Naskah cerpen yang dilombakan beserta persyaratannya dimasukkan ke dalam satu amplop (boleh berisi beberapa judul), cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2010 dan Kategori-nya di atas amplop kanan atas dan dikirim ke: Panitia LMCR-2010 LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City Bogor 16810
Hasil lomba diumumkan tanggal 15 Oktober 2010 melalui www.rayakulturanet dan www.rohto.co.id
Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat
Hasil Lomba:
Masing-masing kategori: Pemenang I, II, II dan 5 (lima) Pemenang Harapan Utama, 10 (sepuluh) Pemenang Harapan dan Pemenang Karya Favorit untuk Kategori A: 20 Pemenang, Kategori B: 60 Pemenang dan Kategori C: 100 Pemenang.
Hadiah Untuk Pemenang:
Kategori A (Pelajar SLTP)
Pemenang I – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
Pemenang II – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
Pemenang III – Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam LIP ICE-SELSUN
20 (dua puluh) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN
Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Utama LMCR-2010
Sekolah Pemenang I, II dan II berhak mendapat 1 (satu) unit TV
Kategori B (Pelajar SLTA)
Pemenang I – Uang Tunai Rp 5.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
Pemenang II – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
Pemenang III – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam LIP ICE-SELSUN
60 (enam puluh) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN
Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Utama LMCR-2010
Sekolah Pemenang I, II dan III berhak mendapat 1 (satu) unit TV
Kategori C (Mahasiswa/Guru/Umum)
Pemenang I – Uang Tunai Rp 7.500.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
Pemenang II – Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
Pemenang III – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN
10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari + Piagam LIP ICE-SELSUN
100 (seratus) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN
Seluruh pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang Utama LMCR-2010
Naskah cerpen yang dilombakan jadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarangnya. Informasi lebih lanjut e-mail ke rayakultura@gmail.com
Jakarta, 10 April 2010
Ketua Panitia LMCR-2010
Dra. Naning Pranoto, MA
(Sumber: http://www.rayakultura.net/blog/2010/04/lomba-menulis-cerpen-remaja-lmcr-2010/
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
21.05
0
komentar
Label: Banner n Blog Info
Rabu, Juni 10, 2009
Ketika Tuhan Hanya sebagai Pelengkap Imajenasimu
Sentuhlah bibirku maka akan kuingatkan kau tentang Tuhan. Tentu saja Tuhan sesungguhnya, bukan tuhan yang selama ini hanya sekedar menjadi pelengkap imajenasi mu.
Takkah kau dengar sekerat kabar yang kukirimkan padamu melalui kerangka logika yang ku susun dalam batas-batas mimpi Einstein?
Atau seberkas berita yang kulampirkan dalam gurat-gurat senja yang kusematkan di ujung retina matamu?
Maka sekali lagi sentuhlah bibirku, sehingga kubisikkan sebuah kata yang sering dibisikkan oleh pemeran utama laki-laki pada pemeran utama wanita dalam dongeng cinta.
Ah, jangan-jangan kau sudah lupa dongeng memuakkan itu.
Jangan-jangan kau juga sudah melupakan aku.
Sudahlah.
Karawang, 8 juni 2009
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
02.26
7
komentar
Label: Puisi
Sabtu, Mei 16, 2009
Kutipan Novel ”Catatan Diantara Kitab Cinta”
Ipung. Laki-laki yang sempat membuat aku jatuh cinta itu bernama Ipung. Satu-satunya laki-laki yang mengajakku menikah. Satu-satunya laki-laki yang mampu membuat aku merasa menjadi wanita terbaik di dunia. Tapi sekarang aku tidak tahu ada dimana dia.
“Ibuku mau menikah dengan Om Arya. Kata ibuku, Om Arya orangnya baik, jadi ibu memutuskan untuk menikah dengannya”. Suara itu membuatku terpelanting jauh kembali ke masa lalu. Tubuhku seperti menciut. Organ-organnya seperti terlempar oleh tendangan mesin waktu yang membawaku ke masa itu. Masa dimana seorang laki-laki cilik berusia sekitar enam tahunan berjalan pelan di sampingku. Aku berusaha mengimbangi langkah lelaki cilik itu. Dan kaki kecilku yang terbungkus sepatu lucu berwarna-warni, tampak sibuk mengikuti langkah kakinya.
“Xa, kamu temanku yang paling baik. Kamu selalu membela aku saat aku dihukum Bu guru. Aku tahu, aku ini anak yang bandel, tapi aku tidak tahu kenapa ada orang baik seperti kamu yang mau membela anak bandel seperti aku!”
Aku hanya tersenyum waktu itu. Senyumku memang masih terlihat imut untuk ukuran gadis berusia enam tahun. Ya, itu adalah senyumku sebagai anak SD yang tidak mengerti kenapa anak seusia Ipung tampak berpikiran dewasa. Entahlah! Yang aku tahu, ada sebuah kalimat pendeknya yang tidak akan pernah bisa aku lupakan,
“Kamu mau nggak, nikah sama aku?”
Matanya entah menjatuhkan pandangan ke arah mana, yang jelas terlihat dari bibir lelaki cilik itu hanya gerakan-gerakan lucu yang membuatku tak bisa menahan senyum saat mengingatnya. “Kata Ibuku, dia menikah dengan Om Arya karena Om Arya adalah orang baik. Nah, kamu kan selama ini baik banget ke aku, jadi aku ingin menikah sama kamu, Xa!!”
Sekali lagi aku tersenyum. Dan aku hanya bisa diam, sampai akhirnya dia mengalihkan topik pembicaraan.
Aku masih tak habis pikir, darimana dia menemukan kalimat-kalimat seperti itu? Jangan-jangan dia menirukan dialog dari salah satu scene film atau sinetron yang tidak terklasifikasi dengan baik. Aku tahu, bahkan hapal benar judul-judul sinetron dewasa dalam usiaku yang keenam. Hal itu tidak aneh, karena memang sinetron-sinetron dewasa banyak yang diputar tanpa memperhatikan waktu. Akhirnya anak-anaklah yang terkena dampaknya. Mereka dewasa sebelum waktunya. Dan aku adalah salah satu dari jutaan anak-anak yang merasa dewasa sebelum waktunya. Lalu aku menyebutnya Jatuh Cinta. Ya, aku jatuh cinta pada lelaki cilik itu, walaupun aku sendiri tidak pernah tahu, waktu itu, tentang arti cinta yang sering aku agung-agungkan. Aku hanya tahu, bahwa cinta adalah seperti apa yang diajarkan oleh sinetron. Hmp… Entahlah!
Satu bulan setelah itu, Ipung bersama Ibunya, diajak pindah ke Palembang oleh ayah barunya. Palembang memang kota kelahiran ayah barunya itu. Dan sejak saat itu pula aku tidak pernah menemuinya lagi.
Hingga hari ini. Diantara bingkai jendela ini. Diantara suara kumbang pohon dan binatang malam lain yang membuat aku kembali ke masaku yang sesungguhnya. Ke masa dimana aku termangu diantara suara dengkuran Lyan. Hmp… enaknya bisa terlelap semudah itu.
Diambil dari Novel CATATAN DIANTARA KITAB CINTA by Saeful Nurdin @ 2004
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
20.48
5
komentar
Kamis, April 30, 2009
Setelah Aku Jual Pantat Artis Dangdut di Panggung Kampanye Dengan Harga Murah
"Mari kita berbagi kekuasaan!"
"Bukan. Ini bukan berbagi kekuasaan, tapi upaya membentuk pemerintahan yang kuat!"
"Nanti jika kita kalah, kita akan menyalahkan segala kebijakan dan membuka borok-borok penguasa yang menang itu!"
"Pantat-pantat artis dangdut yang kita jual murah saat kampanye legislatif akan menjadi andalan lagi sebagai pelengkap janji-janji taik kucing kita"
"Maka aku akan mensejahterakan rakyat setelah ku jual pantat artis dangdut di panggung kampanye dengan harga murah"
"Lihat! Ada partai yang katanya membela hak-hak perempuan, tapi dalam kampanyenya mengobral pantat para biduanita"
"Ada juga yang peduli terhadap masa depan bangsa, namun membiarkan anak-anak mereka menikmati pantat para artis saweran itu"
Jakarta 30 April 2009
Setelah menyaksikan rencana koalisi bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
15.37
6
komentar
Label: Based on True Story
Jumat, Februari 27, 2009
Ah, Damn! Jangan-jangan Ideku Mati!
Apakah kata-kata di dunia ini sudah habis sehingga aku tak bisa berkata-kata lagi?
Padahal kulihat mereka mengobral kata-katanya dalam janji-janji di televisi.
Apakah kata-kata sudah tidak mempunyai makna sehingga tak ada arti dalam kata-kataku
Padahal kulihat mereka masih memperjualbelikan kata-katanya yang membuat mereka merasa bermakna.
Apakah kata-kata
sudah tak mencair lagi di ujung pena-ku sehingga tak ada lagi karya yang kucipta padahal kulihat buku-buku sejarah palsu masih banyak dipelajari di sekolah.
Apakah kata-kata sudah beku di ujung lidahku sehingga mulutku tak bisa bicara padahal kulihat mereka bicara tentang keadilan yang ternyata hanya memihak pada dirinya sendiri.
Ah, jangan-jangan ideku mati.
Sial.
Jakarta, 27 Februari 2009
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
17.22
2
komentar
Label: Puisi
Sabtu, Februari 21, 2009
Wanita itu Bernama Peri
Wanita itu bernama peri,
jangan tanyakan siapa atau bagaimana!
Wanita itu bernama peri,
di atas kertas tujuh purnama
Sekedar pengisi pilar gading putih tanpa nama!
wanita itu bernama peri,
di ujung pena merah jingga atau cukup di bawah air mata!
Wanita itu bernama peri,
di bawah ketiak malaikat ungu bersayap satu atau hanya patung bunda tak bernyawa.
Wanita itu bernama,
LIA SEPTIANI...
Karawang, 10 September 2007
jam 12:12:34
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
05.32
0
komentar
Label: Puisi
Sabtu, Februari 14, 2009
Cinta dari Seorang Ibu Tua dan Anaknya yang Kurus itu
"Apa yang kamu tahu tentang cinta, nak?" Seorang ibu tua bertanya padaku dengan suara yang hampir tak terdengar. Mataku yang sejak tadi terpaku pada barisan kalimat dalam buku kumpulan cerpen karya Seno Gumira Adjidarma, kini menatap ibu tua yang tengah sibuk menata posisi kepala anaknya yang sedang menetek padanya. Tetek-nya yang sudah keriput dengan susah payah dieksplorasi sang anak yang tampak kelaparan.
Anak itu seperti tak berdaging. Tak berlemak. Tapi perutnya buncit seperti balon mau pecah. Kepalanya botak seperti makhluk luar angkasa.
"Cinta adalah apa yang aku lihat saat ini" Jawabku sekenanya.
Ibu tua itu tersenyum.
"Kau benar nak..."
Jakarta 14 Februari 2009
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
08.01
1 komentar
Label: Cerpen
Kamis, Februari 12, 2009
Cinta dan Tuhan yang Terlupakan
Ada saat dimana aku merasa semua orang yang katanya dulu sangat aku kenal, kini hanya sebatas kumpulan alien yang asing dan sungguh mengerikan. Bahkan orang-orang yang menurut mereka sangat mencintai akupun tak lebih dari sekedar seorang figuran yang mempunyai probabilitas nihil untuk meraih oscar awards.
Sanjungan-sanjungan mereka mengenai kehebatanku dalam menulis puisi, essay dan novel, kini hanya menjadi sejarah palsu untukku.
Bukan hanya itu, bahkan nama Tuhan yang dulu susah payah dikenalkan seorang wanita tua--yang katanya ibuku, kini tak ku kenal lagi.
"Tuhan apa? Apa itu Tuhan? Siapa?" Tanyaku bodoh. Maka sejurus kemudian wanita tua itu menampar ganas pipiku sebagai jawaban atas pertanyaan kejamku.
Mengerikan. Sangat mengerikan memang ketika aku harus kembali ke titik nol. Titik yang merampas semua database dalam otakku.
"Kecelakaan sialan itu merebutmu dariku La...". Teriak seorang gadis cantik yang duduk lemah di atas kursi kayu tepat di sampingku. Air mata gadis itu tak mampu ku bendung. Bibirnya bergetar puluhan scala richter. Dan tubuhnya seperti tak bertulang. Sangat lemah. Melebihi lemahnya imanku yang sempat menguap tak bersisa.
"Kenapa La? Kenapa kamu diam saja? Kenapa?"
Mataku kupaksakan terpejam. Bukan hanya karna tak sanggup memandang wajahnya yang sedih, tapi juga karna memang aku tidak mempunyai jawaban untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
Bahkan aku mungkin tidak menyimak pertanyaan itu, karna sejak tadi aku sibuk menggaris bawahi sepotong kata: "La" yang dilontarkan gadis itu. Dia memanggilku "La", karna aku tahu namaku Bala. Atau lebih tepatnya: karna aku baru tahu beberapa hari lalu bahwa namaku Bala. Ya, aku sempat lupa siapa namaku. Hingga wanita tua yang akhirnya kusebut ibu itu mengenalkan aku pada diriku sendiri.
Mengenalkan bahwa namaku Bala. Bala Akbaruddin.
"Atau kamu masih belum mengenalku La?" Gadis itu kembali bertanya kecewa. Matanya semakin tak bercahaya. Seperti selimut hitam bernama malam.
"Aku Sissy, tunanganmu, La... Entah sudah berapa kali aku mengenalkan diri padamu. Berkali-kali aku berusaha membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Dan aku sudah kehilangan akal untuk membuatmu jatuh cinta padaku lagi. Semua cara sudah aku coba. Tapi setiap kali aku bertanya padamu tentang apa yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku, kamu selalu diam.
Lalu apalagi yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku?
Padahal aku sudah menulis puluhan surat cinta untukmu yang dilengkapi puisi-puisi cinta yang dulu kamu ajari aku membuatnya, tapi aku lupa bahwa kamu sudah lupa bagaimana caranya membaca. Bahkan kata-kata itu kini termumikan dalam otak kananmu.
Berkali-kali aku menyanyikan lagu cinta yang dulu kamu sering menghujatku karna suaraku fals tak karuan, sial, aku lupa sayang, bahwa bibirmu sudah lupa bagaimana caranya bernyanyi. Dan insting mu awam terjemahkan nada.
Entah berapa kali aku bercerita tentang sepeda reyotku yang kini ban nya bocor padahal sepeda itu dulu kamu pakai untuk memboncengku pulang mengaji, ah aku lupa bahwa kamu pasti sudah lupa apa merk sepedaku. Bahkan mungkin kamu tidak tahu apa itu arti sepeda.
Sering sekali aku bercerita tentang mimpi-mimpi muluk masa depanku yang dulu kamu paksa aku memilikinya, tapi aku lupa bahwa kamu ternyata sudah lupa mimpi-mimpimu sendiri. Bahkan sungguh aku tidak tahu, apakah saat ini kamu punya mimpi atau tidak.
Aku lupa bahwa ternyata kamu lupa semuanya. Semuanya La. Kamu lupa pidato calon legislatif yang dulu kamu jadikan bahan guyonan. Kamu lupa rumus-rumus unsur dan senyawa kimia yang dulu terpasang di dinding kamarmu. Kamu lupa atas kekecewaanmu terhadap Sherlock Holmes saat berduel dengan Profesor Moriarty. Kamu lupa bagaimana caranya kamu mencium bibirku yang sebenarnya tidak pernah kamu lakukan. Kamu lupa bagaimana caranya menghapus air mataku yang sebenarnya tak pernah kamu tunjukkan. Kamu juga lupa bagaimana caranya menyematkan hiasan di rambutku yang ternyata tak pernah kamu sematkan.
Kamu lupa semuanya. Semuanya La. Dan kamu diam. Ya, hanya diam yang ternyata tidak kamu lupakan. Kamu masih hapal benar bagaimana caranya diam. Sialnya aku lupa bahwa kamu hanya bisa diam. Maafkan aku La, aku hanya ingin kamu mencintai aku. Lagi. Seperti dulu. Sebelum kamu melupakan aku. Lagi-lagi aku lupa bahwa mencintai seseorang yang tidak kamu kenal sama sekali adalah kesulitan luar biasa. Dan mengenalkan diriku padamu adalah sebuah kesulitan luar biasa yang lain. Kesulitan yang berulang kali memaksa air mataku tumpah. Maafkan aku La.."
Gadis itu menangis lagi. Dan aku diam lagi. Menutup mataku lagi. Lalu gelap menutupi semuanya. Tak setitik cahayapun menusuk mataku. Semuanya terbingkis gelap yang mengerikan. Lalu kegelapan itupun menutupi telingaku. Isak gadis itu pun raib di ujung telingaku hingga benar-benar senyap dan aku tak ingat lagi. Semuanya lenyap begitu saja. Lenyap.
***
"Almarhum ayahmu, Le! Dia pasti akan mengurungmu di kandang kambing kalau dia tahu kamu melupakan Tuhanmu!" Gumam wanita tua yang kusebut ibu itu sambil membereskan obat-obatan dan sisa sarapanku di meja kayu.
"Susah payah kami mengenalkan Tuhan padamu Le, tapi kecelakaan itu mengambil nama Tuhan dalam hati dan otakmu dalam waktu beberapa detik saja.
Coba kamu ingat-ingat lagi Le nama Tuhan mu!
Emak khawatir, jika nanti malaikat menanyai mu tentang siapa Tuhanmu, lantas kamu diam saja seperti ini. Emak malu sama malaikat, Le, terlebih sama Tuhan. Makanya Emak mohon, ingat nama Tuhan mu, Le. Emak mohon!". Dia memegang tanganku. Matanya menusuk retina mataku dengan jutaan harapan.
Aku lihat bibirnya mulai menuntunku mengingat nama Tuhan.
"Katakan: Allah!" Bisiknya pasti. Kalimatnya membuat badanku bergetar hebat. Keringatku menyembur dari berbagai celah pori-pori.
"Allah..." Ibu terus menuntunku dengan harapan bibir dan lidahku segera mengucapkan nama Tuhan.
Tapi tiba-tiba gelap kembali mencengkeram mataku. Sunyi menutupi lubang telingaku. Sekejap bau keringat ibu pun lenyap. Dan aku tidak ingat lagi. Aku kembali melupakan semuanya. Semuanya tanpa sisa.
"Bodoh!" kataku dalam hati.
Jakarta, 8 Februari 2009
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
16.31
3
komentar
Label: Cerpen
Selasa, Februari 10, 2009
Lagi! Rihanna Kembali Gagal Konser di Indonesia. Ada Apa?
Rihanna, penyanyi international yang melejit namanya lewat single Umbrella setelah gagal konser di Indonesia tanggal 14 November 2008 lalu, sekarang dikabarkan kembali menunda konsernya di negeri kita.
Entah menunda, entah memang dibatalkan, saya belum mendapat informasi lebih lanjut.
Ada apa?
Apakah karena musim hujan dan umbrella-nya rusak?
Hehe..
Yang pasti bukan itu alasannya.
Rihana yang sebelumnya dikabarkan akan menggelar konser di Istora Senayan pada 12 Februari 2009 nanti, menurut penyelenggara kembali membatalkan karena sebuah insiden yang dialami penyanyi sexy itu.
Dikabarkan tiga hari sebelum jadwal manggungnya di Jakarta, kekasih Rihanna penyanyi Chris Brown, ditahan atas tuduhan penganiayaan terhadap seorang wanita bernama Robyn Rihanna Fenty.
Ya, wanita itu adalah Rihanna.
Kabarnya peristiwa itu berawal dari pertengkaran hebat antara Brown dan Rihanna usai Brown menghadiri pre-Grammy.
Rihanna dikabarkan menderita memar pada wajahnya sehingga dilakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Cedars Sinai Medical Center.
Atas dasar itulah konser Rihanna kembali di-cancel.
Bagi temans yang sudah terlanjur membeli tiket, jangan khawatir, pihak penyelenggara siap mengembalikan 100% dari biaya pengembalian tiket yang bisa diambil di tiket box tempat pembelian selama tujuh hari kerja sejak 12 Februari 2009.
Yang pasti bagi anda pelanggan axis yang membeli tiket Rihanna di Axis Center tak usah khawatir, karena pihak Axis menjanjikan pengembalian uang penuh sesuai harga tiket ditambah penawaran khusus dari axis
Jakarta, 10 Februari 2009
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
21.58
1 komentar
Label: News n Info
Senin, Februari 09, 2009
AXIS presents JAVA JAZZ FESTIVAL 2009

Lagi!
AXIS membuat kejutan dengan kembali menyelenggarakan event musik terbesar : AXIS JAVA JAZZ FESTIVAL 2009.
Tidak tanggung-tanggung, event besar yang akan diselenggarakan pada tanggal 6, 7 dan 8 Maret ini akan dimeriahkan puluhan artis Jazz dalam dan luar negeri, diantaranya : 
info artis lebih lengkap, klik disini
Bagi Temans pelanggan AXIS, malah bisa dapat potongan harga sampai 50%.
Berikut harga tiket yang ditawarkan penyelenggara
1. Daily Pass Rp.350.000
2. 3 days Daily Pass Rp.850.00
3. Special Show Rp. 150.000-450.000
Buat kamu pengguna AXIS:
Hanya tinggal isi ulang sebesar Rp.50.000 dan harga tiket:
1. Daily Pass Rp.175.000
2. Special Show 6 Maret (Jason Mraz) Rp.300.000 => sold out
3. Special Show 7 Maret (Jason Mraz) Rp.350.000 untuk 500 pelanggan pertama
4. Special Show 8 Maret (Brian McKnight) Rp.250.000
Tunggu apalagi? ayo gabung!!!!
sumber : www.axisworld.co.id
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
15.42
1 komentar
Label: News n Info
Senin, Februari 02, 2009
Aku Menyebutnya Cinta Bau
Cinta datang padaku dengan sombongnya. Kepalanya mendongak sehingga gigi-giginya yang melampaui batas tak mampu disembunyikan bibir jengatnya yang kusut. Gigi-gigi itu kuning dan tajam seperti bambu runcing para pejuang yang mampu melelehkan bedil-bedil menir kompeni.
Dia berkata padaku tentang Tuhan, surga, dosa dan bidadari seperti nabi-nabi yang aku cinta.
Dia bercerita padaku tentang hukum archimides, pascal, newton dan teori ekonomi klasik laiknya seorang doktor dalam sebuah orasi ilmiah.
Aku pun berpikir. Mencoba mencerna kata-katanya.
Kemudian dia berkisah tentang sebuah negeri yang dicintai Tuhannya, lalu dengan sekejap diluluh lantahkan-Nya. Diapun menangis. Menangis seperti orok. Bahkan aku tidak tahu apa yang ditangisinya
Aku tidak mengerti apa yang ada dalam otaknya.
Ah, atau jangan-jangan dia memang tidak punya otak. Toh dia memang tidak punya kepala kan?
Cinta memang tak punya kepala. Tapi sombongnya minta ampun. Ya, dia sombong. Sombong karena kalimat-kalimatnya. Sombong karena kemiskinannya.
Sombong karena nasihat-nasihatnya.
Sombong karena filosofinya.
Sombong karena pengetahuannya.
Sombong karena kejahatannya.
Sombong karena kesetiaannya.
Sombong karena ketidak sombongannya.
Dan sombong karena ketidak adaannya. Ya, dia sesungguhnya tidak ada.
Tapi dalam ketidak adaanya, dia masih bercerita. Kali ini tentang dosa yang paling mengasikkan.
Dosa yang lebih membahagiakan daripada menang lotre.
Dosa yang lebih nikmat daripada berzina.
Dosa yang lebih memuaskan daripada membunuh.
Dosa itu tak lain adalah cinta itu sendiri.
"Dosa itu bernama aku..." katanya pelan. Kali ini dia menunduk. Tak tampak lagi gigi-gigi bau nya yang menjijikkan.
Dia menangis lagi.
Cengeng benar dia itu. Padahal aku tahu dia tak punya mata atau sekedar airmata sekalipun. Dia hanya punya nama: cinta bau
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
09.47
1 komentar
Label: Essay
Senin, Januari 26, 2009
Di Halaman Terakhir Oktavo
Cukup sederhana aku mengenalmu seperti nazam dalam bait anggur putih
Ingatkn aku!
Tentang serpihan keraton retak, atau puisi yang gelap jengat
Cukup sederhana aku mengenalmu, diantara gugusan bintang, atau hanya di atas dek kapal pesiar
Tentang kita, sudah kutulis dalam lembaran kitab kayu hingga menjelmakanku sesaat
Cukup sederhana,untuk mengenal,
untuk mengenang,
atau hanya untuk membual...
(diambil dari Buku Kenangan SMA Negeri 1 Karawang angkatan tahun 2004 karya ipung)
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
18.40
2
komentar
Label: Puisi
Kamis, Januari 22, 2009
Gadis itu bernama Kazumi Shimazaki
"Maukah kau membantu melipat gerimis itu untukku?" Pinta seorang gadis yang sejak tadi duduk kaku di sebelah kiriku setelah beberapa menit kami saling diam. Aku yang dari tadi tak berani menatapnya, kini tak segan menangkap wajah ovalnya yang terbingkis jilbab biru itu kedalam mataku. Amboi, kulitnya putih sekali, mulus mengalahkan model iklan sabun mandi GIV. Bahkan tak adil jika harus kubandingkan gadis itu dengan gadis-gadis di desaku yang kulitnya berhiaskan koreng, panu, kudis, kurap, buduk, atau sisa-sisa jerawat yang melubangi wajahnya.
Atau lihatlah hidung gadis berjilbab itu yang mirip perosotan anak TK: rendah pada pangkal hidung kemudian mancung di bagian ujungnya. Seperti hidung orang-orang belanda. Berbeda dengan gadis-gadis di desaku yang lubang hidungnya saja mengkhawatirkan -- menganga menghadap langit, sehingga air hujan sewaktu-waktu bisa masuk kedalam hidungnya.
Tapi dari bentuk mata gadis berjilbab itu yang sulit melotot, aku tahu dia seorang chinese.
Assumsiku bahwa dia seorang chinese semakin bulat ketika kubaca beberapa barisan huruf pada ID card yang terkalung di lehernya: Kazumi Shimazaki, Marketing Eksekutif.
"Bantu aku melipat gerimis itu!" Gadis itu mulai tampak memohon. Aku palingkan pandanganku dari wajah sendu gadis itu menuju hujaman gerimis yang membentuk pagar-pagar air di hadapanku. Warnanya berkilauan seperti jarum-jarum panjang yang sengaja ditusukkan langit ke bumi. Beberapa jarum air itu menusuki atap-atap mobil yang sombong, kulit-kulit payung orang yang berlalulalang dan sebagian lagi menghujam tanah, aspal, trotoar, helm, gedung dan atap halte penuh grafiti yang kini memayungi aku dan gadis itu. Suara hujaman gerimis di atas atap halte seperti bunyi perkusi yang bersahut-sahutan, mendendangkan irama cinta seorang sufi untuk Tuhannya.
"Gerimis sial!" umpat gadis chinese itu yang membuat mataku kembali menumpahkan pandangan ke wajah ovalnya. Kali ini dia berdiri gelisah.
Matanya terlihat resah memandangi jarum-jarum waktu dalam jam yang terlingkar di pergelangan tangannya.
"Ah, apakah doaku hanya sebatas kata-kata busuk seperti kata-kata yang sering aku dengar dari mulut para pembual sehingga Engkau tidak mengabulkan doaku, Tuhan? Padahal doa itu sudah kurangkai dengan kata-kata terindah yang tak pernah bisa ditulis oleh seorang pujangga. Padahal kata-katanya sudah kulengkapi dengan ungkapan-ungkapan dan peribahasa yang tak bisa diterjemahkan para penyair. Lalu kenapa Engkau tak mengabulkannya Tuhan? Apakah Kau sudah bosan dengan kata-kata kami? Sudah muak? Sudah jijik? Ah, aku tahu Engkau tak seperti itu, Tuhan. Lalu kenapa Engkau tak mengabulkan doaku? Padahal doaku cukup sederhana : aku hanya ingin hari ini tak ada gerimis. Itu saja. Lalu kenapa Kau turunkan gerimis itu Tuhan? Tadinya aku kira Engkau kirimkan pria di sampingku ini untuk membantuku melipat gerimis, tapi ternyata pria itu hanya kodok buduk yang tak sepandai aku dalam membuat kalimat terindah. Kau lihat Tuhan? Pria itu hanya diam. Hanya diam, Tuhan. Entah karna bisu atau karna mulutnya bau. Engkau yang lebih tahu, Tuhan. Pria itu tak lebih dari seekor bangkai kecoak tengik ya Tuhan?".
Gadis berengsek itu melirikku. Pandangannya menusuk ulu hatiku. Gadis sialan!
"Lalu apa, Tuhan? Apakah kata-kata hanya cukup menjadi sebuah simbol? Hanya pantas untuk sebuah slogan? Atau hanya sebuah pelengkap dari terciptanya lidah? Persetan dengan semua itu!"
Aku diam menahan tawa. Dalam hati aku bertanya, 'Apakah gadis itu cukup suci untuk sebuah pemberontakkan pada Tuhan?'
Diposting oleh
Ipung Arraffa
di
00.03
1 komentar
Label: Cerpen