Sewaktu masih bocah aku mempunyai cita-cita yang aneh.
Jika Wawan, Otong, Mukti, Mansur dan beberapa teman sekelasku saat SD mempunyai cita-cita yang hampir sama--biasanya dokter, pilot atau insinyur karena cita-cita itu yang paling populer untuk anak-anak seusia kami pada waktu itu entah karena mereka ikut-ikutan atau memang murni cita-cita mereka, anehnya cita-citaku selalu jadi bahan tertawaan teman sekelas saat Bu guru bertanya tentang apa cita-cita kami.
"Tidak apa-apa, sebutkan saja apa cita-citamu, Sep!?"
Aku mulai menelan ludah, aku atau siapapun yang mendengar kalimat bu Oyok yang dilengkapi intonasi penuh tekanan disetiap katanya itu pasti bisa menebak bahwa guru berbadan tipis namun tampak anggun itu menyimpan rasa kesal yang tertumpuk di ubun-ubunnya,karena pertanyaan itu sudah ketiga kalinya dilemparkan padaku. Dan aku hanya diam. Seperti pengecut.
"Hanya pengecut seperti merekalah yang takut dan malu mengungkapkan mimpi"
Begitulah tiba-tiba kalimat ajaib itu mengiang ditelingaku. Itu adalah kalimat yang diucapkan Bapak saat mengomentari seorang penjahat dalam mini seri Mc Giver favoritnya.Bapak memang penggila Mc Giver, seorang tokoh jenius yang bisa memanfaatkan barang-barang yang tampak tidak berguna namun dengan kecerdikannya bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan misinya.
Tidak. Aku tidak mau menjadi pengecut. Aku harus berani mengungkapkan mimpi dan cita-citaku.
"Cita-citanya jadi orang kaya, Bu" Teriak Mansur, pria gempal berambut gimbal yang membuat beberapa teman lain tak bisa menahan tawa. Ruangan kelas sempit itu tiba-tiba seperti berubah menjadi panggung dagelan. Semuanya tertawa. Ya, semuanya. Termasuk orang yang selalu aku puja, Dewi. Dia adalah gadis cantik yang terlalu manis untuk perbuatan sekeji itu: menertawakanku. Tawanya memang hanya senyuman kecil yang lagi-lagi terlalu manis, tapi tawa kecil itu berhasil menohok jantungku. Dan yang paling menyakitkan, tawa gadis itu memporak porandakan cita-cita sialku itu. Aku menangis. Aku memang terkenal sebagai satu-satunya anak laki-laki cengeng di kelasku. Bu Oyok berusaha menenangakan teman-teman sekelasku. Guru berkacamata kusam itu sungguh mulia, ia menjadi pembelaku saat tak ada pembelaan dari manusia-manusia kecoak yang kini sedang terbahak-bahak menertawakan cita-cita taik kucingku. Beberapa kalimat bijak meluncur dari bibir jengat bu Oyok yang bergetar. Ia mengajak teman-temanku untuk menghormati apa yang menjadi cita-citaku. Tapi percuma. Kebencianku pada keadaan telah menjadi penyakit akut yang tak terobati. Aku benci keadaan dimana kebanyakan teman-temanku bercita-cita menjadi dokter sedangkan aku bercita-cita menjadi orang kaya. Aku benci keadaan dimana seorang guru menanyakan cita-cita pada muridnya. Aku benci keadaan dimana semua orang menertawakan mimpi yang berlebihan. Aku benci keadaan dimana tawa kecil gadis yang aku puja berhasil meruntuhkan mimpi-mimpiku. Aku benci semuanya. Aku benci keadaan keluargaku yang miskin. Aku benci paradigma yang menertawakan seorang anak miskin bercita-cita menjadi orang kaya. Aku benci. Aku benci semuanya. Sungguh.
***
"Kenapa Asep dilahirkan sebagai seorang miskin?" Teriakku tiba-tiba sambil membanting daun pintu keras-keras.
"Asep... Pulang sekolah bukannya ucap salam malah teriak-teriak" Protes ibu yang sedang mempersiapkan makan siang. Bapak yang sedang duduk bersila di atas bale-bale bambu bersama nasi dan lauk pauknya hanya bisa terdiam heran dengan mulut penuh lalapan.
"Kenapa kamu, sep?" Tanya Bapak setelah lalapan yang tadi menyumpal mulutnya raib tak bersisa.
"Kenapa kita tidak punya meja makan atau setidaknya ruang khusus makan seperti di rumah orang kaya?" Aku kembali ngomel tak karuan. Aku benci dengan ruang makanku yang hanya dilengkapi satu bale-bale bambu nan reyot beralaskan tikar. Ruangan itu bukan hanya berfungsi sebagai ruang makan, jika ada tamu datang, maka ruang itu berubah menjadi ruang tamu. Lalu malamnya saat serial Mc Giver diputar di salah satu stasiun televisi, maka ruang itu menjelma menjadi ruang keluarga. Beruntung kami masih mempunyai dua ruangan lain sebagai kamar tidur sehingga kami tak perlu menjadikan ruang makan plus-plus itu sebagai kamar tidur walaupun memang kadang ayah tidur di atas bale-bale bambu di ruang itu pada saat-saat genting seperti misalnya pada saat pemilihan kepala desa yang biasanya berujung konflik atau pada saat tersebar isu adanya babi ngepet di kampung kami.
Aku dan keluargaku memang tak memiliki harta berharga selain televisi hitam putih yang tak sengaja kami miliki. Kusebut tak sengaja karena memang televisi tersebut hanya hasil dari pembayaran hutang tetanggaku yang tak mampu membayar dengan uang tunai. Bapakku adalah seorang penjual pakaian dengan pembayaran kredit sedangkan ibu membuka warung kecil-kecilan.
Tetanggaku itu tak mampu membayar pakaian-pakaian yang dibelinya setiap lebaran dan kebutuhan pokok yang dijual ibu, sehingga ia harus merelakan televisi butut itu untuk kami.
"Asep, kamu tidak boleh begitu. Kita harus bersukur nak, kita memang tidak punya ruang makan, tapi kita masih bisa makan" Lerai ibu sambil membuka topi, tas dan melepas kancing bajuku satu persatu.
"Jadi kalau kita tidak bisa makan sama sekali baru boleh tidak bersukur?" Tanyaku tajam.
Ibu tiba-tiba diam. Kancing bajuku yang sedang dilepasnya tiba-tiba terabaikan.
Tatapan ibu menjadi kosong. Aku menyesal membantahnya. Ibu seperti akan menangis.
"Sep... Kita boleh miskin, tapi jangan sampai kemiskinan itu membuat kita pelit pada "Sep... Kita boleh miskin, tapi jangan sampai kemiskinan itu membuat kita pelit pada Tuhan" Jawab Bapak bijak. Kalimat Bapak selalu membuat aku tak berdaya. Kali ini, seperti biasanya aku mematung konyol setelah kalimat Bapak menampar keras kesombonganku. Selalu begitu. Kata-kata Bapak selalu membuatku tak berkutik.
Dengan nada lemah aku berusaha bertanya, "Apakah sebuah kesalahan jika seorang anak miskin bercita-cita menjadi kaya?"
Ibu yang berjongkok di hadapanku tampak tak bisa menahan air mata. Sejurus kemudian dia memelukku sambil berbisik, "Tidak nak, sama sekali tidak salah!"
Ibu masih menangis memelukku. Kualihkan pandangan ke arah Bapak. Ia mengangguk tipis, tanda setuju dengan jawaban ibu.
Aku beruntung memiliki Bapak dan ibu yang tidak menghancurkan mimpi anaknya, terlepas apakah dalam hati mereka tetap menganggap aku sebagai anak miskin tak tahu diri yang mempunyai cita-cita mustahil. Tapi setidaknya mereka mampu menjaga mimpi anaknya, walaupun mereka tahu mimpi itu tidak mungkin terwujud.
"Jika bukan sebuah kesalahan, lalu kenapa teman-teman menertawakan cita-citaku?" Tanyaku dalam hati. Sebuah pertanyaan yang jawabannya kutemui kelak di usia dewasaku.
***
"Wah hebat ya Pak. Jackie Chan memang luar biasa. Dia melompat dari gedung ke gedung..." Teriakku takjub setelah Bapak mengajakku menonton film mandarin di bioskop tua dekat pasar. Sore ini Bapak seperti biasanya membeli kebutuhan warung ibu di pasar tradisional. Setelah berbelanja, Bapak menyempatkan diri mengajakku menonton film. 'Johar Studio 1234', begitu tulisan di muka gedung bioskop berdinding mengenaskan itu. Dinding retak dengan cat terkelupas di beberapa bagian itu banyak dihiasi coretan-coretan jorok dan tak bertanggung jawab.
Gambar Jackie Chan super besar di dekat tulisan 'Johar Studio 1234' itu masih kupandangi walaupun jaraknya semakin jauh karena Bapak sudah mulai mengayuh sepeda.
Sepeda Bapak dilengkapi dua keranjang yang terbuat dari anyaman bambu dan diletakkan di sisi kiri dan kanan bagian belakang sepeda. Keranjang bambu itu biasa kami sebut 'Boronjong'.
Keranjang bambu di sisi kiri dan kanan itu dipenuhi belanjaan warung dan beberapa pakain untuk dijual. Aku duduk ditengah-tengah diantara dua keranjang itu dengan kaki bersila persis seperti dukun.
"Kamu tahu siapa Jackie Chan itu Sep?" Tanya Bapak sambil asik mengayuh sepeda.
"Jagoan..." Jawabku pendek sambil asik memakan buah apel hijau yang kuambil dari keranjang di sisi kananku.
"Dia adalah pemain film yang mengawali karirnya dari bawah. Dia dulu hanya seorang anak miskin yang coba-coba menjadi figuran. Dia bercita-cita menjadi aktor sejak kecil. Dan di usia dewasa dia berhasil mewujudkan cita-citanya". Jelas Bapak yang tiba-tiba mengutukku menjadi batu lalu membakar semangatku.
Aku mengerti sekarang. Setiap hari Bapak memang berbelanja ke pasar, tapi baru kali ini ia mengajakku. Ia sengaja mengajakku untuk menonton film itu setelah kejadian tadi siang. Ia ingin membuktikan melalui biografi Jackie Chan bahwa cita-cita adalah kekuatan hebat yang bisa mengubah seseorang menjadi apa yang dia inginkan, walaupun pada awalnya dia bukan apa-apa. Luar biasa. Bapak memang luar biasa. Bagiku Bapak lebih 'jagoan' daripada Jackie Chan. Lagi-lagi aku merasa menjadi anak paling beruntung karena memiliki Bapak seperti dia. Dia mengajari aku sesuatu yang tidak kudapatkan di bangku sekolah. Dia guru yang luar biasa.
Di tengah lamunanku, tiba-tiba Bapak menghentikan laju sepedanya.
"Kita masih jauh lebih kaya daripada mereka" Gumam Bapak sambil memandang ke arah kumpulan pengemis di dekat lampu merah. Aku mulai memandang ke arah yang sama.
"Mereka mungkin tidak pernah memakan apel seperti yang sedang kamu makan. Mereka mungkin belum pernah menonton film Jackie Chan di bioskop itu. Dan jangan-jangan mereka tidak mempunyai cita-cita seperti yang kamu dan teman-temanmu miliki.
Ah, semoga perkiraan Bapak yang terakhir itu salah"
Jakarta, November 2009
==Kutipan Novel Catatan Mimpi Senja==
Copy-Paste kode di bawah, untuk pasang banner ini....
untuk pilihan Banner lain, silakan Temans Klik di sini
Karya Ipung
- Banner n Blog Info (1)
- Based on True Story (3)
- buku (3)
- Cerpen (8)
- Essay (3)
- Lagu (1)
- Monolog (1)
- Motivasi (3)
- Narasi (1)
- News n Info (2)
- novel (3)
- Photo (1)
- Puisi (5)
Rekomendasi Karya(4Download)
Rabu, November 04, 2009
Catatan Mimpi Muluk Senja
Diposkan oleh
ipung senja
di
00:58
0
komentar
Label: Based on True Story, novel
Rabu, Juni 10, 2009
Ketika Tuhan Hanya sebagai Pelengkap Imajenasimu
Sentuhlah bibirku maka akan kuingatkan kau tentang Tuhan. Tentu saja Tuhan sesungguhnya, bukan tuhan yang selama ini hanya sekedar menjadi pelengkap imajenasi mu.
Takkah kau dengar sekerat kabar yang kukirimkan padamu melalui kerangka logika yang ku susun dalam batas-batas mimpi Einstein?
Atau seberkas berita yang kulampirkan dalam gurat-gurat senja yang kusematkan di ujung retina matamu?
Maka sekali lagi sentuhlah bibirku, sehingga kubisikkan sebuah kata yang sering dibisikkan oleh pemeran utama laki-laki pada pemeran utama wanita dalam dongeng cinta.
Ah, jangan-jangan kau sudah lupa dongeng memuakkan itu.
Jangan-jangan kau juga sudah melupakan aku.
Sudahlah.
Karawang, 8 juni 2009
Diposkan oleh
ipung senja
di
02:26
6
komentar
Label: Puisi
Sabtu, Mei 16, 2009
Kutipan Novel ”Catatan Diantara Kitab Cinta”
Ipung. Laki-laki yang sempat membuat aku jatuh cinta itu bernama Ipung. Satu-satunya laki-laki yang mengajakku menikah. Satu-satunya laki-laki yang mampu membuat aku merasa menjadi wanita terbaik di dunia. Tapi sekarang aku tidak tahu ada dimana dia.
“Ibuku mau menikah dengan Om Arya. Kata ibuku, Om Arya orangnya baik, jadi ibu memutuskan untuk menikah dengannya”. Suara itu membuatku terpelanting jauh kembali ke masa lalu. Tubuhku seperti menciut. Organ-organnya seperti terlempar oleh tendangan mesin waktu yang membawaku ke masa itu. Masa dimana seorang laki-laki cilik berusia sekitar enam tahunan berjalan pelan di sampingku. Aku berusaha mengimbangi langkah lelaki cilik itu. Dan kaki kecilku yang terbungkus sepatu lucu berwarna-warni, tampak sibuk mengikuti langkah kakinya.
“Xa, kamu temanku yang paling baik. Kamu selalu membela aku saat aku dihukum Bu guru. Aku tahu, aku ini anak yang bandel, tapi aku tidak tahu kenapa ada orang baik seperti kamu yang mau membela anak bandel seperti aku!”
Aku hanya tersenyum waktu itu. Senyumku memang masih terlihat imut untuk ukuran gadis berusia enam tahun. Ya, itu adalah senyumku sebagai anak SD yang tidak mengerti kenapa anak seusia Ipung tampak berpikiran dewasa. Entahlah! Yang aku tahu, ada sebuah kalimat pendeknya yang tidak akan pernah bisa aku lupakan,
“Kamu mau nggak, nikah sama aku?”
Matanya entah menjatuhkan pandangan ke arah mana, yang jelas terlihat dari bibir lelaki cilik itu hanya gerakan-gerakan lucu yang membuatku tak bisa menahan senyum saat mengingatnya. “Kata Ibuku, dia menikah dengan Om Arya karena Om Arya adalah orang baik. Nah, kamu kan selama ini baik banget ke aku, jadi aku ingin menikah sama kamu, Xa!!”
Sekali lagi aku tersenyum. Dan aku hanya bisa diam, sampai akhirnya dia mengalihkan topik pembicaraan.
Aku masih tak habis pikir, darimana dia menemukan kalimat-kalimat seperti itu? Jangan-jangan dia menirukan dialog dari salah satu scene film atau sinetron yang tidak terklasifikasi dengan baik. Aku tahu, bahkan hapal benar judul-judul sinetron dewasa dalam usiaku yang keenam. Hal itu tidak aneh, karena memang sinetron-sinetron dewasa banyak yang diputar tanpa memperhatikan waktu. Akhirnya anak-anaklah yang terkena dampaknya. Mereka dewasa sebelum waktunya. Dan aku adalah salah satu dari jutaan anak-anak yang merasa dewasa sebelum waktunya. Lalu aku menyebutnya Jatuh Cinta. Ya, aku jatuh cinta pada lelaki cilik itu, walaupun aku sendiri tidak pernah tahu, waktu itu, tentang arti cinta yang sering aku agung-agungkan. Aku hanya tahu, bahwa cinta adalah seperti apa yang diajarkan oleh sinetron. Hmp… Entahlah!
Satu bulan setelah itu, Ipung bersama Ibunya, diajak pindah ke Palembang oleh ayah barunya. Palembang memang kota kelahiran ayah barunya itu. Dan sejak saat itu pula aku tidak pernah menemuinya lagi.
Hingga hari ini. Diantara bingkai jendela ini. Diantara suara kumbang pohon dan binatang malam lain yang membuat aku kembali ke masaku yang sesungguhnya. Ke masa dimana aku termangu diantara suara dengkuran Lyan. Hmp… enaknya bisa terlelap semudah itu.
Diambil dari Novel CATATAN DIANTARA KITAB CINTA by Saeful Nurdin @ 2004
Diposkan oleh
ipung senja
di
20:48
2
komentar
Kamis, April 30, 2009
Setelah Aku Jual Pantat Artis Dangdut di Panggung Kampanye Dengan Harga Murah
"Mari kita berbagi kekuasaan!"
"Bukan. Ini bukan berbagi kekuasaan, tapi upaya membentuk pemerintahan yang kuat!"
"Nanti jika kita kalah, kita akan menyalahkan segala kebijakan dan membuka borok-borok penguasa yang menang itu!"
"Pantat-pantat artis dangdut yang kita jual murah saat kampanye legislatif akan menjadi andalan lagi sebagai pelengkap janji-janji taik kucing kita"
"Maka aku akan mensejahterakan rakyat setelah ku jual pantat artis dangdut di panggung kampanye dengan harga murah"
"Lihat! Ada partai yang katanya membela hak-hak perempuan, tapi dalam kampanyenya mengobral pantat para biduanita"
"Ada juga yang peduli terhadap masa depan bangsa, namun membiarkan anak-anak mereka menikmati pantat para artis saweran itu"
Jakarta 30 April 2009
Setelah menyaksikan rencana koalisi bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat
Diposkan oleh
ipung senja
di
15:37
5
komentar
Label: Based on True Story
Selasa, April 21, 2009
Sepotong Kata Itu (lagi-lagi) Kuambil Dari Namamu
Kerinduan ini kini pecah sudah, Apakah tak ada sepatah katapun yang mengabarkan hal itu padamu?
Rinduku dulu membuncah sangat,
Adakah kau dengar dongeng yang mengisahkan hal itu padamu?
Lalu pada siapa kuceritakan sepotong kata yang digaris bawahi mimpi-mimpi tengik seseorang bernama perawan ini?
Padamu?
Atau hanya pada bayangan-bayangan hitam berpita ungu?
Padahal sudah kutuang wajah senja itu kedalam bejana-bejana dalam pangkuan selir-selir keraton.
Maka disini, kerinduan itu pun pecah sudah,
Karena kerinduan itu mungkin saja matamu, mata yang dulu membuat mu berkali-kali jatuh cinta padaku setiap kali kau melihatku.
Kerinduan itu bisa saja hidungmu, hidung yang setiap kali kau bernafas dengannya, maka setiap helaannya adalah puisi cinta norak untukku.
Kerinduan itu bisa juga bibirmu, bibir yang tak pernah menghadiahiku sebuah kecupan sekali pun, tapi setiap senyumannya adalah kecupan termanis di ujung keningku.
Atau mungkin kerinduan itu adalah pipimu, pipi yang tak pernah terbelai tanganku tapi cukup terbelai imajenasiku karena aku yakin kelembutannya tak jauh berbeda.
Maka kerinduan itupun kini pecah sudah.
Disini. Di tempat ini.
Di ujung keletihan yang telah berkarat ini,
akhirnya aku bisa membuktikan bahwa sepotong kata yang dulu kuambil dari namamu itu masih kusimpan dengan baik.
Lalu kau pun tersenyum.
Senyum yang dulu kutuangkan dalam doa-doa para nabi.
Tak adakah kau dengar sepatah kata pun yang mengabarkan hal itu padamu?
Maka setiap kali kau tersenyum di titik pembiruan langit, aku pun tersenyum di ujung sabda para nabi.
Dan kini, aku bisa melihat senyum itu di setiap sudut mataku. Senyumku dan senyummu memecahkan bulir-bulir kerinduan dalam endapan lumpur bau diantara otak kiri dan otak kananku. Menghangatkan kebekuan di ujung klimaks kerinduan.
Maka dengarlah detak jantungku sayang! Ia seperti matahari yang membangunkanmu dari mimpi-mimpi muluk masa depan.
Hari ini aku tak membawa puisi untukmu. Tak juga meminjam kata-kata yang kunukil dari puisi ternama. Aku hanya membawa sepotong kata yang dulu kuambil dari namamu dan akan kusematkan di ujung namaku.
Maaf jika sepotong kata itu sekarang sudah sedikit tak utuh lagi. Tak sesempurna ketika pertama kali kuambil sepotong kata itu dari namamu. Segerombolan kecoak tengik diam-diam menggerogoti sepotong kata ini sehingga beberapa sisinya tercabik. Tercabik seperti kain tua yang tampak rapuh serapuh mimpi-mimpiku yang sempat hampir lebur bersama air mata.
Bagaimana aku bisa bicara sementara mimpi-mimpiku cacat digerogoti ketakutan-ketakutan yang belum tentu akan terjadi?
Maka dengan senyummu, mimpi-mimpi itu kembali utuh seperti dalam negeri dongeng, sedang ketakutan itu mencair lalu menguap tak bersisa.
Aku masih tak bisa berkata apa-apa saat melihat senyummu. Pecahnya kerinduan menyumpal mulutku, membekukan tubuhku dan mencairkan air mataku. Aku ingin berlari memelukmu seperti dalam film India, tapi tiba-tiba kakiku membatu. Sial! Pecahnya kerinduan juga ternyata telah mengutukku menjadi manusia batu. Aku berkali-kali memaki rinduku yang sial.
"Ada hati disetiap kaki..." Aku ingat potongan puisi itu. Puisi yang kau buang ke dalam selokan bau di pinggir rumahmu saat para pemuka agama menyatakan bahwa puisimu itu sesat dan menyesatkan.
Tapi bagiku, potongan puisi itu mampu menggerakkan kakiku yang terkutuk. Maka semakin dekat tubuhku dan tubuhmu, semakin meluberlah kerinduan itu pecah.
Jika kerinduan itu adalah matamu, maka ia membuatku jatuh cinta lagi padamu. Semakin dalam. Dan semakin dalam.
Ah, aku benar-benar kehabisan kata-kata. Ideku mati seketika.
"Apakah gravitasi bumi terlalu membebani mu? Jika begitu anggap saja kita sedang berada di permukaan bulan sehingga kakimu dengan mudah membawa tubuhmu padaku..."
Aku terkesima mendengar kata-katamu. Lagi-lagi aku diam. Dan hanya bisa tersenyum seperti orang gila.
"Bukan. Ternyata bukan gravitasi bumi yang membebanimu tapi kerinduan itu. Apakah boleh aku membantumu memikulnya?"
"Bukan. Sama sekali bukan. Kali ini kamu salah. Bukan gravitasi bumi ataupun kerinduan yang membebaniku, kerinduan memang sempat membekukan kakiku, tapi sama sekali tidak membebaniku, justru yang membebaniku adalah sepotong kata itu. Ya, sepotong kata itu yang kuambil dari namamu".
Tiba-tiba kau menangis. Menangis sejadi-jadinya. Maka akupun ikut menangisi tangisanmu sehingga airmata menenggelamkan tubuh kita dan menghanyutkan kerinduan itu.
Jika dalam negeri dongeng kebahagiaan adalah akhir dari cerita, maka dalam dunia kita, kebahagiaan adalah inti cerita. Karena begitulah seharusnya..
Karawang-Jakarta, 21 April 2009
Diposkan oleh
ipung senja
di
14:47
3
komentar
Kamis, Maret 26, 2009
Malaikat Palsu
Seorang pria berbadan tegap yang dilengkapi dua sayap keemasan dibalik punggungnya menghampiriku dengan tergesa. Wajahnya pucat penuh iba. Tangannya gemetar menakutkan. Dan giginya gemelutuk seperti orang kedinginan. Dengan matanya yang sayu dia menatapku sedalam nyanyian sufi yang menembus batas-batas cinta.
"Benarkah kamu seseorang yang disebut-sebut oleh penduduk langit sebagai seorang penyair wahai anak muda?". Pria itu bertanya seperti orang kesurupan dengan getaran tangannya yang semakin tak bisa dikendalikan. Atau matanya yang nanar menusuk mataku.
Aku hanya diam. Tak mengangguk, tak juga menggeleng.
"Ooo.. Sungguh tak ku percaya, selebritis dunia langit ini kini ku temui. Tak kah kau tahu anak muda, para malaikat di negeri langit sana, banyak memperbincangkanmu. Semua acara infotainment negeri langit membahas gosip-gosip tentangmu, buku-buku mencetak biografimu, catatan sejarah mencatat kehidupanmu, obrolan-obrolan ringan di warung kopi menjelma menjadi seminar akbar yang mempresentasikan karya-karyamu, film-film dan sinetron meniru alur hidupmu, entah ada berapa jalan yang mengabadikan namamu. Kau sungguh terkenal di antara penduduk langit, wahai anak muda".
Aku masih diam. Kali ini terheran-heran.
"Tak kah kau percaya, wahai anak muda?"
Pria bersayap itu mengangkat kedua telapak tangannya ke arah langit. "Ooo... Sungguh akan aku buktikan kebenaran kata-kataku ini anak muda. Akan kutunjukkan kehidupan langit yang mengagung-agungkanmu. Akan ku lepas sebelah sayap ku dan kupasang di punggung kirimu, lalu kita berpelukan sehingga sayap di punggung kananku dan di punggung kirimu mengepak-epak membawa kita terbang".
Pria bersayap itu melepas sayap emas di punggung kirinya. Terlihat beberapa bulu sayap itu rontok saat sebuah hentakkan keras melepas tulang sayap itu dari punggung kiri pria itu.
"Berikan punggung kirimu padaku wahai anak muda!". Pria itu memutar tubuhku sehingga badanku berbalik arah membelakanginya.
Dalam hitungan detik sebuah hentakkan di punggung kiriku mampu mengguncang badan tipisku. Sejurus kemudian tulang punggungku terasa ngilu dan ubun-ubunku serasa meledak. Punggungku terasa panas dan kulitnya meleleh ditembus semacam tulang rawan dari pangkal sayap emas itu. Sekuat tenaga aku berteriak. Air mataku berhamburan menahan sakit.
Pria itu menepuk pundakku, "Sudah selesai anak muda! Sekarang kau punya satu sayap, begitu juga aku. Maka kita akan bisa terbang hanya jika kita berpelukan. Untuk itu, rentangkanlah tanganmu wahai anak muda, lalu sayap kita akan menapaki tangga udara hingga mencapai negeri langit".
Aku masih menyeringai menahan rasa sakit. Sisa-sisa panas di kulit punggungku masih terasa, ngilu di tulang punggungku juga masih tersebar di sepanjang tulang. Dan kepalaku masih pening. Tiba-tiba pria itu memeluk tubuhku dengan erat. Sial. Tubuh pria itu begitu dingin. Seperti es. Wajahku yang merah berubah ungu.
Sayapku mulai bergerak. Terkibas-kibas sehingga debu-debu dekat kaki kiriku beterbangan. Dan... Ya ampun. Kakiku terangkat. Sandal jepitku yang butut hampir saja terlepas, untung jari-jariku sigap mengapit sandal bauku itu.
Badanku dan badan pria bersayap itu turun naik setiap kali sayap kami berkepak. Setiap kepakan sayap menaikkan tubuh kami ke atas sekitar satu setengah kaki. Aku melihat ke arah tanah. Semakin sayap berkepak, semakin jauh kakiku meninggalkan tanah.
Semakin tinggi, semakin ganas angin memukuli tubuhku. Beberapa kumpulan asap putih ku tembus dengan meninggalkan rasa dingin yang menggerogot tulang. Tapi matahari masih memanggang kulit kepalaku sehingga bau rambutku yang sudah satu minggu tidak keramas menyengat hidungku.
Kujatuhkan pandangan ke bawah sandal jepitku. Aku seperti melihat hamparan peta besar yang berbentuk cembung.
Lalu tiba-tiba beberapa menit kemudian pandanganku menjadi gelap. Rasanya aku tak bisa bernafas. Otakku tak bisa berpikir. Bahkan hayalanku luntur seketika, menguap diantara cakaran-cakaran lapisan bumi yang satu per satu ku tembus dan... Ah aku tak ingat lagi.
★★★
"Eh dia sadar..." Ku dengar suara seseorang dengan logat yang aneh ketika mataku mulai terbuka. Sebuah logat yang tak pernah kudengar di bumi.
Pandanganku perlahan mulai menjelas dan menangkap puluhan tubuh kekar bersayap mengelilingiku. Dalam hati aku bertanya, apakah mereka yang disebut malaikat? Wajah mereka seperti bintang film, putih, bersih dan seperti habis facial.
Beberapa diantara mereka saling berbisik-bisik satu sama lain, ada juga yang berkali-kali mengabadikanku dengan kamera foto telepon genggamnya.
Aku selebritis. Ya, seperti selebritis, apalagi ketika salah satu diantara mereka ada yang menyorotkan kamera video merk Panasonic MD 10000 ke arahku semakin membuat aku bangga. Ibu dan kelompok arisannya yang tak bisa lepas dari acara gosip pasti akan sangat bangga melihat aku ada di televisi.
"Jangan senang dulu, anak muda! Semua ini palsu. Palsu anak muda!" Teriak seorang pria bersayap satu. Ya, dia adalah pria yang tadi meminjamkan sayapnya padaku. Dan kini sebelah sayapnya entah ada dimana. Karena sayap itu sudah tidak ada lagi di punggungku.
"Apakah kamu kira kami ini adalah malaikat? Bukan! Sekali-kali bukan, anak muda! Kami adalah malaikat palsu. Malaikat palsu anak muda! Sayap ini sayap palsu, maka jangan pernah mengira bahwa negeri langit ini adalah nyata, karena semua ini palsu. Yang kau lihat disini semua adalah palsu, teman. Semua yang ada pada kami adalah palsu. Kecuali satu : Tuhan. Tuhan kami tidak palsu. Tidak anak muda! Tidak seperti kalian, kami tidak berani membuat Tuhan. Tidak seperti kalian para penyair! Hobi kalian mencari Tuhan bukan?"
Aku tersentak. Tapi beberapa detik kemudian aku sudah duduk kaku diatas kasur. Wajahku dibanjiri keringat. Baju dan celanaku basah. Aku mimpi. Ternyata hanya mimpi. Aku kesulitan mengatur nafas yang tersengal-sengal. Cahaya televisi di hadapanku mengganggu mataku. Aku kaget melihat berita di televisi : orang-orang berteriak dengan kepalan tangan di atas kepala mengatasnamakan rakyat dilatar belakangi bendera berwarna dan berlogo.
Aku kaget teringat kata-kata malaikat palsu bersayap satu tentang Tuhan palsu. Lalu akupun menangis.
Jakarta, 26 Maret 2008 jam 04:01
Diposkan oleh
ipung senja
di
04:12
1 komentar
Sabtu, Februari 28, 2009
Sepotong Kata itu Kuambil dari Namamu
Jika aku ingin menangis, apakah pundakmu cukup lebar untuk menjadi sandaran airmataku yang mulai keruh?
Jika aku ingin berlari, apakah punggungmu cukup tegap untuk menopang beban-beban harapan yang berbau amis?
Jika mataku mulai lelap, apakah nyanyianmu cukup merdu untuk mengantarkan mimpi-mimpi dalam loyang berkarat?
Puisiku, puisimu, tak cukup mengganti sepotong kata yang kulukis di atas kaca jendela bis kota yang penuh sesak.
Sepotong kata yang menggores gurat-gurat pelangi yang sederhana.
Karena sepotong kata itu kuambil dari namamu. Hanya namamu.
Maka cukup di sini. Di bis kota ini aku membayangkan bagaimana nanti pertemuan kita. Pertemuan yang akan menghabiskan sisa-sisa rindu yang dulu terbingkis rapi dibalik air mata.
Maaf, karena aku tidak membawa apa-apa untukmu. Aku hanya membawa sepotong kata yang kuambil dari namamu. Karena memang hanya itu yang aku punya.
Kau ingat? Dulu saat pertama aku meninggalkanmu, hanya sepotong kata itu yang kau titipkan padaku, maka kini saat aku kembali, hanya sepotong kata inilah yang kembali kubawa.
Tak sabar aku ingin menemuimu. Perjalanan ini sungguh sial. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Robert. T. Kiyosaki itu : Waktu memang bukan hanya berharga, tapi juga mempunyai harga. Orang-orang kaya mampu membeli waktu. Semakin singkat sebuah waktu, maka semakin mahal harganya. Lihatlah orang-orang kaya itu, mereka rela mengeluarkan uang yang lebih tinggi untuk perjalanan panjang dengan waktu yang lebih singkat, maka mereka memilih naik pesawat. sedangkan aku, si miskin ini hanya mampu membeli waktu yang panjang untuk sebuah perjalanan yang panjang pula. Aku hanya mampu membeli tiket bis, sehingga perjalananku memakan waktu yang panjang.
Kaca-kaca jendela bis kota masih menggodaku dengan bayangan wajahmu yang menggoreskan pilin-pilin warna pelangi. Tiang-tiang lampu jalan tol berkejaran di luar sana. Begitu juga dengan pepohonan. Mereka seakan memberi isyarat padaku untuk cepat menemuimu. Aku jadi iri pada orang kaya. Seandainya aku mampu membeli waktu yang lebih singkat, mungkin saat ini aku sudah ada di sampingmu.
Ah, aku tak peduli apakah aku ini miskin atau kaya, yang aku tahu orang kaya adalah orang-orang yang tak segan untuk memberi. Maka sebanyak apapun harta seseorang jika hasil dari meminta, maka sesungguhnya dia adalah seorang miskin yang miskinnya minta ampun. Bukankah itu yang sering kamu ajarkan padaku?
Bukankah itu yang sering kamu pesankan padaku?
Maka hampir saja aku menjual sepotong nama yang kamu titipkan padaku itu pada seseorang yang menawarnya dengan harga tinggi. Karena di tempatku dulu, nama adalah sesuatu yang sangat murah harganya.
Tapi tidak. Aku tidak mau menjual sepotong nama itu, karena aku merasa cukup kaya dengan memilikinya.
Maka di sini, di bis kota ini, kerinduanku membuncah sangat. Memecahkan selaput otak dan merobek pembuluh darahku.
Sepotong nama yang masih tergenggam erat ini semakin membuat jantungku lebih cepat memompa darah. Dadaku turun naik dan jari-jariku tremor sehingga mengguncangkan badanku yang mulai lelah. Lelah karena perjalanan ini memakan waktu tujuh belas jam. Dan kelelahan selama tujuh belas jam itu beberapa menit lagi akan tergantikan dengan pecahnya kerinduan dalam otakku. Ya, beberapa menit lagi kita akan bertemu. Dan kita akan memaparkan mimpi-mimpi kita dulu. Mimpi yang membuat kita terbebas dari belenggu kepecundangan. Dan lagi-lagi kamulah yang membebaskanku dari kepecundangan itu.
Kamu tahu dulu aku takut mempunyai mimpi masa depan. Apalagi mimpi-mimpi gila yang kamu miliki. Tapi hari itu, hari dimana kamu memotong namamu dan menyerahkannya padaku.
Di hari itu kamu mengatakan bahwa pada awalnya tidak ada yang terjadi kecuali mimpi. Seperti yang kamu kutipkan dari pernyataan Carl Scanburg.
Maka aku yang sebelumnya takut mempunyai mimpi sebagaimana kebanyakan orang yang menganggap semakin besar mimpi, maka semakin besar pula kemungkinan ketidak bahagiaan dan kekecewaan ketika mimpi itu tidak tercapai.
Tapi kamu mendoktrinkan kalimat Robert T. Kiyosaki, bahwa aku harus berani memimpikan hal-hal yang besar dan muluk, kemudian meraihnya sedikit demi sedikit. Maka akupun membangun mimpiku dan membuat kesempatan sendiri.
Ketika orang-orang berebut meraih kesempatan yang katanya datang hanya satu kali atau duduk termangu menunggu kesempatan itu datang, maka kamu mengajari aku bagaimana caranya menciptakan kesempatan. Ya, kamu mengajariku bagaimana caranya menciptakan kesempatan dan bukan menunggu kesempatan.
Dan kesempatan itu aku ciptakan sekarang, dengan membawa serta sepotong kata yang kuambil dari namamu dan kusematkan dibelakang namaku: Lia Septiani Nurdin, karena namamu Saeful Nurdin.
Itulah mimpiku: menyematkan sepotong namamu di belakang namaku, dan mengangkatmu menjadi imamku.
Lalu di bis kota ini aku tak bisa menahan kerinduan yang membuncah sangat.
Karawang - Jakarta
27 Februari 2009
Diposkan oleh
ipung senja
di
13:32
4
komentar
Jumat, Februari 27, 2009
Ah, Damn! Jangan-jangan Ideku Mati!
Apakah kata-kata di dunia ini sudah habis sehingga aku tak bisa berkata-kata lagi?
Padahal kulihat mereka mengobral kata-katanya dalam janji-janji di televisi.
Apakah kata-kata sudah tidak mempunyai makna sehingga tak ada arti dalam kata-kataku
Padahal kulihat mereka masih memperjualbelikan kata-katanya yang membuat mereka merasa bermakna.
Apakah kata-kata
sudah tak mencair lagi di ujung pena-ku sehingga tak ada lagi karya yang kucipta padahal kulihat buku-buku sejarah palsu masih banyak dipelajari di sekolah.
Apakah kata-kata sudah beku di ujung lidahku sehingga mulutku tak bisa bicara padahal kulihat mereka bicara tentang keadilan yang ternyata hanya memihak pada dirinya sendiri.
Ah, jangan-jangan ideku mati.
Sial.
Jakarta, 27 Februari 2009
Diposkan oleh
ipung senja
di
17:22
2
komentar
Label: Puisi
Sabtu, Februari 21, 2009
Wanita itu Bernama Peri
Wanita itu bernama peri,
jangan tanyakan siapa atau bagaimana!
Wanita itu bernama peri,
di atas kertas tujuh purnama
Sekedar pengisi pilar gading putih tanpa nama!
wanita itu bernama peri,
di ujung pena merah jingga atau cukup di bawah air mata!
Wanita itu bernama peri,
di bawah ketiak malaikat ungu bersayap satu atau hanya patung bunda tak bernyawa.
Wanita itu bernama,
LIA SEPTIANI...
Karawang, 10 September 2007
jam 12:12:34
Diposkan oleh
ipung senja
di
05:32
0
komentar
Label: Puisi
Sabtu, Februari 14, 2009
Cinta dari Seorang Ibu Tua dan Anaknya yang Kurus itu
"Apa yang kamu tahu tentang cinta, nak?" Seorang ibu tua bertanya padaku dengan suara yang hampir tak terdengar. Mataku yang sejak tadi terpaku pada barisan kalimat dalam buku kumpulan cerpen karya Seno Gumira Adjidarma, kini menatap ibu tua yang tengah sibuk menata posisi kepala anaknya yang sedang menetek padanya. Tetek-nya yang sudah keriput dengan susah payah dieksplorasi sang anak yang tampak kelaparan.
Anak itu seperti tak berdaging. Tak berlemak. Tapi perutnya buncit seperti balon mau pecah. Kepalanya botak seperti makhluk luar angkasa.
"Cinta adalah apa yang aku lihat saat ini" Jawabku sekenanya.
Ibu tua itu tersenyum.
"Kau benar nak..."
Jakarta 14 Februari 2009
Diposkan oleh
ipung senja
di
08:01
1 komentar
Label: Cerpen
Kamis, Februari 12, 2009
Cinta dan Tuhan yang Terlupakan
Ada saat dimana aku merasa semua orang yang katanya dulu sangat aku kenal, kini hanya sebatas kumpulan alien yang asing dan sungguh mengerikan. Bahkan orang-orang yang menurut mereka sangat mencintai akupun tak lebih dari sekedar seorang figuran yang mempunyai probabilitas nihil untuk meraih oscar awards.
Sanjungan-sanjungan mereka mengenai kehebatanku dalam menulis puisi, essay dan novel, kini hanya menjadi sejarah palsu untukku.
Bukan hanya itu, bahkan nama Tuhan yang dulu susah payah dikenalkan seorang wanita tua--yang katanya ibuku, kini tak ku kenal lagi.
"Tuhan apa? Apa itu Tuhan? Siapa?" Tanyaku bodoh. Maka sejurus kemudian wanita tua itu menampar ganas pipiku sebagai jawaban atas pertanyaan kejamku.
Mengerikan. Sangat mengerikan memang ketika aku harus kembali ke titik nol. Titik yang merampas semua database dalam otakku.
"Kecelakaan sialan itu merebutmu dariku La...". Teriak seorang gadis cantik yang duduk lemah di atas kursi kayu tepat di sampingku. Air mata gadis itu tak mampu ku bendung. Bibirnya bergetar puluhan scala richter. Dan tubuhnya seperti tak bertulang. Sangat lemah. Melebihi lemahnya imanku yang sempat menguap tak bersisa.
"Kenapa La? Kenapa kamu diam saja? Kenapa?"
Mataku kupaksakan terpejam. Bukan hanya karna tak sanggup memandang wajahnya yang sedih, tapi juga karna memang aku tidak mempunyai jawaban untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
Bahkan aku mungkin tidak menyimak pertanyaan itu, karna sejak tadi aku sibuk menggaris bawahi sepotong kata: "La" yang dilontarkan gadis itu. Dia memanggilku "La", karna aku tahu namaku Bala. Atau lebih tepatnya: karna aku baru tahu beberapa hari lalu bahwa namaku Bala. Ya, aku sempat lupa siapa namaku. Hingga wanita tua yang akhirnya kusebut ibu itu mengenalkan aku pada diriku sendiri.
Mengenalkan bahwa namaku Bala. Bala Akbaruddin.
"Atau kamu masih belum mengenalku La?" Gadis itu kembali bertanya kecewa. Matanya semakin tak bercahaya. Seperti selimut hitam bernama malam.
"Aku Sissy, tunanganmu, La... Entah sudah berapa kali aku mengenalkan diri padamu. Berkali-kali aku berusaha membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Dan aku sudah kehilangan akal untuk membuatmu jatuh cinta padaku lagi. Semua cara sudah aku coba. Tapi setiap kali aku bertanya padamu tentang apa yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku, kamu selalu diam.
Lalu apalagi yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku?
Padahal aku sudah menulis puluhan surat cinta untukmu yang dilengkapi puisi-puisi cinta yang dulu kamu ajari aku membuatnya, tapi aku lupa bahwa kamu sudah lupa bagaimana caranya membaca. Bahkan kata-kata itu kini termumikan dalam otak kananmu.
Berkali-kali aku menyanyikan lagu cinta yang dulu kamu sering menghujatku karna suaraku fals tak karuan, sial, aku lupa sayang, bahwa bibirmu sudah lupa bagaimana caranya bernyanyi. Dan insting mu awam terjemahkan nada.
Entah berapa kali aku bercerita tentang sepeda reyotku yang kini ban nya bocor padahal sepeda itu dulu kamu pakai untuk memboncengku pulang mengaji, ah aku lupa bahwa kamu pasti sudah lupa apa merk sepedaku. Bahkan mungkin kamu tidak tahu apa itu arti sepeda.
Sering sekali aku bercerita tentang mimpi-mimpi muluk masa depanku yang dulu kamu paksa aku memilikinya, tapi aku lupa bahwa kamu ternyata sudah lupa mimpi-mimpimu sendiri. Bahkan sungguh aku tidak tahu, apakah saat ini kamu punya mimpi atau tidak.
Aku lupa bahwa ternyata kamu lupa semuanya. Semuanya La. Kamu lupa pidato calon legislatif yang dulu kamu jadikan bahan guyonan. Kamu lupa rumus-rumus unsur dan senyawa kimia yang dulu terpasang di dinding kamarmu. Kamu lupa atas kekecewaanmu terhadap Sherlock Holmes saat berduel dengan Profesor Moriarty. Kamu lupa bagaimana caranya kamu mencium bibirku yang sebenarnya tidak pernah kamu lakukan. Kamu lupa bagaimana caranya menghapus air mataku yang sebenarnya tak pernah kamu tunjukkan. Kamu juga lupa bagaimana caranya menyematkan hiasan di rambutku yang ternyata tak pernah kamu sematkan.
Kamu lupa semuanya. Semuanya La. Dan kamu diam. Ya, hanya diam yang ternyata tidak kamu lupakan. Kamu masih hapal benar bagaimana caranya diam. Sialnya aku lupa bahwa kamu hanya bisa diam. Maafkan aku La, aku hanya ingin kamu mencintai aku. Lagi. Seperti dulu. Sebelum kamu melupakan aku. Lagi-lagi aku lupa bahwa mencintai seseorang yang tidak kamu kenal sama sekali adalah kesulitan luar biasa. Dan mengenalkan diriku padamu adalah sebuah kesulitan luar biasa yang lain. Kesulitan yang berulang kali memaksa air mataku tumpah. Maafkan aku La.."
Gadis itu menangis lagi. Dan aku diam lagi. Menutup mataku lagi. Lalu gelap menutupi semuanya. Tak setitik cahayapun menusuk mataku. Semuanya terbingkis gelap yang mengerikan. Lalu kegelapan itupun menutupi telingaku. Isak gadis itu pun raib di ujung telingaku hingga benar-benar senyap dan aku tak ingat lagi. Semuanya lenyap begitu saja. Lenyap.
***
"Almarhum ayahmu, Le! Dia pasti akan mengurungmu di kandang kambing kalau dia tahu kamu melupakan Tuhanmu!" Gumam wanita tua yang kusebut ibu itu sambil membereskan obat-obatan dan sisa sarapanku di meja kayu.
"Susah payah kami mengenalkan Tuhan padamu Le, tapi kecelakaan itu mengambil nama Tuhan dalam hati dan otakmu dalam waktu beberapa detik saja.
Coba kamu ingat-ingat lagi Le nama Tuhan mu!
Emak khawatir, jika nanti malaikat menanyai mu tentang siapa Tuhanmu, lantas kamu diam saja seperti ini. Emak malu sama malaikat, Le, terlebih sama Tuhan. Makanya Emak mohon, ingat nama Tuhan mu, Le. Emak mohon!". Dia memegang tanganku. Matanya menusuk retina mataku dengan jutaan harapan.
Aku lihat bibirnya mulai menuntunku mengingat nama Tuhan.
"Katakan: Allah!" Bisiknya pasti. Kalimatnya membuat badanku bergetar hebat. Keringatku menyembur dari berbagai celah pori-pori.
"Allah..." Ibu terus menuntunku dengan harapan bibir dan lidahku segera mengucapkan nama Tuhan.
Tapi tiba-tiba gelap kembali mencengkeram mataku. Sunyi menutupi lubang telingaku. Sekejap bau keringat ibu pun lenyap. Dan aku tidak ingat lagi. Aku kembali melupakan semuanya. Semuanya tanpa sisa.
"Bodoh!" kataku dalam hati.
Jakarta, 8 Februari 2009
Diposkan oleh
ipung senja
di
16:31
3
komentar
Label: Cerpen
Selasa, Februari 10, 2009
Lagi! Rihanna Kembali Gagal Konser di Indonesia. Ada Apa?
Rihanna, penyanyi international yang melejit namanya lewat single Umbrella setelah gagal konser di Indonesia tanggal 14 November 2008 lalu, sekarang dikabarkan kembali menunda konsernya di negeri kita.
Entah menunda, entah memang dibatalkan, saya belum mendapat informasi lebih lanjut.
Ada apa?
Apakah karena musim hujan dan umbrella-nya rusak?
Hehe..
Yang pasti bukan itu alasannya.
Rihana yang sebelumnya dikabarkan akan menggelar konser di Istora Senayan pada 12 Februari 2009 nanti, menurut penyelenggara kembali membatalkan karena sebuah insiden yang dialami penyanyi sexy itu.
Dikabarkan tiga hari sebelum jadwal manggungnya di Jakarta, kekasih Rihanna penyanyi Chris Brown, ditahan atas tuduhan penganiayaan terhadap seorang wanita bernama Robyn Rihanna Fenty.
Ya, wanita itu adalah Rihanna.
Kabarnya peristiwa itu berawal dari pertengkaran hebat antara Brown dan Rihanna usai Brown menghadiri pre-Grammy.
Rihanna dikabarkan menderita memar pada wajahnya sehingga dilakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Cedars Sinai Medical Center.
Atas dasar itulah konser Rihanna kembali di-cancel.
Bagi temans yang sudah terlanjur membeli tiket, jangan khawatir, pihak penyelenggara siap mengembalikan 100% dari biaya pengembalian tiket yang bisa diambil di tiket box tempat pembelian selama tujuh hari kerja sejak 12 Februari 2009.
Yang pasti bagi anda pelanggan axis yang membeli tiket Rihanna di Axis Center tak usah khawatir, karena pihak Axis menjanjikan pengembalian uang penuh sesuai harga tiket ditambah penawaran khusus dari axis
Jakarta, 10 Februari 2009
Diposkan oleh
ipung senja
di
21:58
1 komentar
Label: News n Info
Senin, Februari 09, 2009
AXIS presents JAVA JAZZ FESTIVAL 2009

Lagi!
AXIS membuat kejutan dengan kembali menyelenggarakan event musik terbesar : AXIS JAVA JAZZ FESTIVAL 2009.
Tidak tanggung-tanggung, event besar yang akan diselenggarakan pada tanggal 6, 7 dan 8 Maret ini akan dimeriahkan puluhan artis Jazz dalam dan luar negeri, diantaranya : 
info artis lebih lengkap, klik disini
Bagi Temans pelanggan AXIS, malah bisa dapat potongan harga sampai 50%.
Berikut harga tiket yang ditawarkan penyelenggara
1. Daily Pass Rp.350.000
2. 3 days Daily Pass Rp.850.00
3. Special Show Rp. 150.000-450.000
Buat kamu pengguna AXIS:
Hanya tinggal isi ulang sebesar Rp.50.000 dan harga tiket:
1. Daily Pass Rp.175.000
2. Special Show 6 Maret (Jason Mraz) Rp.300.000 => sold out
3. Special Show 7 Maret (Jason Mraz) Rp.350.000 untuk 500 pelanggan pertama
4. Special Show 8 Maret (Brian McKnight) Rp.250.000
Tunggu apalagi? ayo gabung!!!!
sumber : www.axisworld.co.id
Diposkan oleh
ipung senja
di
15:42
1 komentar
Label: News n Info
Senin, Februari 02, 2009
Aku Menyebutnya Cinta Bau
Cinta datang padaku dengan sombongnya. Kepalanya mendongak sehingga gigi-giginya yang melampaui batas tak mampu disembunyikan bibir jengatnya yang kusut. Gigi-gigi itu kuning dan tajam seperti bambu runcing para pejuang yang mampu melelehkan bedil-bedil menir kompeni.
Dia berkata padaku tentang Tuhan, surga, dosa dan bidadari seperti nabi-nabi yang aku cinta.
Dia bercerita padaku tentang hukum archimides, pascal, newton dan teori ekonomi klasik laiknya seorang doktor dalam sebuah orasi ilmiah.
Aku pun berpikir. Mencoba mencerna kata-katanya.
Kemudian dia berkisah tentang sebuah negeri yang dicintai Tuhannya, lalu dengan sekejap diluluh lantahkan-Nya. Diapun menangis. Menangis seperti orok. Bahkan aku tidak tahu apa yang ditangisinya
Aku tidak mengerti apa yang ada dalam otaknya.
Ah, atau jangan-jangan dia memang tidak punya otak. Toh dia memang tidak punya kepala kan?
Cinta memang tak punya kepala. Tapi sombongnya minta ampun. Ya, dia sombong. Sombong karena kalimat-kalimatnya. Sombong karena kemiskinannya.
Sombong karena nasihat-nasihatnya.
Sombong karena filosofinya.
Sombong karena pengetahuannya.
Sombong karena kejahatannya.
Sombong karena kesetiaannya.
Sombong karena ketidak sombongannya.
Dan sombong karena ketidak adaannya. Ya, dia sesungguhnya tidak ada.
Tapi dalam ketidak adaanya, dia masih bercerita. Kali ini tentang dosa yang paling mengasikkan.
Dosa yang lebih membahagiakan daripada menang lotre.
Dosa yang lebih nikmat daripada berzina.
Dosa yang lebih memuaskan daripada membunuh.
Dosa itu tak lain adalah cinta itu sendiri.
"Dosa itu bernama aku..." katanya pelan. Kali ini dia menunduk. Tak tampak lagi gigi-gigi bau nya yang menjijikkan.
Dia menangis lagi.
Cengeng benar dia itu. Padahal aku tahu dia tak punya mata atau sekedar airmata sekalipun. Dia hanya punya nama: cinta bau
Diposkan oleh
ipung senja
di
09:47
1 komentar
Label: Essay
Senin, Januari 26, 2009
Di Halaman Terakhir Oktavo
Cukup sederhana aku mengenalmu seperti nazam dalam bait anggur putih
Ingatkn aku!
Tentang serpihan keraton retak, atau puisi yang gelap jengat
Cukup sederhana aku mengenalmu, diantara gugusan bintang, atau hanya di atas dek kapal pesiar
Tentang kita, sudah kutulis dalam lembaran kitab kayu hingga menjelmakanku sesaat
Cukup sederhana,untuk mengenal,
untuk mengenang,
atau hanya untuk membual...
(diambil dari Buku Kenangan SMA Negeri 1 Karawang angkatan tahun 2004 karya ipung)
Diposkan oleh
ipung senja
di
18:40
2
komentar
Label: Puisi
Tautan Sahabat
Blog Archive
-
▼
2009
(22)
-
►
Februari
(8)
- Sepotong Kata itu Kuambil dari Namamu
- Ah, Damn! Jangan-jangan Ideku Mati!
- Wanita itu Bernama Peri
- Cinta dari Seorang Ibu Tua dan Anaknya yang Kurus ...
- Cinta dan Tuhan yang Terlupakan
- Lagi! Rihanna Kembali Gagal Konser di Indonesia. A...
- AXIS presents JAVA JAZZ FESTIVAL 2009
- Aku Menyebutnya Cinta Bau
-
►
Februari
(8)
Tentang Gue
- ipung senja
- namaku_senja aku hidup di ufuk rindu, Tempat dimana hukum Theorema Phytagoras tak berlaku... :d




